LIU THAI-KER Penata Kota Singapura

Liu Tai Ker perancang kota Singapura
Liu Thai Ker

Mendekati usia 80 tahun, Liu Thai-Ker tidak mau berhenti berkarya. Negerinya, Singapura, telah ia tetapkan menjadi kanvas besar yang tak bertepi. Kanvas tempat ia menuangkan segala ide dan kreasinya untuk menjadikan kota sekaligus negara itu lebih baik.

Laki-laki yang disebut warga serta pemerintah setempat sebagai bapak penata kota Singapura itu kini tengah mendorong agar negara seluas 719,1 kilometer persegi tersebut mempersiapkan diri menghadapi pertambahan penduduk hingga 10 juta jiwa atau sekitar dua kali lipat saat ini. Ia bersemangat bercerita saat mengobrol singkat dengan Kompas, di sela-sela World Cities Summit 2016 di Singapura, 9-13 Juli.

”Penduduk, warga negara, adalah aset paling berharga dan tidak akan pernah habis. Pembangunan yang dirancang baik untuk bisa melayani mereka pasti menggerakkan banyak sektor yang akan menjadi penjamin kehidupan kota itu sendiri di masa kini dan masa depan. Jadi jangan takut dengan urbanisasi,” kata Liu.

Mengelola dan melayani warga tidak mudah. Tahun 1960-an ketika Singapura baru merdeka, penduduknya 1,89 juta, sekitar 1,3 juta di antaranya hidup di kawasan kumuh. Ada krisis identitas akut. ”Tidak ada yang merasa sebagai orang Singapura, adanya orang Melayu, China, dan India,” ujarnya.

Pemerintah Singapura saat itu melihat kerapuhan sosial yang terjadi terutama disebabkan kemiskinan parah yang menjerat warga. Hak atas tempat tinggal layak, pekerjaan dengan penghasilan baik, serta kehadiran pemerintah sebagai penolong warga belum terlihat.

Berangkat dari kondisi itu, pemerintah memutuskan membangun pulau seluas sekitar 500 kilometer persegi (sebelum melakukan reklamasi) menjadi kota taman, di mana setiap penghuni harus punya rumah dengan lingkungan yang baik.

Langsung di bawah komando Perdana Menteri Lee Kuan Yew kala itu, tangan dingin Liu memberikan andil besar dalam mewujudkan mimpi merumahkan warga Singapura di tempat tinggal layak. Langkah ini menjadi tonggak awal perubahan Singapura dari negara dunia ketiga menjadi negara maju kaya raya.

Pemimpin pembelajar

Liu mengikuti orangtuanya pindah ke Singapura setelah Perang Dunia II. Liu kecil menamatkan sekolah dasar hingga menengah di Singapura. Pada 1956-1969, ia belajar sekaligus praktik kerja di dunia arsitektur dan perencana urban di Australia serta Amerika Serikat. Di sela-sela waktu belajar dan bekerja, ia sempatkan mendalami dunia seni, khususnya seni lukis, yang ia sukai.

”Tahun 1969, saya kembali ke Singapura dan bergabung di Housing and Development Board (HDB) sebagai Kepala Unit Desain dan Penelitian. Saya belajar mendengar apa kebutuhan dan keinginan orang tentang rumah impian mereka. Lalu menuangkannya dalam desain perumahan vertikal dan lingkungan hijau di sekelilingnya. Juga bagaimana mendesain perumahan untuk warga dari berbagai etnis,” katanya.

Pemerintah Singapura mengawinkan program penyediaan rumah dengan angkutan publik, lapangan pekerjaan, fasilitas pendidikan dan kebutuhan dasar lain, seperti ketercukupan bahan pangan.

Setelah sekitar 20 tahun di HDB, Liu dipercaya menjadi CEO dan Kepala Perencana Kota di Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura. Liu makin berpikir bahwa kota adalah kehidupan warga itu sendiri. Jadi, kebutuhan warga yang paling mendasar hingga pengembangan diri masing-masing menjadi fokus bagaimana kota ini harus dibangun.
LIU THAI-KER
LAHIR:
Muar, Johor, Malaysia, 23 Februari 1938
KELUARGA:
Liu Thai-Ker menikah dua kali. Istri pertama: Marta Mikes. Istri kedua: Gretchen Liu
ANAK:
• Kristof
• Eszter
• Janos
• Daniel
• Kristin
PENDIDIKAN:
• 1956: Sydney Technical College, Sydney, Australia
• 1957-1962: School of Architecture, University of New South Wales, Sydney
• 1963-1965: Architecture Graduate School, University of Yale USA
• 1995: Doctor of Science (honoris causa), University of NSW
KARIER:
• 1969-1989: Housing and Development Boarding (HDB) Singapura, terakhir sebagai CEO HDB
• 1989-1992: CEO and Chief Planner of the Urban Redevelopment Authority (URA)
• 1996: Chairman, National Arts Council (NAC)
• 2016: Chairman, Centre for Liveable Cities (CLC) Advisory Board

Oleh: NELI TRIANA
Sumber: Koran Kompas 5 September 2016

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s