Kegaduhan Gurita Cikeas

DEMOKRASI tidak selamanya pilihan enak, tetapi pilihan pahit yang harus dirawat dengan ketabahan untuk kemudian menjadi sebuah realitas manis. Reformasi yang telah berjalan satu dasawarsa di Indonesia adalah kesadaran kolektif kita untuk memilih yang pahit itu.

Demokrasi yang memberi tempat terhormat pada kebebasan pasti memunculkan kegaduhan. Tetapi, dialog adalah semangat resolusinya. Dengan dialog, konflik diselesaikan tanpa kekerasan. Pilihan itu dilengkapi lagi dengan hukum yang berpihak pada kebenaran dan keadilan.

Demokrasi akhirnya seperti pertandingan sepak bola. Ada yang cedera, patah kaki, babak belur, masuk rumah sakit, tetapi tetap taat pada keputusan wasit dan menjunjung tinggi sportivitas. Itulah yang menyebabkan sepak bola nikmat bagi penonton, juga nikmat bagi pemain.

Inilah ilustrasi demokrasi yang kita hadirkan untuk menanggapi kegaduhan tentang buku ‘Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Skandal Bank Century’. Inilah buku yang menulis tentang sesuatu yang selama ini dipergunjingkan soal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara berani dan terbuka. Penulisnya adalah George Junus Aditjondro, wartawan yang kini menjadi ilmuwan.

Bila selama ini tidak ada lembaga atau orang yang berani menulis seperti Aditjondro, persoalannya adalah pada kekurangan legitimasi. Kekurangan data dan verifikasi. Perkara yang fundamental dalam penulisan sebuah buku.

Namun, bagi Aditjondro, legitimasinya ada. Sebagian besar data dalam bukunya dihimpun dari berita-berita di surat kabar yang tidak pernah dinyatakan salah atau fitnah. Hebatnya, Aditjondro menerima tantangan digugat ke pengadilan bila bukunya itu berisi cerita bohong dan fitnah.

Sejauh ini, memang, belum ada perintah siapa pun untuk melarang peredaran buku ‘Gurita Cikeas’. Tetapi, buku itu telah menghilang dari toko-toko buku. Sebagian karena kesadaran toko buku untuk tidak memperkeruh suasana. Tetapi, sebagian lagi mengaku menerima telepon dari pihak-pihak yang menghendaki mereka tidak menjual buku tersebut.

Undang-undang hanya membolehkan Kejaksaan Agung yang memiliki wewenang untuk melarang peredaran sebuah buku. Tetapi, sampai sejauh ini Kejaksaan Agung mengaku belum memerintahkan apa-apa tentang ‘Gurita Cikeas’. Berarti ‘Gurita Cikeas’ boleh beredar.

Bila menghormati tradisi akademik, buku Aditjondro harus dilawan dengan buku juga. Atau pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh buku itu meminta Aditjondro menerbitkan edisi revisi.

Adalah dilematis bagi Presiden Yudhoyono. Terlalu sering berkonflik terbuka di depan publik soal fitnah dan pencemaran nama baik bisa-bisa meruntuhkan kredibilitas. Bila dibiarkan, semakin banyak muncul orang yang pasang badan untuk berkonflik dengan data-data mentah. Misalnya kelompok Bendera yang sampai sekarang ‘ngotot’ dengan kebenaran data mereka tentang uang Century yang mengalir ke kalangan Cikeas.

Pilihan terpahit adalah ke pengadilan. Hanya, bila itu dilakukan dan pada akhirnya ‘Gurita Cikeas’ dilarang, ini adalah malapetaka bagi dunia perbukuan. Orang bijak bilang, “Membakar buku adalah kejahatan. Tetapi kejahatan sesungguhnya adalah buku yang tidak dibaca.” Baik karena dilarang ataupun dibakar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s