Senjata Api Milik Sipil Ditarik

Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Inspektur Jenderal Oegroseno (kedua dari kiri) menyosialisasikan pentingnya peralatan pengamanan dan nomor telepon polisi dalam kunjungannya di Pasar Pringgan, Medan, Selasa (24/8). Kunjungan itu terkait maraknya perampokan di sejumlah daerah oleh pelaku bersenjata api.

Jakarta, Kompas – Semakin banyak terjadi kejahatan yang menggunakan senjata api. Oleh karena itu, polisi akan mengawasi secara ketat peredaran senjata api di masyarakat. Warga sipil, tidak terkecuali purnawirawan polisi dan TNI, tidak boleh lagi memiliki senjata api.

Apabila saat ini ada warga sipil, termasuk pensiunan Polri dan TNI, yang masih menguasai senjata api, ujar Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Timur Pradopo, Selasa (24/8) di Jakarta, itu jelas ilegal.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Boy Rafli Amar, sejak tahun 2005, polisi tidak lagi memperpanjang izin kepemilikan senjata api.

Dengan demikian, mereka yang masih menyimpan senjata api berarti memiliki senjata ilegal. Warga sipil pemegang senjata api tersebut bisa dikenai Undang- Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.

Sementara kepemilikan airsoft gun harus dengan izin polisi. ”Yang diizinkan memakai senjata (jenis itu) adalah anggota Perbakin (Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia) saja karena mereka membutuhkan senjata untuk berlatih,” kata Boy.

Tujuh senjata api

Menurut Timur, dalam kasus perampokan di tiga toko emas di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat lalu, para perampok sedikitnya menggunakan tujuh senjata api.

Ketujuh senjata api itu, 2 senjata api organik dan 5 senjata rakitan, disita dari tangan 11 perampok yang ditangkap di sejumlah tempat di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

Lima senjata api itu merupakan rakitan yang biasa dibeli di pasar gelap. Sementara dua senjata lainnya berjenis organik—bisa digunakan militer dan aparat polisi.

”Dua senjata yang diamankan adalah senjata organik. Kami masih menyelidiki kepemilikan senjata itu,” ujar Kapolda Metro Jaya.

Boy menambahkan, tujuh senjata api itu adalah 2 revolver dan 5 FN.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Ito Sumardi mengatakan, sampai saat ini jenis senjata api yang dipakai perampok belum dapat diketahui. Foto dan rekaman gambar CCTV tidak cukup memadai untuk memberi gambaran pasti mengenai jenis senjata api yang digunakan untuk merampok itu.

Ito menutup kemungkinan bahwa senjata yang dipakai perampok adalah senjata milik Polri. ”Manajemen senjata Polri sangat ketat,” tegasnya.

Kemarin Kepolisian Sektor Metro Cengkareng, Jakarta Barat, berhasil menyita sebuah pistol jenis FN rakitan dari dua pemuda yang diduga akan mencuri sepeda motor di kawasan itu.

Di tempat terpisah, Kepala Polda Banten Brigadir Jenderal (Pol) Agus Kusnadi menuturkan, penarikan senjata api terkendala kesadaran para pemilik untuk menyerahkan senjatanya. ”Semua senjata non-organik yang terdaftar itu ada izinnya, yang harus diperpanjang saat habis masa berlakunya. Nanti, pas diperpanjang, senjata akan kami tarik untuk digudangkan,” ujarnya.

Daerah konflik

Maraknya penggunaan senjata api ilegal, menurut kriminolog Universitas Indonesia, Erlangga Masdiana, bisa berasal dari bekas daerah konflik. Selain itu, wilayah pantai Indonesia yang sangat panjang juga membuka kemungkinan masuknya senjata ilegal dari luar negeri. Jika peredaran senjata api ilegal ini tidak diindahkan, tidak hanya masyarakat yang terancam, tetapi juga keselamatan aparat keamanan sendiri.

Di tempat lain, sebuah sumber di Laboratorium Forensik Mabes Polri menyebutkan, senjata api yang digunakan dalam kasus percobaan perampokan di Bank Central Asia di Jalan Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Senin lalu, adalah jenis pistol.

”Tentang mereknya FN atau Baretta atau yang lain, kami belum sampai ke sana. Tetapi, diduga pistol pabrikan karena, menurut laporan seorang saksi, ia mendengar suara dor tiga kali secara berantai,” kata sumber.

Selain itu, lanjutnya, selongsong peluru yang ditemukan adalah selongsong kaliber 9 milimeter yang digunakan untuk pistol pabrikan.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Selasa, memastikan, senjata yang digunakan para pelaku perampokan sejumlah bank dan toko emas baru-baru ini bukan senjata organik yang dimiliki TNI.

Senjata-senjata itu ditengarai berasal dari daerah konflik Aceh, yang belum dikumpulkan pasca- ditandatanganinya Perjanjian Damai Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki tahun 2005.

Di tempat yang sama, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menyatakan, asal-usul senjata itu masih diselidiki Polri. ”Dengan tertangkapnya pelaku perampokan di Medan baru-baru ini, Polri bisa menelusuri dari mana asal senjata,” ujarnya.

Purnomo mengatakan, TNI akan menghitung kembali jumlah senjata bekas konflik Aceh tersebut.

”Dulu jumlahnya berapa dan yang sudah terkumpul juga berapa. Kemudian, yang masih beredar itu berapa dan di mana saja peredarannya sekarang,” paparnya.

Dari senjata-senjata yang digunakan para perampok, Purnomo mengatakan, senjata yang dipegangnya adalah jenis senjata AK-47. Padahal, yang digunakan TNI sekarang adalah peralihan M-16 ke SS-1 dan SS-2.

”Kalau mereka pakai SS-1 atau SS-2, ketahuan itu pasti TNI karena itu senjata organik TNI,” lanjut Purnomo.

Ditangkap

Timur Pradopo mengatakan telah menangkap 11 orang tersangka pelaku perampokan tiga toko emas di Tebet. Salah seorang di antara mereka, Kr, tewas ditembak polisi di Ambarawa, Jawa Tengah.

Kepala Rumah Sakit Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur, Brigadir Jenderal Budi SIS mengatakan telah menerima titipan jenazah tersangka perampokan toko emas di Tebet.

”Kami menerima jenazah tersebut dari Polda Metro Jaya, Selasa pukul 14.30. Jenazah itu belum kami sentuh karena masih menunggu permintaan otopsi dari Polda Metro Jaya,” katanya.

Dari 11 tersangka, enam orang berstatus penadah dan lima orang tersangka pelaku perampokan. Dari tangan mereka, polisi menyita 1,4 kilogram dari 8,5 kilogram perhiasan emas yang dirampok. Sisanya, 7,1 kilogram, sudah dilebur dan dijual kepada penadah.(FRO/ART/TRI/WIN/ CAS/HAR/ARN/edn/ato)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s