Harga Bertahan Tinggi

Syamsuddin (45) memilah-milah cabai di Pasar Terong, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (19/7). Harga cabai merah keriting dan cabai merah besar Rp 30.000 per kilogram atau naik 100 persen dibandingkan dengan harga pekan sebelumnya. Sementara harga cabai rawit naik dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000 per kilogram.

Jakarta, Kompas – Pemerintah melalui Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memastikan semua stok kebutuhan bahan pokok cukup untuk keperluan bulan puasa dan Idul Fitri. Hanya saja, di lapangan, harga-harga tetap bertahan tinggi. Cuaca mengganggu produksi. Jalan rusak ikut mendorong harga. Aksi spekulan kian membubungkan harga.

Harga-harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar di Surabaya, Jawa Timur, diakui meningkat sekitar 7 persen menjelang bulan Ramadhan. Harga ini tetap tinggi dan diperkirakan akan terus meningkat menjelang Idul Fitri.

”Kenaikan harga untuk bahan pokok berkisar 7 persen, sedangkan untuk bahan pokok olahan mencapai 4 persen,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim Arifin T Hariadi, pekan lalu, di Surabaya.

Beberapa kebutuhan pokok yang harganya naik antara lain beras IR 64 yang bulan lalu Rp 5.600 per kilogram kini menjadi Rp 6.100 per kilogram, daging ayam ras yang bulan lalu Rp 24.000 per kilogram kini menjadi Rp 26.000 per kilogram, dan telur ayam ras yang bulan lalu Rp 13.500 per kilogram kini menjadi Rp 14.500 per kilogram. Kenaikan harga juga terjadi pada cabai rawit yang naik dari Rp 30.000 per kilogram menjadi Rp 38.000 per kilogram.

Kenaikan drastis terjadi pada harga daging sapi yang bulan lalu hanya Rp 58.000 per kilogram kini menjadi Rp 64.000 per kilogram. Sedangkan penurunan harga hanya terjadi pada bawang putih yang awalnya Rp 24.000 per kilogram menjadi Rp 23.000 per kilogram.

”Harga tergantung dari pedagang. Kami mengambil dengan harga tinggi tentu juga menjual dengan harga tinggi,” tutur Jaesan, salah seorang pedagang di Pasar Genteng, Surabaya.

Dari pemantauan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Usaha Kecil Menengah, dan Koperasi Provinsi DIY diketahui, harga sejumlah komoditas pangan naik sejak dua bulan lalu dan sampai sekarang masih stabil tinggi. ”Harga sejumlah komoditas sudah mulai turun, tapi mendekati Lebaran bisa jadi naik lagi,” kata Kepala Seksi Pengadaan dan Penyaluran Disperindakop dan UKM Sri Hartati.

Di Kota Solo, Jawa Tengah, harga-harga meningkat sekitar 30 persen, seperti daging sapi, daging ayam, minyak goreng, beras, dan cabai. Di Pasar Legi, misalnya, harga daging ayam broiler mentah naik Rp 2.000 per kilogram sejak sepekan terakhir dari semula Rp 23.000 kini Rp 25.000 per kilogram atau naik 8 persen.

”Pasokan ayam agak tersendat. Hari Kamis saya tidak dapat kiriman ayam. Padahal hari itu saya dapat pesanan 300 potong. Terpaksa uang pembeli saya kembalikan,” kata Ari, salah seorang pedagang di Pasar Pagi Solo, Jumat lalu.

Laporan kenaikan harga juga terjadi di sejumlah daerah, seperti Jakarta, Tangerang, Medan, Lampung, Palembang, dan Makassar. Akibat harga yang bertahan tinggi, konsumen mulai menurunkan jumlah barang pembelian mereka.

Diakui oleh pedagang, selain permintaan meningkat, pasokan barang yang terganggu dan ulah pedagang menahan barang juga membuat harga semakin melambung.

Mengurangi pembelian

Akibat harga kebutuhan pokok yang bertahan tinggi, para konsumen memilih mengurangi jumlah barang yang dibeli.

Manihuruk, pedagang kebutuhan sehari-hari di Jalan Gagak Hitam, Medan, Jumat, mengatakan, perlu pintar-pintar mengatur belanjaan dan menetapkan harga agar bisa belanja dan tidak ditinggalkan pembeli.

Yani, ibu rumah tangga di Tanjungsari, Medan, mengatakan sudah biasa harga naik menjelang puasa. Para ibu sudah membiasakan diri dengan masalah klasik tiap tahun, yakni kenaikan harga menjelang puasa dan Lebaran. ”Gimana lagi, harus pintar ngatur uanglah,” kata Yani.

Dwi Susiati (47), ibu rumah tangga warga Langenharjo, Sukoharjo, Jawa Tengah, mengatakan, ia terpaksa mengurangi pembelian beras agar bisa membagi penghasilannya cukup untuk semua kebutuhan. Penghasilannya Rp 12.000 per hari digunakan untuk belanja makanan keluarga, ongkos, dan biaya sekolah anak, dan lainnya.

”Kalau biasanya beli beras 1 kilogram, sekarang 0,5 kilogram saja. Sehari-hari kami makan pakai tahu dan tempe. Kadang-kadang saya dan suami tidak makan, yang penting anak-anak dulu. Seminggu sekali saya usahakan pakai daging, seperti kepala ayam, supaya ada gizinya,” kata Dwi Susiati.

Sikap konsumen ini membuat kalangan pedagang juga risau dan bingung. Partinem dan sejumlah pedagang bahan makanan yang ditemui di Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta, pun mengeluh. Harga tinggi membuat konsumen mengurangi belanja mereka.

”Yang biasanya beli 1 kilo, sekarang mengurangi jadi 0,5 atau malah 0,25 kilogram. Harga berubah setiap saat. Saya kalau harganya tinggi, mau ambil barang jadi ragu-ragu. Bisa habis terjual apa tidak,” tutur Partinem.

Meski demikian, harga-harga di sejumlah daerah mulai berangsur turun karena pasokan yang mulai lancar. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Denpasar I Wayan Gatra penurunan harga di daerahnya mulai terjadi karena pasokan mulai lancar dari Pulau Jawa dan Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ia membenarkan bulan lalu pasokan tersendat karena pengaruh cuaca yang menyulitkan pengiriman lewat laut serta kegagalan panen di Pulau Jawa.

”Kami berupaya mengantisipasi dengan mengimbau kepada para distributor bahan pokok agar selalu memiliki cadangan sehingga mampu menstabilkan harga. Kalau harga sudah melonjak, kami pun mengimbau membuka pasar murah,” kata Gatra, kemarin.

Sementara Obrin Saleh (49), salah satu distributor beras dan gula di Pasar Induk Jaka Baring, Palembang, menegaskan, kenaikan harga beras di sejumlah pasar tradisional Kota Palembang terjadi karena ada penurunan stok di tingkat distributor maupun pedagang pasar. Alasannya, mayoritas pengepul yang merupakan pemasok rutin bagi distributor mulai mengurangi jatah hingga 50 persen, selama tiga minggu terakhir.

Obrin menduga para pengepul beserta para spekulan sengaja menahan suplai ke pasar agar terjadi lonjakan harga. Diperkirakan tindakan itu dilakukan untuk memanfaatkan momen Ramadhan yang sebentar lagi tiba dengan tujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya.

(Tim Kompas)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s