Cara Termudah Mewaraskan Perekonomian Nasional

Judul diatas memang bombatis sekali, disaat segala faktor penyebab masih membingungkan, kok bisa menggunakan kata termudah, tapi begitulah sekarang ini, pencitraan telah menjadi model dalam bentuk apapun dan dimanapun, termasuk dalam pengajuan RAPBN tahun 2014 yang akan datang, sarat sekali dengan pencitraan, itulah yang melatar belakangi pemilihan judul diatas, ikut-ikutan berlomba pencitraan.

Untuk enaknya bergombal gambul tentu harus disertai dengan ulasan-ulasan yang dinalar-nalarkan, dan berbagai asumsi-asumsi ditampilkan untuk mengelabui ketidak warasan dalam menutupi prilaku penggarongan yang mengerogoti segala bilik birokrasi dinegeri ini. Seorang pakar dalam salah satu ulasannya disatu media koran terkenal menyebutkannya amatiran, sehingga apapun perkiraan optimisme yang disampaikan, kenyataannya melesat kearah semangkin menyulitkan, cadangan devisa perlahan tapi pasti semangkin terkuras, dollar Amerika semangkin sombong terhadap rupiah, inflasi telah melambai-lambai merdeka seperti lambaian kemerdekaan bendera merah putih, masyarakat yang tidak berkemampuan semangkin sakit tengkuk didera pusing memikirkan kenaikan harga-harga yang belum ada kepastian entah kapan berhenti, BaLSeM yang diluncurkan ternyata bukan obat ampuh tetapi membuat semangkin puuusssiiiing…., karena membawa berbagai virus masalah, masak kenaikan BBM dikaitkan dengan BaLSeM, ya…, melenggang kangkunglah inflasi…, dan para investor yang masih waras segera angkat kaki, takut dengan dampak yang mulai tidak waras itu.

Kenyataan diatas menimbulkan kerisauan dan kegalauan yang semangkin menjadi-jadi, belum tampak rumusan ampuh yang bakal diputus penguasa. Himbauan jangan panik serta dendangan lagu indah ciptaan presiden diistana negara, disikapi masa dengan semangkin panik. Keputusan menaikan harga BBM untuk penyelematan APBN, kenyataannya digerogoti oleh inflasi yang menguras cadangan devisa, dan begitu juga dengan kebijakan menaikan suku bunga acuan BI yang ditetapkan ogah-ogahan, belum ampuh menahan kaburnya likuiditas, masyarakat telah berpengalaman dan tidak mau kecolongi lagi oleh kepintaran pihak berwenang yang maunya menang sendiri, sekarang adu cepat antara pihak berwenang dengan masyarakat pemodal, untuk sementara masyarakat pemodal tampak selamat, namun tidak bagi masarakat yang tidak berpunya, keputusan pemerintah menaikan harga bbm telah dirasakan bagaikan kejahatan yang luar biasa, “ aduh biyung…, begitulah rintihan perih mendapatkan kenyataan harga-harga setiap hari semangkin melangit menyiksa hidup ini.

Kenaikan harga-harga sebagai dampak dari kenaikan harga bbm, sangat menghantam masyarakat yang tidak berpunya, kendaraan motor dan ojek motor sebagai angkutan masyarakat golongan ekonomi lemah yang hilir mudik antara desa kekota, pasar tradisionil, kebon dan sawah, gang-gang sempit diperkampungan kumuh serta dipergunungan ataupun diperbukitan, menghantarkan berita mengangetkan untuk masarakat disana “ harga-harga naik karena bbm naik,” tetapi harga-harga komoditi perkebunan rakyat tidak bisa ikut-ikut naik, karena pedagang pengepul berjumlah lebih sedikit dibandingkan dengan para petani, Jadilah hidup tercekik, penghasilan tidak berubah tetapi biaya hidup naik tak terduga.

Terbukti sudah kebijakan menaikan harga bbm dengan harga tunggal sungguh tidak berkeadilan. Yang berpunya hanya kaget sedikit dengan perubahan kenaikan harga-harga karena kenaikan harga bbm itu, dan akan segera menyesuaikan karena banyak mekanisme untuk menyelamatkan harta kekayaan serta mempertahankan kenyamanan hidup, tetapi tidak bagi yang tidak berkemampuan ataupun kemampuan terbatas, dampak kenaikan harga-harga karena harga bbm naik, diterima dengan keterpaksaan untuk dicukup-cukupkan, dan akibatnya industri rumahpun ikut-ikutan lesu karena turunnya daya beli, omset penjualan turun dratis berbanding terbalik dengan harga bahan-bahan yang melangit.

Kenaikan harga bbm dengan harga tunggal adalah salah satu penyebabnya, sangat jahat bila perpenghasilan terbatas dipaksa berberlanja bbm sama dengan yang berkemampuan. Dampak keterpaksaan itu diatasi dengan segala kemampuan yang ada, harga barang dan jasa yang diasong disesuaikan, penimbunanpun dilakukan sekedar menjaga agar omset bisa dipertahankan, dan terjadilah kelangkaan yang berakibat harga-harga melanggit. Itulah kenyataannya, pemerintah dituntut untuk segera bertindak dan berlaku adil, Bbm berharga tunggal yang ditetapkan tidak bisa dipertahankan lagi untuk berlanjut, harus segera diberlakukan harga berkeadilan.

Harga keekonomian bbm itu adalah sebesar Rp 9.000,- perliter, dan dengan subsidi sebesar Rp 2.500,- perliter maka harga yang berlaku untuk konsumen adalah Rp 6.500,-/liter. Itulah harga baru yang telah diberlakukan di SPBU, dan sejak harga itu diberlakukan, mulailah perekonomian berjalan tidak waras dan sulit dikendalikan, oleh karenanya harga tunggal itu harus segera dirobah menjadi harga berkeadilan disesuaikan dengan daya beli kelompok masyarakat. Kendaraan masyarakat golongan ekonomi lemah adalah motor dan kendaraan umum non ac, konsumsi bbm untuk jenis kendaraan ini secara nasional rata-rata diperkirakan sebesar 25 %. Bilamana harga perliternya ditetapkan sebesar Rp 5.000,- maka dengan kuota sebesar 10.000 liter ( satu truk tangki ), harga perliter untuk kendaraan konsumen berkemampuan ( ber ac dan nyaman ) akan menjadi ( Rp 65.000.000,- – Rp 12.500.000,- ) / ( 10.000 ltr – 2.500 ltr ) Rp 7.000,-. Harga ini fleksibel mengikuti harga pasar, dan harga fleksibel itu tidak akan terlalu menjadi beban, kalaupun memberatkan, masyarakat berkemampuan akan bisa mensiatinya dengan pengurangan pemakaian mobil serta memperbanyak pemakaian motor ataupun kendaraan umum ber ac. Harga Rp 5.000,- untuk kendaraan motor dan angkutan umum non ac, sangat membantu masyarakat kelompok lemah, daya beli bisa pulih dan industri rumahpun bisa begerak lagi tanpa tersendat-sendat, bilamana daya beli sudah ada dan barangpun tersedia dalam jumlah yang cukup, maka akan ada kepastian dalam kegiatan berusaha.

Perubahan diatas diperkirakan akan mendapat dukungan luas, karena berkeadilan serta jauh dari penyeludupan, sebab pihak SPBU akan bunuh diri bilamana melayani penyeludupan itu.

Apabila kebijakan penyesuaian harga bbm diatas dibaurkan dengan penyesuaian bunga acuan BI, maka hasilnya akan lebih berdaya lagi, menaikan bunga acuan BI pada tingkat tertentu bisa mengimbangi kesombangan dollar yang berprilaku bak juru selamat, pemodal tidak begitu tergoda lagi dengan pesona dollar itu, dan perang melawan pemodal dalam berebut dollar akan bisa dihindari. Kedua kebijakan diatas adalah cara termudah yang bisa segera dilaksanakan didalam mewaraskan perekonomian nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s