WAWANCARA dengan DJAROT SULISTIO WISNUBROTO (Kepala BATAN)

GUNA mengatasi krisis energi listrik yang mengancam Indonesia pada tahun-tahun mendatang, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnubroto mengusulkan kepada pemerintah untuk segera mengembangkan energi nuklir. Dalam kajiannya, membangun pembangkit listrik tenaga nuklir akan mampu mengatasi persoalan tersebut dengan harga jual lebih murah dan stabil. Ia merujuk daerah Bangka Belitung sebagai salah satu lokasi ideal PLTN, selain wilayah utara Pulau Jawa.

“Hasil jajak pendapat November lalu, 72 persen rakyat Indonesia mendukung. Di Bangka Belitung, 57 persen warganya sudah mendukung,” kata Djarot saat berbincang dengan majalah detik di ruang kerjanya, 30 Desember.

Ahli rekayasa nuklir lulusan Universitas Tokyo, Jepang, 1993, itu menyebut teknologi PLTN saat ini sudah memasuki generasi ketiga yang jauh lebih aman. Dalam teknologi terbaru, PLTN akan otomatis berhenti beroperasi bila terjadi gempa, apalagi tsunami. Teknologi ini tak dimiliki PLTN di Fukushima, yang bocor saat terjadi tsunami pada 2011. “Fukushima itu menggunakan teknologi tahun 1960-an,” ujarnya.

Seberapa siap SDM kita membangun dan mengelolanya? Memadaikah jumlah uranium yang kita miliki? Simak petikan paparan Djarot berikut ini.

Bagaimana kesiapan penggunaan teknologi nuklir untuk mengatasi krisis listrik?

Kita mempunyai program persiapan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir sebenarnya cukup lama, jadi lebih dari 30 tahun. Tapi tantangannya sampai terakhir ini adalah kesiapan masyarakat, penerimaan masyarakat terhadap tenaga nuklir. Mungkin persepsi sebagian masyarakat, nuklir itu menakutkan, seperti kasus kecelakaan terakhir di Fukushima (2011), Chernobyl (1986), dan bom atom. Kita bisa memahami itu. Makanya pemerintah selama 5 tahun terakhir memberikan amanat kepada badan ini untuk melakukan sosialisasi dan diukur dengan jajak pendapat masyarakat.

Setiap tahun, kita melakukan jajak pendapat dengan jumlah responden rata-rata 3.000-5.000 orang.

Kecenderungan hasil jajak pendapat terakhir?
Pascakecelakaan di Fukushima, cuma sekitar 40 persen yang mendukungPLTN.Tapi, November 2014, secara nasional 72 persen pro-PLTN. Ini merupakan modal yang sangat bagus bagi pemerintahan yang baru untuk meman faatkan PLTN guna mengatasi krisis energi. Tidak ada satu negara pun yang masyarakatnya 100 persen mendukung nuklir. Itu semacam kutukan bagi orang-orang nuklir dari awal. Tapi banyak negara yang rasional. Amerika adalah negara di mana Greenpeace lahir tetapi juga mengoperasikan 100 PLTN. Tapi pembangunan PLTN butuh waktu 7-10 tahun. Jadi program 35 ribu megawatt oleh pemerintahan Jokowi-JK dalam 5 tahun ini, maka PLTN tak masuk skenario.

Seberapa siap SDM kita bila pemerintah menyatakan “Go Nuclear”?
Sudah lebih dari 3 tahun kita mempersiapkan diri, baik untuk lokasi, peraturan, kemudian SDM. Karena ada beberapa universitas, seperti UI, ITB, dan UGM, yang mendidik SDM-SDM meskipun yang terkait langsung dengan nuklir hanya UGM. Tetapi di ITB ada juga jurusan yang membina SDM untuk reaktor. Jangan dikira kita butuh orang nuklir saja, orang elektro, sipil, mesin juga dibutuhkan. Dibanding Vietnam atau Uni Emirat Arab yang sudah membangun, sebenarnya kita jauh lebih siap.

Selain jajak pendapat, apa saja yang dilakukan Batan?
Kita melakukan sosialisasi, studi kelayakan yang di dalamnya (ada) studi tapak. Pada 1980-an, ada studi tapak di Muria, Jepara. Terakhir, 2011-2013, di Bangka Belitung, mungkin juga kelak di Kalimantan dan beberapa daerah lainnya.
Kita juga meneliti teknologi teraman yang mau dipakai. Tapi Batan bukan yang mengoperasikan dan memiliki PLTN komersial, kami hanya lembaga litbang yang menyiapkan infrastruktur.

Ukuran kelayakan sebuah daerah dibangun PLTN?
Seberapa potensi gempa dan tsunaminya. Kita harus melacak sampai 100-200 tahun yang lalu atau lebih dari itu. Lalu daerah itu punya cukup infrastruktur atau tidak? Bagaimana dukungan pemerintah daerah dan masyarakat-nya? Selain di Bangka, bagian utara Pulau Jawa sangat potensial untuk dibangun PLTN. Jepang seluruh daerahnya kan (potensial) gempa, tapi punya 50 PLTN.

Tapi di Fukushima hancur karena tsunami?
Kesalahan Fukushima, Tepco sebagai operatornya tidak memprediksi bahwa tsunami itu lebih tinggi daripada yang diperkirakan. Jadi ada kesalahan manusia ketika mendesain yang tidak memperkirakan tsunami akan lebih tinggi.
Itu pelajaran penting bagi Indonesia.

Padahal Jepang dikenal amat disiplin
dibandingkan dengan kita….
Saya tidak setuju kalau dibilang bangsa kita tidak disiplin. Kedua, kita menggunakan teknologi paling mutakhir. Fukushima menggunakan teknologi tahun 1960-an. Paling mutakhir itu, ketika terjadi sesuatu, reaktornya mati otomatis.

Anda memperkirakan kapan reaktor PLTN bisa terwujud?
Ada kebijakan energi nasional PP Nomor 79 Tahun 2014 menyebutkan nuklir itu menjadi pilihan terakhir. Maksudnya bukan setelah semuanya habis baru dipakai. Tapi, ketika prediksinya minyak dan batu bara akan habis tahun sekian, jauh hari harus sudah berpikir PLTN. Batan memprediksi sekitar 2024 sudah ada dua PLTN yang beroperasi dengan kapasitas 2.000 megawatt, dan sekitar 2050 paling tidak punya 10 PLTN.

Perhitungan biaya satu reaktor?
Harganya bisa dua kali lipat daripada PLTU. Itu tergantung di mana dan siapa yang bangun. Kita punya potensi uranium 70 ribu ton di seluruh Indonesia. Masalahnya,
tidak boleh dieksploitasi secara komersial. Beli uranium impor itu jauh lebih murah untuk saat ini ketimbang kita mengeksplorasi sendiri. Australia produsen uranium tiga besar di dunia, tapi uraniumnya impor karena praktis. Kita bisa menyimpan uraniumnya di dalam negeri (untuk) jangka panjang buat anak cucu. Perubahan harga uranium naik-turun, harga listrik nyaris tidak berubah. Lain dengan batu bara
atau minyak.

Jadi dari hulu sampai hilir masih bergantung pada luar, ya?
Anda punya handphone? Sadar itu bergantung pada luar? Tapi dibeli juga karena mendapatkan nilai lebih. Uranium itu queasy renewable, agak sedikit renewable karena, ketika masuk dalam reaktor, dia jadi bahan bakar baru dan sisanya masih bisa di-recycle. Punya potensi jadi senjata meski kita tidak akan memanfaatkan itu untuk senjata.

Reaktor yang ingin dibangun itu jenis apa?
Secara komersial, yang banyak itu generasi 3 plus. Itu yang sekarang dibangun di Uni Emirat Arab, yang rencana dibangun di Vietnam, Yordania, Turki, dan Bangladesh. Generasi ini memperbaiki generasi sebelumnya untuk menghindari kecelakaan seperti di Fukushima. Kalau vendor yang paling banyak dan agresif itu Rusia. Dia membangun di Vietnam, Bangladesh, Turki, Belarusia, dan mungkin Finlandia.

Benarkah ada moratorium pembangunan PLTN di Jerman?
Benar. Tahun 2022 Jerman menargetkan tidak akan menggunakan PLTN lagi. Tetapi, harap dicatat, dia bagian dari Uni Eropa yang, bila kurang energi, akan impor dari Prancis yang punya PLTN banyak. Jadi dia menggunakan fenomena “Not in My Back Yard”. Pemerintah Jerman dipengaruhi “Green Party”, yang mendukung renewable energy. Beda dengan kita yang tidak punya cadangan dari ASEAN, misalnya.

Kritik bahwa pembangunan PLTN orientasinya proyek karena nilainya sangat
besar….
Saya bisa pahami itu karena angkanya T (triliun rupiah). Apalagi masyarakat Indonesia curiga, jangan-jangan nanti di-mark-up, mainan uang, dan ada yang korupsi. Ini hal-hal yang sangat sensitif dan Batan ingin menghindarinya. Jangan sampai di Batan itu terjadi yang ditakutkan. Belum bangun PLTN saja sudah korupsi.
Gitu, kan? Kita sadar, sih.

Kita sudah ada pembangunan reaktor mini di Serpong?

Undang-undang tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang menyatakan, pada 2015-2019 harus beroperasi PLTN dengan keselamatan ketat. Idenya muncul, bagaimana kalau bangun PLTN yang kecil-kecil dulu. Skala kecil untuk menunjukkan kepada masyarakat, “Ini lo PLTN.” Kalau sudah ada hasil listriknya itu akan menunjukkan hasil image yang berbeda. Kalau reaktor yang kita punya sekarang tidak menghasilkan listrik. Itulah yang menjadi ide awal ketika digulirkan reaktor daya eksperimen. Ini yang kita berusaha yakinkan pemerintah agar dibiayai. Kalau tidak dibiayai, ya tidak ada artinya.

Berapa besar anggarannya?
Diperkirakan Rp 1,6 triliun. Multi-years kalau dalam jangka waktu lima tahun selesai, tiap tahun Rp 400 miliar. Itu 10 megawatt. Kan masih prototipe.
n PASTI LIBERTI MAPPAPA | SUDRAJAT

Sumber: Majalah Detik EDISI 162 | 5 – 11 JANUARI 2015
Di download tanggal 3 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s