Masa Depan Yaman

Krisis politik yang terjadi di Yaman saat ini, selain disebabkan warisan buruk pemerintah sebelumnya dan campur tangan asing, juga disebabkan sejarah, politik, dan doktrin Syiah Zaidiyah.

Terbentuknya sekte Zaidiyah pada abad ke-9 tak pelak merupakan peristiwa politik dan keagamaan paling penting setelah Yaman masuk Islam pada 628. Meskipun berada di bawah berbagai dinasti yang berkuasa (Ayyubiyah, Rasuliyah, Tahiriyah, dll) atau kekuasaan monarki-monarki di kawasan ini, kaum Zaidiyah mengukuhkan diri sebagai mazhab dominan di dataran-dataran tinggi. Pandangan- pandangannya tentang masalah keyakinan, moral, organisasi sosial, keadilan, perpajakan, dan banyak lagi aspek perangai manusia—kecualipandangan hukum pidana yang tetap berada di bawah hukum kesukuan—mendominasi kehidupan kebanyakan orang Yaman.

Kilas sejarah

Zaidiyah merupakan mazhab Syiah paling moderat dan dekat dengan Sunni. Jumlah penganutnya tak kurang dari 40 persen dari 23 juta penduduk Yaman. Apabila ditambah dengan Syiah Dua Belas Imam (Itsna’asyariah) dan Syiah Tujuh Imam (Ismailiyah) yang menghuni wilayah Sana’a, jumlah total Syiah sekitar 45 persen. Fikih Zaidiyah hampir tidak bisa dibedakan dari Syafi’i. Ia juga mengakui tiga Khalifah ur-Rasyidin (Abu Bakar As-Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan), meski khalifah keempat (Ali bin Abi Thalib) lebih utama.

Pada pertengahan abad ke-17 (1644), pemerintahan imamah Zaidiyah berhasil berkuasa di seluruh Yaman. Namun, suksesi yang tidak mengikuti mekanisme kohesif, pertikaian keluarga, dan hilangnya kesetiaan suku membawa kemerosotan pada dinasti ini. Pemerintahan Zaidiyahmenghadapi rongrongan kian besar pada abad ke-19, saat wilayahnya diduduki Inggris, Imperium Ottoman, dan pasukan Sultan Muhammad Ali dari Mesir. Intensitas persaingan Inggris dan Turki meningkat seiring Terusan Suez dibuka pada 1869.

Pada 1905, Inggris dan Turki membagi Yaman jadi dua: wilayah selatan dikuasai Inggris dan wilayah utara dikuasai Turki. Namun, pemerintahan imamah Zaidiyah tidak mengakui garis batas itu dan pendudukan Turki terus menghadapi perlawanan. Selepas Perang Dunia I, Turki meninggalkan Yaman. Tinggal Inggris di selatan.

Seminggu setelah Imam Ahmad bin Yahya wafat (1962), terjadi pemberontakan kaum nasionalis terhadap pemerintahan imamah yang konservatif. Apa yang disebut revolusi di Yaman utara ini berakhir setelah perang saudara selama enam tahun dengan kemenangan di pihak kaum nasionalis yang disebut kaum Republikan atas pendukung imamah yang disebut Royalis.

Saudi, Jordania, dan Israel mendukung kaum Royalis, sedangkan Mesir di bawah Gamal Abdul Nasser mendukung kaum Republikan. Namun, kemenangan kaum Republikan ini tak serta-merta membawa pada penyatuan Yaman karena pada 1967 kaum sosialis berhasil mengusirInggris dan mendirikan Republik Demokratik Rakyat Yaman. Sementara kaum Republikan mendirikan negara di utara dengan nama Republik Arab Yaman.

Pada 1990, kedua Yaman bersatu menjadi Republik Yaman. Akibat dukungan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh terhadap Irak yang menginvasi Kuwait (1990), Arab Saudi dan kerajaan- kerajaan Arab mini di Teluk Persia mengusir sekitar 800.000 pekerja Yaman, yang hampir seluruhnya berasal dari Yaman bagian selatan. Pada 1993, minyak ditemukan di Ma’arib, batas antara Yaman selatan dan utara.

Kedua hal ini, ditambah kebijakan Abdullah Saleh (tokoh sekuler pemeluk Zaidiyah) yang dipandang diskriminatif oleh Yaman Selatan, membuat pihak selatan memberontak (1994). Perang itu dimenangi pihak utara.

Musim Semi Arab di Tunisia pada Januari 2011 ikut menjangkiti Yaman. Kali ini komunitas Yaman Utara dan Selatan bersatu meminta Abdullah Saleh, yang korup dan represif, turun dari kursi kekuasaan. Berkat tekanananggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)—terdiri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Bahrain, Qatar, dan Kuwait—Saleh turun, digantikan Wakil Presiden Abdurabbuh Mansour Hadi yang pro-Saudi (2012). Mansour Hadi juga didukung Partai al-Islah, partainya Ikhwanul Muslimin, yang juga didukung kepala-kepala suku yang kesejahteraannya dijamin Saudi melalui pemimpinnya. Sayang, Mansour Hadi tidak mampu membawa kesejahteraan bagi penduduknya.

Paling tidak ada lima penyebabnya. Pertama, pemerintahan Mansour Hadi tak mampu menciptakan stabilitas politik akibat rongrongan dari Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) yang kini menguasai dua provinsi di selatan. Kedua, bantuan GCC pimpinan Saudi tidak cukup untuk menciptakan kesejahteraan bagiwarga Yaman secara keseluruhan. Ketiga, korupsi yang diciptakan pemerintahan sebelumnya tetap marak. Keempat, mantan Presiden Ali Abdullah Saleh yang berpengaruh di pemerintahan dan tubuh tentara masih berambisi untuk berkuasa kembali. Kelima, Syiah Zaidiyah di bawah kepemimpinan Abdul Malik al-Houthi memberontak sejak 2004. Houthi menganggap mereka diperlakukan secara diskriminatif. Pemberontakan Houthi ini didukung Iran.

Pemberontakan Houthi ini kiranya tak semata-mata karena faktor ekonomi dan sosial, tetapi pertama, sesungguhnya Zaidiyah tak mengakui urusan-urusan kenegaraan di mana komunitas Zaidiyah tidak memiliki imam. Kedua, sistem politik mutakhir dalam keadaan berubah terus-menerus terutama akibat penggabungan kedua negara. Ketiga, ada dukungan bagi mereka yang berupaya memberlakukan imamah lagi, meskipun individu-individu ini dan pendukungnya memberi argumen dalam istilah menciptakan imamah ”konstitusional”.

Korban pertikaian

Saat ini Houthi masih menguasai seluruh teritori tradisionilnya, yaitu wilayah utara dan barat daya. Pergerakan ke selatan dan timur tampaknya tak dimaksudkan menguasai seluruh Yaman seperti pada abad ke-17 karena hal itu saat ini tidaklah mungkin mengingat Yaman bagian selatan dihuni mazhab Sunni yang juga memiliki identitas regional yang kuat. Mereka hanya berusaha mendapatkan wilayah selatan dan timur sebanyak mungkin untuk ditukarkan dengan perdamaian dalam perundingan dengan pihak selatan kelak.

Upaya presiden terguling Mansour Hadi mempertahankan kesatuan Yaman tidak didukung sepenuhnya oleh warga selatan, yang terbagi dalam tiga kubu. Sementara serangan pasukan Liga Arab pimpinan Arab Saudi ke sasaran-sasaran Houthi tampaknya tak akan berhenti sampai tujuannya tercapai: Houthi menyerah mutlak dengan meninggalkan ibu kota dan menyerahkan senjata. Apakah tujuan ini bisa dicapai? Dalam sejarah, solidaritas kaum Syiah Zaidiyah selalu menguatketika menghadapi musuh bersama.

Maka, serangan ke kubu Zaidiyah Houthi tidak akan membawa hasil apa-apa kecuali menguatkan solidaritas pemeluk Zaidiyahi, konsolidasi di pihak AQAP, ISIS, dan kaum separatis. Bisa jadi Liga Arab-kubu Mansour Hadi akan memenangi pertempuran, tetapi tidak akan memenangi perang. Malah, kalau perang berlangsung lama, wilayah selatan akan tercabik-cabik oleh kelompok-kelompok separtis, AQAP, dan ISIS. Sesungguhnya Yaman menjadi korban pertikaian negara-negara berpengaruh di kawasan.

Oleh SMITH ALHADAR, Penasihat pada ISMES; Staf Ahli Institute for Democracy Education (IDE)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s