TATA PEMERINTAHAN; Kabinet seperti Tumpeng

Membuat tumpeng itu gampang-gampang susah. Gampang karena hanya membuat nasi dicetak dalam bentuk piramida diletakkan di atas nampan, di sekelilingnya diberi rupa-rupa lauk-pauk.

Menjadi sedikit susah kalau sudah memasukkan tujuan pembuatan tumpeng, yaitu agar yang punya hajat dan yang menyantap tumpeng itu mendapat berkah keselamatan. Jadi, tidak sekadar yang penting kenyang layaknya menyantap hidangan di warung. Tumpeng harus ditata dengan cita rasa tinggi.

Seorang koki tumpeng harus paham syarat wajib, syarat penunjang, serta syarat kelayakan dan kepatutan tumpeng. Untuk menjadi tumpeng yang paripurna, syarat wajibnya adalah harus ada telur ayam rebus, sayur-sayuran, dan parutan kelapa.

Komponen ini mengandung makna. Bentuk tumpeng seperti gunung atau piramida memaknakan agar yang terlibat dalam pertumpengan memperoleh derajat yang tinggi. Derajat manusia di hadapan Tuhan bukan berdasarkan kekayaan, kepangkatan, dan status sosial, melainkan pada kadar takwanya. Tumpeng mengingatkan manusia untuk bertakwa.

Telur rebus terdiri dari kuning sebagai perlambang perempuan dan putih sebagai laki-laki. Hal ini mengingatkan agar manusia selalu ingat asal-muasalnya. Pada gilirannya, manusia juga akan kembali ke tempat yang sama asalnya atau paraning dumadi.

Ada sayur-mayur yang biasanya direbus. Hal ini memaknakan agar manusia memelihara kesuburan alam, mengingatkan manusia sebagai wakil Tuhan di atas bumi yang bertanggung jawab memelihara kebaikan alam.

Adapun parutan kelapa, entah sebagai serundeng atau bumbu urap, bermuatan nasihat agar menjadi manusia yang totalitas hidupnya berguna seperti kelapa. Pohon kelapa, mulai dari akar sampai lidinya, bermanfaat.

Adapun syarat penunjang itu agar tumpeng lebih menggairahkan, misalnya ada ayam panggang, sate sapi, buntut goreng, sambal goreng kentang, dan mi.

Syarat kelayakan dan kepatutan menyangkut format tumpeng beserta kelengkapannya bisa dimakan dengan lezat. Dengan demikian, komposisi tumpeng itu tidak boleh kurang dan tak boleh berlebihan.

Seperti tumpeng

Gampang susahnya menyusun tumpeng itu mirip dengan menyusun kabinet. Urusan gampang jika sekadar mengisikan orang pada jabatan. Susah karena menyusun kabinet ada tujuan mulia yang hendak dicapai, misalnya bisa membantu presiden agar dapat menjalankan pemerintahan yang solid, efektif, efisien, dan bersih. Pemerintah yang berkah dan manfaatnya bisa dirasakan rakyat.

Wajar kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan syarat dan kontrak kinerja yang harus dipenuhi calon menteri. Apalagi, walau penentuan kabinet itu hak prerogatif Presiden, tak semua kandidat dijaring sendiri oleh Presiden. Sebagian hasil sodoran partai politik peserta koalisi.

Persoalannya, figur yang disodorkan parpol belum tentu semata-mata atas dasar syarat yang ditetapkan Presiden. Ada saja yang dicalonkan karena sebagai pimpinan partai, kedekatan dengan pimpinan partai, atau karena mempunyai sumbangan yang memadai kepada partai.

Padahal, tantangan pemerintahan Yudhoyono periode kedua tak lebih ringan dari periode pertama. Seperti tumpeng, jika bahannya tak pas dipilih, bukan kemaslahatan yang diperoleh, apalagi berkah, melainkan persoalan. Bahkan, bisa menjadi masalah hukum.

(Anwar Hudijono)
Kompas, Senin, 26 Oktober 2009

2 thoughts on “TATA PEMERINTAHAN; Kabinet seperti Tumpeng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s