5 Cara Selamatkan Indonesia dari Gejolak Ekonomi Global

Liputan6.com, Jakarta : Perkonomian negara-negara berkembang tengah babak belur menghadapi rencana Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) memulai pengurangan laju pembelian obligasinya. Kebijakan itu membuat negara-negara berkembang yang umumnya berada di kawasan Asia, harus bersiap kehilangan sumber aliran dana segar. Tak terkecuali Indonesia.

Data terbaru yang dikeluarkan Bank Indonesia menunjukan, defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2013 membengkak hingga US$ 9,8 miliar atau 4,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tiga bulan pertama 2013, defisit transaksi berjalan hanya berada di kisaran 2,6% dari PDB.

Peningkatan defisit transakai berjalan tersebut dipicu menyusutnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan melebarnya defisit neraca jasa dan pendapatan.

Tak hanya Indonesia, negara berkembang lain yang ikut terhantam ekonomi serupa adalah India. Neraca transaksi berjalan dan anggaran dari negara di kawasan Asia Selatan ini tercatat membengkak setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Managing Director Head of Asia Pasific and Market Analysis Citigroup Global Markets Asia, Johanna Chua dalam ulasannya, mengungkapkan negara berkembang khususnya Indonesia dan India masih berkesempatan mencegah terjerumusnya ekonomi negaranya masuk dalam pusaran krisis.

Berikut adalah lima solusi yang bisa diterapkan pemerintah di negara-negara berkembang:

1. Lingkungan ekonomi eksternal terkini dan dampak kebijakan ekonomi terdahulu membatasi pilihan jalan keluar.

Citigroup menilai cara terbaik memperhalus penyesuaian makro ekonomi (nilai tukar asing yang melemah, risiko premium yang lebih tinggi, dan lambatnya pertumbuhan ekonomi) adalah melalui peningkatan kredibilitas kebijakan (untuk menekan volatilitas) dan menemukan cara menyeimbangkan portofolio untuk meredakan tekanan yang ada.

2. Bank Indonesia (BI) harus menaikan suku bunganya 50 basis poin dan memberikan sinyal penguatan ekonomi.

Dengan jumlah pinjaman yang berkurang tajam, intervensi BI terhadap mata uang tak lagi dianggap sebagai kebijakan yang kredibel untuk meningkatkan ekspektasi terhadap rupiah.

Para analis menilai program stabilitasi pasar lewat dana BUMN tidak langsung berdampak pada ketidakseimbangan eksternal.

Bahkan saat inti tekanan inflasi masih bisa diatasi dengan selisih 4% – 4,5%, ekonomi negara masih tumbuh dengan lambat. Selain itu beberapa pengetatan kebijakan makro yang menandakan peningkatan suku bunga tak bisa diremehkan, khususnya saat masih dilanda pembengkakan defisit transaksi berjalan.

Indonesia menerima dua manfaat dari dana India yang diperoleh dari pengetatan likuiditas bulan lalu. Pertama portofolio aliran modal Indonesia jauh lebih kecil daripada arus utangnya. Kedua, Indonesia memiliki transaksi keuangan yang lebih kuat dibanding India.

3. Sumber-sumber pendanaan non-komersial harus ditekan oleh kedua negara.

Indonesia terus membayar para kreditor bilateral maupun multilateral sejak 2004. Dengan kondisi pasar saat ini, para analis meyakini jaminan pergantian pendanaan. Indonesia memiliki fasilitas kontigensi siap pakai senilai US$ 5 miliar untuk dana anggara (US$ 2 miliar dari Bank Dunia, US$ 1,5 miliar dari Jepang, US$ 1 miliar dari Australia, dan US$ 0,5 miliar dari Asian Development Bank) yang seharusnya ditekan.

4.
Sumber-sumber pendanaan non-komersial harus ditekan oleh kedua negara.

Indonesia terus membayar para kreditor bilateral maupun multilateral sejak 2004. Dengan kondisi pasar saat ini, para analis meyakini jaminan pergantian pendanaan. Indonesia memiliki fasilitas kontigensi siap pakai senilai US$ 5 miliar untuk dana anggara (US$ 2 miliar dari Bank Dunia, US$ 1,5 miliar dari Jepang, US$ 1 miliar dari Australia, dan US$ 0,5 miliar dari Asian Development Bank) yang seharusnya ditekan.

5. Sayangnya, pengaturan penukaran mata uang yang ada terlalu kecil untuk digunakan

Indonesia tengah berada di Chiang Mai initiative (CMIM); dengan penarikan maksimal US$ 22,8 miliar. Namun porsi yang terhubung dengan IMF hanya bernilai US$ 6,8% atau 30% dari jumlah tersebut. Mengingat tak ada negara yang mengurangi dana dari CMIM, menjadi yang pertama bisa mengundang stigma politik. India memiliki dana US$ 15 miliar untuk penukaran bilateral dengan Jepang. Namun hanya sebesar 20% atau senilai US$ 3 miliar yang bisa ditarik tanpa bantuan IMF. Jadi jumlahnya terlalu sedikit. (Shd)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s