Peradaban Papua di Persimpangan

Awalnya, Papua punya dua hal, yaitu kekayaan alam dan manusia yang bersahaja. Budaya turun-temurun mengajarkan mereka untuk hidup tidak secara rakus. Alam diletakkan sebagai habitat yang menopang kelangsungan hidup. Namun, kini nilai luhur itu mulai terkikis oleh derap laju kapitalisme dan globalisasi.

Di masa lampau, masyarakat Papua menjadikan tanah dan air sebagai tumpuan hidup. Hasil dari bercocok tanam, hutan, danau, dan laut telah mencukupi kebutuhan hidup mereka. Hal ini, di antaranya, dilakukan oleh masyarakat suku Amungme, Mee, Dani, Sentani, Asmat, dan Komoro. Prinsip ”cukup” itulah yang menjadi ukuran kesejahteraan mereka. Bukan banyak aset atau perhiasan yang mereka miliki.

Kesahajaan ini menjadikan seni budaya Papua tumbuh dan berkembang. Koentjaraningrat dan kawan-kawan (1994) menyebutkan, masyarakat Papua memiliki seni tari, suara, dan ukir yang khas.
Setelah berabad-abad tereksklusi dari dunia luar, Papua akhirnya terhubung dengan dunia luar. Ynigo Ortiz de Retes, pelaut dari Kerajaan Spanyol, diyakini sebagai orang luar pertama yang menjejakkan kaki di bumi Papua pada abad ke-16. Saat itu nama Papua belum ada. Karena itu, ia memberi nama Nueve Guinea.
Sekitar enam tahun setelah Ortiz, pelaut Portugis bernama Antonio d’Abreu pun datang. D’Abreu diyakini sebagai orang pertama yang menggunakan nama Papua untuk daerah paling timur Indonesia ini.

Dalam genggaman asing

Hingga awal abad ke-19, kekayaan bahan tambang Papua masih terjaga. Orang-orang Belanda menjadi yang pertama, yang mengincar kekayaan alam wilayah ini. Diawali dengan mendirikan Fort Du Bus, benteng yang menjadi penanda kekuasaan Belanda, tahun 1828.

Berlanjut satu abad kemudian, minyak bumi Papua mulai dieksploitasi. Tahun 1935, perusahaan gabungan Belanda, Inggris, dan Amerika yang bernama NV Nederlandsch Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) memperoleh hak konsesi. Tidak kurang dari 10 juta hektar menjadi bagian dari konsesi tersebut. Wilayah yang terbentang dari kepala burung hingga wilayah selatan ini setara dengan sepertiga luas total Papua.

Pergantian rezim penguasa tidak membuat eksploitasi kekayaan alam Papua berhenti. Bahkan, hanya dalam beberapa tahun setelah pembebasan wilayah ini dari kekuasaan Belanda, Freeport McMoran berhasil mengantongi kontrak karya selama 30 tahun. Sejak tahun 1967, perusahaan tambang asal Amerika Serikat ini mulai mengeksploitasi kekayaan alam Papua.

Di bawah bendera PT Freeport Indonesia, Gunung Grasberg di Mimika mulai dieksploitasi. Pengurasan tembaga dan emas itu membuat nilai kegiatan ekonomi Papua melonjak. Tahun 2011, separuh dari produk domestik regional bruto (PDRB) Provinsi Papua yang mencapai 76 triliun rupiah disumbang oleh kegiatan pertambangan.
Namun, nilai itu tak membuat masyarakat Papua lebih sejahtera. Alih-alih hasilnya bisa mereka nikmati, sebagian besar kekayaan alam berupa tembaga, emas, dan kobalt justru menjadi milik asing. Indonesia hanya mendapat bagian kecil sebab Pemerintah Indonesia hanya memiliki saham kurang dari 10 persen.

Di belahan bumi Papua lainnya, yang menjadi Provinsi Papua Barat, tangan-tangan asing pun kuat mendominasi eksploitasi kekayaan alam. Wilayah Raja Ampat, Sorong, dan Teluk Bintuni, yang kaya akan gas alam, kini menjadi wilayah operasional Proyek Tangguh. Proyek yang dipimpin British Petroleum (BP) ini melibatkan sejumlah perusahaan energi dari Jepang dan China.

Eksploitasi gas bumi yang dimulai tahun 2009 ini mengangkat nilai kegiatan ekonomi di Papua Barat. Tidak kurang dari 55 persen dari PDRB provinsi, sebesar 36,2 triliun rupiah pada 2011, didapat dari eksploitasi sumber energi.

Belum sejahtera

Meski mendongkrak kegiatan ekonomi Papua, eksploitasi pertambangan yang masif ternyata tidak memberi dampak nyata bagi masyarakat. Buktinya, penduduk miskin di wilayah ini relatif tinggi. Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 30,7 persen penduduk di Papua masuk dalam kategori miskin. Sementara di Papua Barat, tercatat 27,04 persen. Hal ini menjadikan kedua provinsi sebagai wilayah yang tingkat kemiskinannya tertinggi di Indonesia.

Tidak hanya soal angka kemiskinan, dalam hal pembangunan manusia, Papua juga masih tertinggal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua belum beranjak dari peringkat terakhir dalam kurun 2005-2011. Hal serupa juga dialami oleh Provinsi Papua Barat. IPM provinsi ini pun hanya berada di peringkat ke-29 dari 33 provinsi di Indonesia.

Khusus untuk Provinsi Papua, ketertinggalan dengan wilayah lain semakin lebar. Meski nilainya meningkat, tingkat pertumbuhan IPM provinsi ini masih di bawah rata-rata pertumbuhan nasional. Bukannya semakin mendekati pencapaian wilayah lain, provinsi paling timur Indonesia ini makin terpuruk.

Keberadaan industri yang tidak ”senafas” dengan nilai-nilai lokal menjadi salah satu penyebab mahalnya upaya
memperbaiki kesejahteraan masyarakat Papua. Masyarakat lokal ”dipaksa” meninggalkan cara hidup bersahaja, yang diturunkan leluhur mereka. Di sisi lain, kegiatan industri yang bernilai ekonomi tinggi ternyata gagal memberikan efek menetes bagi masyarakat lokal.

Seiring peningkatan kegiatan industri dan pertambangan, kualitas alam dan lingkungan Papua terdegradasi. Sungai Otomina dan Aikwa di Mimika, misalnya, dipenuhi limbah tailing dari kegiatan pertambangan PT Freeport. Akibatnya, kualitas hidup masyarakat Papua menurun.

Masyarakat tradisional Papua meyakini alam sebagai hal sakral. Bagi mereka, alam berperan sebagai mama atau ibu yang melahirkan, memberi makan, dan merawat mereka. Apabila tak dijaga, alam pun tidak akan mampu lagi menjadi sandaran penghidupan seperti di masa lalu. (DWI RUSTIONO W dan LUHUR FAJAR M/LITBANG KOMPAS)

Oleh: YULIANA RINI DY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s