Menanti Potensi Tersimpan SBY

Beberapa hari ini, kita mendengarkan keluhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang perilaku yang ditampilkan oleh para pengunjuk rasa belakangan ini. Isinya seputar etiket meski kata yang digunakan adalah etis, kata sifat dari etika.

Etiket berurusan dengan so- pan santun, kepantasan menurut norma masyarakat tertentu, dan tata cara bertingkah laku yang dianggap memadai. Etika adalah cabang filsafat yang mengkaji persoalan baik-buruk. Penekanan keluhan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lebih pada perilaku demonstran yang berlebihan, tak sejalan dengan budaya, nilai, dan pranata sosial pada etiket.

Mementingkan etiket

Tentu etiket penting, seperti diisyaratkan sastrawan Amerika Mark Twain, ”Etiquette requires us to admire the human race.” Etiket bisa menghindarkan manusia dari pertikaian tak perlu karena menekankan pentingnya menjaga perasaan orang lain.

Namun, etiket bukan monopoli orang baik. Diana LaVey, salah satu pendiri Gereja Setan kelahiran Chicago, pun mementingkan etiket. Katanya, ”The devil is and always has been a gentleman.” Ada pula pendapat yang tidak mementingkan etiket seperti yang diungkapkan Ratu Maria (1734 –1816) dari Portugal, ”Fashion exists for women with no taste, etiquette for people with no breeding.”

SBY tampaknya termasuk yang mementingkan etiket, mementingkan penampilan dan citra diri yang baik. Cukup sering terdengar ia mempersoalkan hal yang terkait penampilan, seperti mengomentari kekotoran WC sebuah SD, menanggapi tumpukan sampah di Bandung, dan kini mengeluhkan perilaku demonstran yang membakar dan menginjak-injak foto serta membawa kerbau yang ditempeli fotonya. Di setiap kesempatan kita saksikan SBY tampil santun dan rapi dengan gerak-gerik teratur dan kata-kata tertata.

Merujuk Alfred Adler (1964), yang ditampilkan SBY ialah satu ciri tipikal anak tunggal: cenderung menjaga perhatian tetap tertuju kepadanya, menghindari konflik yang mungkin membuatnya jadi orang tak disukai. Menampilkan diri sebaik mungkin di depan orang lain adalah cara memperoleh perhatian itu. Jika berhasil, anak tunggal akan tampil sebagai orang memesona dan berprestasi. Kita bisa saksikan: SBY berhasil dalam hal itu. Setidaknya mayoritas orang Indonesia dalam dua pemilu terakhir memilihnya jadi presiden. Ia jadi anak tunggal yang memesona.

Persoalannya, kecenderungan berlebih menjaga penampilan dan citra diri dapat mengarahkan anak tunggal cenderung mengabaikan substansi karena perhatiannya lebih kepada style, gaya yang tampil di permukaan. Dalam sebuah survei yang melibatkan 2.198 responden, kesan itu diperoleh dari SBY (Takwin dkk, 2009).

Ada indikasi: SBY lebih aktif menjaga citra diri. Di sisi lain, ia cenderung tampak pasif menghadapi berbagai pertikaian, membiarkan orang-orang yang bertikai menyelesaikan masalah mereka sendiri, memilih jadi pihak netral, bahkan ketika ia punya wewenang dan kewajiban ikut serta di sana. Ia cenderung pasif menghadapi persoalan genting dan prinsipiil, sementara aktif mengurusi hal-hal permukaan.

Dalam pandangan Carl Gustav Jung (1875-1961), dirinci oleh Carol S Pearson (1991), yang ditampilkan SBY sebagai anak tunggal yang memesona merupakan perpaduan ciri polos (arkhetip innocent) dan yatim piatu (orphan). Orang yang dominan polos selalu berusaha mempertahankan citra diri yang baik, taat norma sosial, menjalankan peran sosial, tak menyakiti orang lain, tak banyak bicara, dan pasif. Setiap orang polos selalu berusaha tampil sesuai dengan masyarakatnya.

Yatim piatu dicirikan oleh pola perilaku menghindari situasi yang menyakiti diri sendiri, menghindari konflik, menjaga agar orang tidak telantar atau jadi korban, menekankan pentingnya prihatin, berhemat, menjaga kebersihan, menahan ambisi pribadi, mengikuti pendapat umum, dan menjaga harga diri.

Tujuan utama orang dengan ciri yatim piatu adalah memperoleh rasa aman, takut dirinya dieksploitasi dan jadi korban, sangat hati-hati menanggapi tugas dan kritik, serta sering merasa disakiti dan diperlakukan buruk oleh pihak lain. Cerita SBY tentang dirinya menjadi target teroris, juga merasa difitnah atau dinilai secara tak proporsional, merupakan indikasi dari pengaruh orang berciri yatim piatu.

Keutamaan orang berciri yatim piatu adalah senang bekerja sama, realistis, dan mampu galang solidaritas. Namun, di saat merasa terdesak atau tertekan, ia memiliki ketergantungan tinggi kepada orang atau kelompok tertentu, cenderung menghindari kelompok lain karena takut dimanfaatkan, dieksploitasi, atau dijadikan korban. Orang yang didominasi ciri yatim piatu tidak mesti yatim piatu dalam kenyataannya: penghayatan sebagai yatim piatu di sini bersifat subyektif.

Harapan kepada SBY

Karakter anak tunggal yang memesona sebenarnya bisa jadi modal untuk melangkah ke tingkatan psikis berikutnya: warrior (pejuang) yang ciri-cirinya kita kenal pada para pahlawan. Banyak pahlawan besar dalam sejarah, juga dalam mitologi Timur dan Barat, berangkat dari kondisi polos dan yatim piatu. Dua ciri itu psikologis dikenali oleh setiap orang dan dinilai positif. Kepolosan dan status yatim piatu menggugah simpati. Bisa jadi terpilihnya SBY sebagai presiden dipengaruhi oleh citranya yang polos dan dianggap korban perlakuan tak adil.

Persoalannya, mampukah SBY memanfaatkan modal psikologisnya itu mengembangkan diri lebih lanjut sebagai presiden?

Kesan saya: belakangan ini alih-alih menggunakan kedua modal itu, ia malah mempertahankan keduanya. Lebih dari lima tahun jadi presiden, usaha mempertahankan kepolosan dan sifat yatim piatu lebih menonjol. SBY hampir tak pernah tampil sebagai pahlawan yang berani secara tegas (tak mesti frontal) menunjukkan diri sebagai orang yang sungguh-sungguh memperjuangkan nasib rakyat.

Popularitas SBY yang turun terus merupakan akibat belum tampilnya keberanian itu. Awalnya, sang anak polos dan tampak lemah sendirian itu menarik sim- pati dan dukungan. Kebaikannya menggugah orang berharap: memilihnya menjadi semacam ”juru selamat” yang bisa memperbaiki keadaan.

Jika kepolosan dan sifat yatim piatu yang terus ditampilkan, orang bisa bosan, bahkan kesal dan marah. Ada rasa sia-sia telah memilihnya, kecewa bahkan frustrasi menumpuk menyaksikannya tak menampilkan perilaku yang diharapkan. Penumpukan frustrasi bisa jadi bahan bakar bagi keinginan mengganti, menurunkannya. Bisa jadi orang merasa bersalah telah memilihnya, merasa bertanggung jawab mencari alternatif: orang baru yang lebih pantas jadi pahlawan. Jika tak ada juga tanda kepahlawanan darinya, kesabaran banyak orang tak dapat dipertahankan. Apalagi bila kebijakan yang diambilnya justru malah memperburuk keadaan.

Masih adakah harapan bagi SBY? Bisakah ia jadi pahlawan yang menampilkan sifat satria, mau berkorban demi kesejahteraan rakyat? SBY punya banyak kesempatan menunjukkan bahwa pilihan rakyat Indonesia tak salah. Saat jadi pahlawan itu masih terbuka untuknya: sekarang. Jadi pahlawan sekarang juga.

Bagus Takwin

Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Diterbitkan di:  on Februari 5, 2010 at 04:08 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: , ,

Al Qaeda Dikabarkan Akan Lakukan Serangan

Kamis, 4 Februari 2010 | 03:54 WIB

Washington, selasa – Al Qaeda dan jaringannya akan kembali berupaya melakukan serangan teroris di Amerika Serikat dalam waktu hingga enam bulan ke depan. Hal itu disampaikan Direktur Intelijen Nasional Dennis C Blair, Selasa (2/2) di Washington di hadapan komite intelijen Senat.

Meskipun jaringan Al Qaeda tetap menjadi ancaman tertinggi bagi AS, Blair memperingatkan, meningkatnya ancaman serangan siber dalam beberapa bulan mendatang juga harus mendapat perhatian serius. Serangan siber dari China belum lama ini adalah ”seruan kewaspadaan”.

”Al Qaeda memelihara tujuan mereka untuk menyerang tanah air kita, kemungkinan besar dengan sebuah operasi berskala besar yang bisa menimbulkan korban dalam jumlah besar, mengganggu ekonomi AS, atau keduanya,” kata Blair seperti dikutip The Washington Post.

Didampingi Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA) Leon Panneta dan Direktur Biro Investigasi Federal AS (FBI) Robert Mueller, Blair mengatakan, ancaman itu bisa dikatakan ”pasti”.

”Kekhawatiran terbesar dan yang membuat saya bangun di waktu malam adalah Al Qaeda dan sekutu serta afiliasinya bisa menyerang Amerika Serikat dengan cermat,” kata Panneta.

Direktur CIA itu menguraikan, Al Qaeda telah mengadaptasi metode yang membuat rencana mereka makin sulit dilacak, dengan mengubah pola serangan dari sebelumnya berkala besar menjadi serangan lebih kecil, tetapi melibatkan sejumlah pelaku. Serangan-serangan akan dilakukan sejumlah individu tanpa latar belakang terorisme.

Panneta mencontohkan serangan pada Natal lalu, di mana pelaku memiliki visa AS, tetapi sedikit sekali riwayat keterlibatannya dengan kelompok teroris. ”Jelas sekali mereka memutuskan untuk menggunakan orang seperti itu dalam periode waktu yang singkat,” ujarnya.

Dia ditanyai mengenai penanganan Umar Farouk Abdulmutallab, tersangka pelaku pengeboman pada hari Natal 2009 yang gagal. Menjawab itu, Blair mengatakan, keputusan untuk mendakwa tersangka teroris di sebuah pengadilan kriminal atau komisi militer harus diputuskan berdasarkan kasus per kasus.

Ancaman-ancaman baru

Blair dan Panneta juga memperingatkan ancaman-ancaman baru dari sekutu-sekutu regional Al Qaeda, seperti Al Qaeda di Semenanjung Arab. Beberapa kelompok juga bermaksud meningkatkan serangan terhadap AS dan target Barat lainnya. Hal itu bisa dilakukan meski pemimpin Al Qaeda tengah berjuang untuk bisa menancapkan kakinya di negara yang selama ini menjadi pijakan. Hal itu tetap bisa dilakukan meski Al Qaeda menghadapi kemunduran popularitas di dunia Muslim.

”Mereka bergerak ke tempat-tempat aman lain dan simpul-simpul regional, seperti Yaman, Somalia, wilayah Magribi, dan lainnya,” kata Panneta.

Ditambahkan, kelompok yang terinspirasi Al Qaeda telah berhasil mengirimkan individu-individunya ke AS, tetapi rencana teroris mereka di AS, terutama Colorado dan Chicago, berhasil digagalkan.

Direktur FBI mengatakan, badan-badan kontraterorisme telah menyerap pelajaran dari upaya pengeboman 25 Desember dengan pesawat Northwest di atas Detroit. Meski demikian, disampaikan bahwa upaya-upaya di masa depan tidak bisa dihindari dan bisa terjadi segera.

Diterbitkan di:  on Februari 4, 2010 at 14:31 Tinggalkan sebuah Komentar

Kegaduhan Gurita Cikeas

DEMOKRASI tidak selamanya pilihan enak, tetapi pilihan pahit yang harus dirawat dengan ketabahan untuk kemudian menjadi sebuah realitas manis. Reformasi yang telah berjalan satu dasawarsa di Indonesia adalah kesadaran kolektif kita untuk memilih yang pahit itu.

Demokrasi yang memberi tempat terhormat pada kebebasan pasti memunculkan kegaduhan. Tetapi, dialog adalah semangat resolusinya. Dengan dialog, konflik diselesaikan tanpa kekerasan. Pilihan itu dilengkapi lagi dengan hukum yang berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Demokrasi akhirnya seperti pertandingan sepak bola. Ada yang cedera, patah kaki, babak belur, masuk rumah sakit, tetapi tetap taat pada keputusan wasit dan menjunjung tinggi sportivitas. Itulah yang menyebabkan sepak bola nikmat bagi penonton, juga nikmat bagi pemain.

Inilah ilustrasi demokrasi yang kita hadirkan untuk menanggapi kegaduhan tentang buku ‘Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century’. Inilah buku yang menulis tentang sesuatu yang selama ini dipergunjingkan soal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara berani dan terbuka. Penulisnya adalah George Junus Aditjondro, wartawan yang kini menjadi ilmuwan.

Bila selama ini tidak ada lembaga atau orang yang berani menulis seperti Aditjondro, persoalannya adalah pada kekurangan legitimasi. Kekurangan data dan verifikasi. Perkara yang fundamental dalam penulisan sebuah buku.

Namun, bagi Aditjondro, legitimasinya ada. Sebagian besar data dalam bukunya dihimpun dari berita-berita di surat kabar yang tidak pernah dinyatakan salah atau fitnah. Hebatnya, Aditjondro menerima tantangan digugat ke pengadilan bila bukunya itu berisi cerita bohong dan fitnah.

Sejauh ini, memang, belum ada perintah siapa pun untuk melarang peredaran buku ‘Gurita Cikeas’. Tetapi, buku itu telah menghilang dari toko-toko buku. Sebagian karena kesadaran toko buku untuk tidak memperkeruh suasana. Tetapi, sebagian lagi mengaku menerima telepon dari pihak-pihak yang menghendaki mereka tidak menjual buku tersebut.

Undang-undang hanya membolehkan Kejaksaan Agung yang memiliki wewenang untuk melarang peredaran sebuah buku. Tetapi, sampai sejauh ini Kejaksaan Agung mengaku belum memerintahkan apa-apa tentang ‘Gurita Cikeas’. Berarti ‘Gurita Cikeas’ boleh beredar.

Bila menghormati tradisi akademik, buku Aditjondro harus dilawan dengan buku juga. Atau pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh buku itu meminta Aditjondro menerbitkan edisi revisi.

Adalah dilematis bagi Presiden Yudhoyono. Terlalu sering berkonflik terbuka di depan publik soal fitnah dan pencemaran nama baik bisa-bisa meruntuhkan kredibilitas. Bila dibiarkan, semakin banyak muncul orang yang pasang badan untuk berkonflik dengan data-data mentah. Misalnya kelompok Bendera yang sampai sekarang ‘ngotot’ dengan kebenaran data mereka tentang uang Century yang mengalir ke kalangan Cikeas.

Pilihan terpahit adalah ke pengadilan. Hanya, bila itu dilakukan dan pada akhirnya ‘Gurita Cikeas’ dilarang, ini adalah malapetaka bagi dunia perbukuan. Orang bijak bilang, “Membakar buku adalah kejahatan. Tetapi kejahatan sesungguhnya adalah buku yang tidak dibaca.” Baik karena dilarang ataupun dibakar.

Diterbitkan di:  on Desember 29, 2009 at 10:47 Tinggalkan sebuah Komentar
Tags: ,