Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia

Dalam perbincangan dan diskusi beberapa waktu lalu dengan Sheikh Taufiq Ramadhan Al-Buthi, ada yang menarik perhatian dari yang dipaparkan oleh Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus tersebut. Hal tersebut adalah soal pandangannya sebagai ”lingkaran Muslim” memandang cara beragama orang Islam di Indonesia.

Selain keberhasilan memadukan Islam dengan demokrasi, Taufiq memuji terutama keberhasilan bertoleransi dan hidup damai dalam pluralitas. Lingkaran Muslim, meminjam istilah Taufiq, adalah terma yang disematkan untuk penduduk Muslim Barat Daya (atau Timur Tengah dalam perspektif orang Barat). Artinya yang dimaksud dengan lingkaran Muslim adalah penduduk negara-negara Islam yang berada di negara-negara Teluk.

Terma lingkaran Muslim tampaknya semakna dengan Arab Spring yang sempat digagas sekitar tahun 2011 lalu. Banyak kalangan menilai bahwa Arab Spring adalah tonggak revolusi negara-negara Arab. Apa tujuannya? Tujuannya adalah ingin mewujudkan tatanan negara kehidupan yang adil dan makmur. Naif memang, keadilan dan kemakmuran harus dibayar dengan pertumpahan darah dan juga korban.

Di hadapan realitas yang demikian tersebut, Taufiq, menaruh rasa optimisme bahwa Islam bisa menyajikan wajah damai, dan itu contohnya ada di Indonesia. Islam bisa tidak saja berdampingan, tetapi juga melebur, memeluk, dan bersenyawa dengan budaya, nilai-nilai keluhuran dan kearifan, serta sistem pemerintahan yang demokratis.

Dunia hari ini, diakui atau tidak, masih menjadikan Islam model negara Barat daya sebagai representasi wajah Islam itu sendiri. Hal ini memang bisa dimaklumi, sebab Islam bertumbuh dan berkembang di kawasan negara-negara Teluk tersebut. Namun, bukan berarti pemakluman tersebut membenarkan. Sebab, pada kenyataannya Islam juga bertumbuh jauh melampaui sekat-sekat geografis, teritorial, dan demografis negara-negara Teluk tersebut. Dan, salah satunya di Indonesia.

Kiblat keislaman

Indonesia saat ini memiliki peluang besar untuk menjadi kiblat keislaman dunia. Di saat negara lain sibuk dengan konflik horizontal, sektarian, dan pemerintahannya, Indonesia justru sudah jauh melesat menyuguhkan sebuah cara beragama yang damai, saling menghormati, saling tepa selira, bertoleransi, dan juga saling mengisi.

Pada etape ini saya teringat dengan KH Mustofa Bisri (2015) yang mengatakan bahwa yang paling utama harus diperbaiki sebagai seorang yang beragama adalah kesadaran dan keyakinan diri. Artinya, kita sebagai seorang yang berkeyakinan harus bisa menyelesaikan ”keyakinan” dalam diri kita sendiri sehingga tidak mudah ketakutan akan ancaman-ancaman atau segala sesuatu yang akhirnya dinamakan dengan gejala ”fobia” itu.

Di Indonesia, banyak peristiwa sehari-hari yang bisa dijadikan rujukan untuk membuktikan kerukunan antarkeyakinan. Di Malang, kita masih ingat ada sebuah gereja yang meminjamkan lahan parkir dan pelatarannya untuk menampung membeludaknya jemaah shalat Idul Fitri. Ini contoh nyata toleransi di Indonesia tidak hanya berhenti pada konsep saling menghargai, tetapi lebih dari itu makna toleransi secara praksis adalah tindakan saling mengisi.

Pada tataran inilah hemat saya Indonesia layak menjadi kiblat model keberislaman dunia. Islam yang sejuk dan mendamaikan sesama. Islam yang memahami makna berbeda untuk saling mengisi dan hidup mesra berdampingan bersama.

Dalam pada itu, sepenuturan Presiden Joko Widodo seusai kunjungannya ke negara-negara Eropa (23/4), banyak negara mengapresiasi peran Indonesia dalam membangun perdamaian dunia melalui pengembangan Islam yang moderat, toleran, demokratis, serta tidak ekstrem.

Nasionalisme ulama

Senyampang dengan hal itu, kekuatan besar dalam menyuguhkan Islam yang damai dan harmonis, meminjam analisis Said Aqil Siroj (2015), terletak pada kepahaman sekaligus kesadaran transendental dari ulama-ulama Indonesia akan pentingnya berbangsa dan bernegara. Konsep Hubbul wathon minal iman (mencintai tanah air adalah sebagian dari iman) yang digagas oleh KH A Wahab Hasbullah adalah bukti nyata bahwa nasionalisme itu menjadi isu penting yang harus diperhatikan. Dan, di negara-negara Teluk tampaknya hal ini tidak kita temui.

Dua kutub tersebut, yakni Islam yang damai dan toleran dengan semangat nasionalisme yang lahir dari konsepsi ulama- ulamanya, menjadi alas dasar mengapa Islam model Indonesia laik untuk diangkat dan ditawarkan kepada dunia sebagai wajah Islam alternatif. Pola keberislaman semacam itu di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) diistilahkan dengan Islam Nusantara. Sebuah keberislaman model masyarakat Islam yang ada di gugusan pulau Nusantara.

Salah satu usaha otentik yang diusung NU guna menawarkan sebuah keberislaman yang sejuk dan damai itu dituangkan dalam perhelatan International Summit of the Moderate Islamic Leaders(Isomil) yang digelar di Jakarta 9-11 Mei ini. Tema yang diangkat dalam perhelatan tersebut adalah ”Islam Nusantara: Inspirasi dan Solusi untuk Peradaban Dunia”. Tidak kurang dari 40 pemimpin negara-negara Muslim dijadwalkan ikut aktif berdialog, berdiskusi serta merumuskan langkah konkret dan solutif untuk mengusung wajah Islam yang damai guna menciptakan tatanan kehidupan yang memayu hayuning bawana.

Oleh : A Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Mei 2016, di halaman 7 dengan judul “Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s