Penyadapan Global; Mengumpulkan Data Intelijen Tanpa Musuh

“We are not now that strength which in old days moved earth and heaven. That which we are, we are. One equal temper of heroic hearts, made weak by time and fate, but strong in will. To strive, to seek, to find, and not to yield.” (Kita sekarang tidak dalam kekuatan masa lalu yang memindahkan bumi dan langit. Apa adanya kita, ya kita. Kita adalah hati pahlawan dengan perangai yang sejajar, dibuat lemah oleh waktu dan nasib, tetapi kuat dalam keinginan. Untuk berjuang, untuk mencari, menemukan, dan tidak menghasilkan.)
Kutipan kesaksian M, bos James Bond, dalam film Skyfall (2012) itu bagaikan menggambarkan hebohnya penyadapan yang melanda seluruh dunia akhir-akhir ini.
Di Eropa, Washington dikritik secara pedas dan tajam akibat penyadapan tersebut. Negara-negara sekutu AS di Eropa menuntut penjelasan apa yang sudah dilakukan dinas rahasia AS.
Di Asia, Australia yang menjadi bagian dari perjanjian usang pasca-Perang Dunia II ”Five Eyes” (Lima Mata) dikritik menjadi biang kerok penyadapan atas nama persekutuan abadi yang melibatkan AS, Selandia Baru, Inggris, dan Kanada. Indonesia pun kebakaran jenggot, bereaksi menyadari betapa rawannya kemajuan teknologi komunikasi informasi memberikan peluang untuk disadap siapa pun.
Kita memang mempertanyakan, mengapa kita perlu rahasia? Dan seperti M, kita memang khawatir karena melihat perubahan dunia yang drastis dan fakta di dalam dunia itu yang membuat kita takut. Kita takut karena musuh sudah tidak lagi mempunyai bentuk dan tidak dipahami oleh kita.
Arus informasi
Di sekitar kita sebagai kumpulan negara bangsa, geopolitik dunia berubah cepat membawa dinamika yang tidak bisa serta-merta kita pahami secara saksama. Lawan yang dihadapi siapa saja dalam arus globalisasi ini tidak berwajah, tidak berseragam, dan tidak berbendera. Dunia tidak lagi transparan seperti dugaan banyak orang.
Pesawat nirawak (drone) tiba-tiba muncul dari ketinggian langit, menebar kematian atas mereka yang salah dan tidak. Kuping dan mata berubah menjadi bilangan-bilangan elektronik ”menguping” percakapan Kanselir Jerman Angela Merkel sampai Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono walau dibantah anak buahnya.
Dalam globalisasi, mungkin benar analisis M dalam Skyfall. Dunia yang kita huni menjadi lebih buram, dan berada dalam berbagai rasa bayang-bayang. Dan di situlah sebenarnya pertempuran terjadi melawan apa saja dan siapa saja. Washington khawatir akan dunia seperti ini, dan kita menyebut di dalam dunia digitalisasi di tengah simpang tindih jejaring internet ini, siapa pun bisa menjadi ”monyet”.
Dalam isu global penyadapan yang dilakukan AS dan para sekutunya terhadap sekutu lainnya adalah cermin berubahnya arus informasi dan aktivitas intelijen. Bagi AS pasca-serangan teroris 11 September 2001, musuh menjadi siapa saja dari Timur Tengah, Eropa, Afrika, Asia, Australia, bahkan dari daratan Amerika Utara sendiri.
Sistem pengumpulan intelijen berteknologi tinggi, seperti drone pengintai, misalnya, menghasilkan banyak sekali data mentah yang membanjiri para analis intelijen. Ribuan komputer database baru dibuat untuk mengumpulkan semua informasi yang tumbuh secara eksponensial melalui situs web, jejaring media sosial seperti Facebook dan Twitter, blog, percakapan digital melalui Skype, dan sebagainya.
Ini menjelaskan ”Fenomena Snowden” ketika seorang ahli dari kalangan rakyat biasa disewa mengumpulkan berbagai macam informasi yang bertebaran di seluruh dunia dan melihat terjadinya aktivitas yang tidak lazim dan dikenal dalam dunia intelijen pada masa Perang Dunia II dan Perang Dingin dengan musuh yang nyata. Sekarang musuhnya adalah warga negara sendiri dan warga negara yang seharusnya bersahabat dan terikat perjanjian.
Menghindari kesalahan
”Ihr seid alle Idioten zu glauben, aus Eurer Erfahrung etwas lernen zu können, ich ziehe es vor, aus den Fehlern anderer zu lernen, um eigene Fehler zu vermeiden (Kalian semua idiot untuk percaya bahwa Anda dapat belajar sesuatu dari pengalaman Anda, saya lebih memilih belajar dari kesalahan orang lain untuk menghindari kesalahan saya sendiri),” kata negarawan Prusia Otto von Bismarck di awal abad ke-19.
Bismarck menjadi Kanselir Jerman pertama (1871-1890), memahami seluk-beluk perang, intelijen, damai, kawan, lawan, penderitaan, dan sebagainya yang tiba-tiba muncul dalam arus globalisasi ini.
Ini adalah penjelasan menyeluruh tentang penyadapan yang dilakukan oleh berbagai dinas rahasia AS ke seluruh dunia.
Dalam kaca mata intelijen AS, musuh tidak hanya di Afganistan, Irak, Somalia, atau dalam kelompok yang menamakan diri Taliban dan pendukungnya. Musuh bisa berada di Berlin, London, Denpasar, Sabah, Mindanao, Shanghai, di mana saja. Musuh bisa muncul dalam bentuk wartawan, usahawan, bankir, politisi, pedagang, sopir, dan lainnya.
Dalam dunia intelijen Australia, misalnya, pengumpulan laporan, termasuk penyadapan, dibedakan dalam empat kategori: keinginan kepemimpinan, ancaman terhadap sistem keuangan, obyektivitas kebijakan luar negeri, dan masalah hak asasi manusia. Bagi penguasa di Australia, ancaman bisa muncul dalam bentuk terorisme atau penyelundupan manusia perahu.
Jika dibandingkan dengan AS, kemampuan intelijen Australia dalam penyadapan ibarat senjata bazoka melawan senjata nuklir. Ada lebih dari 179 stasiun dan pos penyadapan Badan Intelijen Pusat AS (CIA) di seluruh dunia.
Skala kemampuan intelijen AS dalam pengumpulan data melebihi dinas rahasia Stasi era Jerman Timur, yang saat Tembok Berlin runtuh pada 1989 masih memiliki 91.000 perwira intelijen yang didukung 200.000 informan.
Dari total dana untuk 16 badan rahasia intelijen AS sebesar 52,6 miliar dollar AS, CIA menerima jumlah terbesar, yakni mencapai 14,7 miliar dollar AS.
Skandal penyadapan Lima Mata yang melanda dunia menandakan perlunya perubahan drastis berbagai kesepakatan dan hukum internasional, termasuk Konvensi Geneva 1949 tentang konflik dan perang ataupun Konvensi Vienna 1961 tentang diplomasi.
Salah satu aturan umum dalam intelijen adalah semakin banyak informasi rahasia yang dibagi, semakin kecil arti informasi rahasia itu. Namun, globalisasi dalam kebangkitan negara besar memerlukan tatanan menyeluruh menjaga keseimbangan geopolitik dan geostrategi karena suatu situasi ”data crush” yang membanjiri para pengambil keputusan menjadi ancaman bagi kelangsungan interaksi dan konektivitas dunia di segala bidang kehidupan.

Sumber: Kompas, Minggu, 3 November 2013

Oleh: René L Pattiradjawane

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s