PLTN, Sudah Siapkah Kita?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca berita disalah satu koran lokal di Bangka. Judulnya sangat menarik, “Secara Teknis, PLTN layak di Babel”. Disitu dijelaskan bahwa uji kelayakan akan selesai pada akhir tahun. Uji kelayakan tersebut dilakukan di Bangka Barat dan Bangka Selatan. Uji tersebut dimulai pada tahun 2011. Menurut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S. Wisnubroto, uji kelayakan tersebut berakhir pada tahun ini. Dipilihnya Babel untuk untuk pembangunan PLTN ini karena relatif aman dari bencana alam, faktor bahan bakar, kontur alam yang lebih stabil. Djarot mengungkapkan bahwa reaktor skala kecil dan menengah sangat cocok untuk diletakkan didaerah terpencil. Meskipun dari segi biaya reaktor ini lebih mahal dari reaktor skala besar.

Saya sendiri memang sudah lama mendengar bahwa Bangka menjadi kandidat pembangunan PLTN di Indonesia. Saya sangat antusias dengan pembangunan PLTN di Indonesia. Dengan semakin berkembangnya kebutuhan suplai tenaga listrik di Indonesia, pembangunan PLTN ini dapat menjadi solusi yang cukup menjanjikan.

Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kuliah di Teknik Elektro, saya mendapatkan tugas membuat sebuah makalah tentang pembangkit tenaga listrik. Saya kebagian PLTN. Pembuatan makalah tersebut memang memakan waktu yang cukup lama, yakni satu semester mengingat materi yang dibahas cukup berat. Karena tugas tersebut, saya “terpaksa” mempelajari segala hal tentang PLTN. Mulai dari sistem, cara kerja, faktor keamanan, keuntungan, dan juga kerugiannya. Mencari materi mulai dari A sampai Z. syukurlah karena tugas tersebut saya menjadi paham tentang PLTN. Tugas tersebut membuat saya paham bahwa PLTN memang aman selama prosedur kerja dijalankan dengan disiplin tinggi.

Saya juga sering melihat salah satu program di salah satu televisi Jepang (NHK), kalau tidak salah judulnya March to Recovery, yang mengulas tentang penanggulangan bencana Fukushima Daiichi. Saya tertarik dengan acara ini karena cara-cara pemerintah Jepang dalam penanggulangan bencana meltdown yang terjadi pada salah satu reaktor nuklir di Jepang. Dalam acara tersebut ditampilkan efek dan kerusakan yang terjadi pada hampir seluruh jajaran kehidupan masyarakat yang tinggal berdekatan dengan reaktor. Mulai dari ekonomi, psikologis, dan sosio-kulutral masyarakatmya.

Yang menarik dalam acara tersebut adalah bukan dari teknologi yang dimiliki oleh Jepang (yang notabene lebih maju), tetapi kecepatan memulihkan masyarakat dari kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana tersebut. kerjasama yang solid antara pemerintah dan masyarakat. Peran aktif masyarakat dalam memulihkan diri dari bencana. Contohnya, mereka (masyarakat Jepang) membantu membersihkan materi radioaktif yang tersebar, membuang lapisan tanah yang terkena radioaktif yang dilakukan secara manual, membersihkan rumah dan tempat yang juga terkena materi radiasi. Kerja pemerintah Jepang memang bagus. Meskipun ada beberapa hambatan tapi elemen-elemen masyarakat bersinergi mengatasinya. Pemerintah Jepang merelokasi korban, membangun tempat tinggal baru, mencari cara untuk menghilangkan atau mengurangi tingkatan radiasi yang ada. Saya melihat pemerintah Jepang sepertinya “menyayangi” masyarakatnya.

Dalam opini saya pribadi, saya sangat setuju dengan pembangunan PLTN di Indonesia. BATAN sendiri pun memiliki teknologi canggih dan juga memiliki SDM yang mumpuni untuk pembangunan dan menjalankan sebuah PLTN. Tetapi yang menjadi pertanyaan besar saya adalah, “Jika PLTN tersebut mengalami masalah sehingga terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan, apakah pemerintah dan masyarakat siap untuk menghadapinya?” mengingat bahan radioaktif tidak dapat hilang dalam waktu 2 -3 tahun. PLTA, jika terjadi bencana kita hanya bertarung dengan air, tetapi jika PLTN mengalami bencana maka kita harus bertarung dengan radiasi beberapa generasi kedepan. Bagaimana birokrasi pemerintah dalam penanggulangan bencana? Bagaimana cara merelokasi penduduk Babel bila terjadi bencana? Apakah harus memindahkan seluruh penduduk keluar pulau? Bagaimana dengan birokrasinya? Berbelit-belit kah? Kita ‘kan terkenal dengan birokrasi yang berbelit-belit. Dan jangan-jangan dana bantuan juga dikorupsi. Apakah kita siap untuk itu?

Adik saya yang kuliah di Sosiologi Universitas Bangka Belitung, pernah mengadakan survey tentang PLTN di Babel. Hasilnya sudah bisa ditebak, banyak yang kontra daripada yang pro. Dari hasil survey tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Babel masih enggan dengan pendirian PLTN diwilayah mereka. Sayangnya ketika saya menanyakan data survey tersebut, dia sudah tidak lagi memiliki data survey sehingga pernyataan diatas tidak bisa dikonfirmasi secara faktual.

Saya memang lahir di Bangka dan sekarang juga tinggal di Bangka. Saya setuju dengan pembangunan PLTN disini. Hal yang harus diperhatikan pemerintah Indonesia bukanlah kemampuan SDM bangsa Indonesia untuk membangun sebuah PLTN, tetapi bagaimana mengatasi permasalahan atau bencana yang bisa saja menjadi bola liar dan tak terkendali. Bencana memang hak Tuhan, tetapi kita sebagai manusia hanya berusaha meminimalisir kerusakan dan memulihkan kerusakan yang terjadi. Kita memang siap dalam segi teknologi tetapi untuk birokrasi, sosiologis, tanggap bencana dan psikologis saya rasa kita masih perlu mempersiapkan diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s