Angket Century dan Kisah Lehman

Di hari-hari mendatang, Senayan tampaknya akan gegap gempita lagi. Maklum angket Bank Century telah digulirkan. Sejumlah 220 anggota Dewan dari semua fraksi, kecuali Partai Demokrat, memberikan tandatangan. Munculnya hak angket ini, pertama-tama karena adanya kecurigaan bahwa uang bailout (talangan) Bank Century sebesar Rp6,7 triliun, sebagian dipakai dengan tidak semestinya.
Bahkan di antara anggota DPR ada yang menduga, uang itu dipakai Cikeas untuk membiayai kampanye Pilpres (SBY-Boediono). Namun demikian, tak sedikit anggota DPR yang menandatangani hak angket itu semata-mata karena ingin tahu, ada apa sebenarnya di balik bailout Bank Century. Jika pun mereka menduga ada uang bailout yang pemakaiannya tidak on the track, mereka tak mengarahkan tuduhannya ke Cikeas.
Imbas Lehman ke Century
Untuk menggambarkan bagaimana munculnya kebijakan bailout Bank Century sebesar Rp6,7 triliun, mungkin kita perlu mengingat gambaran suasana gejolak ekonomi dunia saat itu sekitar semester terakhir tahun 2008-akibat kebangkrutan bank investasi Lehman Brothers di AS.
Bailout Century dilakukan 20 November 2008, hanya 65 hari setelah bangkrutnya Lehman Brothers, 15 September 2008. Kebangkrutan Lehman dipicu kegagalan kredit perumahan kelas bawah di AS (subprime mortgage) yang mencapai 8,2 milyar dolar. Akibatnya, Lehman tak mampu membayar surat-surat berharganya yang jatuh tempo. Dampaknya, saham Lehman runtuh dan dinyatakan bangkrut. Bangkrutnya Lehman Brothers — salah satu bank investasi terbesar di AS — menimbulkan efek domino yang luar biasa di suluruh dunia. Ekonomi dunia panik. Jatuhnya saham-saham yang berkaitan dengan Lehman yang dimiliki lembaga-lembaga keuangan di seluruh dunia, membuat bangunan sistem finansial dunia rontok. Bloomberg mencatat: Citigroup menderita kerugian 55,1 (milyar dolar), Merril Lynch 51,8, UBS 44,2, HSBC 27,4, Wachovia 22,5, Bank of America 21,2, IKB Deutsche 15,3, Washington Mutual 14,8, Morgan Stanley 14,4, JP Morgan 14,3, Deutsche Bank 10,8, Credit Suisse 10,5, dan Barclays 9,1 milyar dolar. Washington juga terpaksa menyuntikkan dana 70 miliar dolar ke pasar keuangan untuk menolong likuiditas lembaga-lembaga keuangannya. Hal yang sama dilakukan Bank Sentral Eropa (ECB) yang menyuntikkan dana 99,4 (miliar dolar), Bank of England 35,6, Swiss National Bank 7,2 dan Bank of Japan 24 miliar dolar.
Untuk menyelamatkan perekonomian AS, Presiden Obama menggelontorkan stimulus 789 milar dolar. Bila dihitung secara teoritis, kerugian perekonomian dunia akibat efek domino jatuhnya Lehman mencapai lebih dari 1000 milyar dolar. Tapi dalam realitas, kerugian itu bisa tiga kali lipatnya karena banyak perusahaan di seluruh dunia yang bangkrut dan jutaan orang kehilangan pekerjaannya. Padahal, kejatuhan Lehman hanya akibat kerugian 8,2 milyar dolar AS. Seandainya Washington mau mem-bailout 82 miliar dolar saja 10 kali lipat kerugian Lehman akibat kredit macetnya niscaya kebangkrutan ekonomi dunia bisa dihindarkan. Bailout tersebut menumbuhkan kembali kepercayaan masyarakat dunia kepada Lehman dan sistem finansial AS, sehingga malaise ekonomi global tidak akan terjadi.
John H Cochrane dan Luigi Zingales, keduanya guru besar ilmu keuangan Universitas Chicago, AS, dalam artikelnya di The Wall Street Journal (15/9/09), menulis: Jika saja Washington mau mem-bailout Lehman Brothers, maka cerita perekonomi AS akan lain. Amerika akan terhindar dari penurunan output nasional sebesar 4 persen, peningkatan pengangguran (dari 6,2 menjadi di 9,7 persen), dana stimulus 789 miliar dolar, dan defisit anggaran 1,59 triliun dolar. John dan Luigi sangat menyayangkan, kenapa Washington saat itu membiarkan Lehman bangkrut. Bukankah sebelumnya Washington sudah menyelamatkan AIG salah satu perusahaan asuransi terbesar di dunia yang beraset lebih dari 1000 milyar dolar AS — dengan hanya menyuntikkan dana 100 milyar dolar saja? Kenapa Lehman tidak dibailout, tulis John dan Luigi.
Gambaran seperti itulah yang seharusnya dilihat dari kasus bailout bank Century. Kita tahu Bank Century mempunyai aset Rp 14,5 triliun pada situasi normal (tanpa rush) dengan dana pihak ketiga Rp 9 triliun. Bank dengan aset sebesar itu memang tergolong kecil dibandingkan dengan bank-bank swasta besar seperti BCA (250 triliun) dan Danamon (100 triliun). Tapi, harap diingat bahwa bank sebesar Century jumlahnya cukup banyak. Jika saja saat itu Bank Century dibangkrutkan, dalam kondisi keuangan dunia seperti itu, niscaya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan Indonesia akan runtuh. Bukan tidak mungkin efek dominonya akan menjatuhkan juga bank-bank yang lebih besar dari Century. Jadi, sangat rasional, jika pemerintah dalam hal ini Gubernur BI Boediono dan Menkeu Sri Mulyani saat itu memprediksi, jika Bank Century tidak di-bailout, maka kerugiannya bisa mencapai Rp 30 triliun akibat efek dominonya.
Kita harus mengakui secara jujur bahwa fondasi perekonomian Indonesia belum kuat. Peranan hot money (yang mudah sekali kabur ke luar negeri bila kondisi tidak meyakinkan investor) amat besar dalam perekonomian Indonesia. Sebagai gambaran, karena pengaruh bangkrutnya Lehman, cadangan devisa Bank Indonesia saat itu langsung turun sekitar 7 miliar dolar AS. Akibatnya, rupiah melemah ke level terendah 12 ribu per dolar AS saat itu.
Dari perspektif itulah, kita bisa memahami munculnya kebijakan bailout Bank Century di atas. Ini merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah serta sikap protektif BI terhadap berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi akibat runtuhnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional. Jadi, sangat jauh dari prediksi kalau uang bailout itu dipakai Cikeas untuk dana kampanye Pilpres. Lagi pula, faktanya setelah di-bailout, Bank Century yang sekarang berubah menjadi bank Mutiara sudah sehat kembali. Dan dana talangan bailout dari BI sebesar Rp 6,7 triliun, kata Wapres Boediono, tidak akan hilang karena bisa dikonversi dengan aset-aset yang dimiliki Bank Century.
Memang ada kecurigaan, aliran dana bailout Bank Century, tidak transparan. Sejumlah nasabah besar, justru mendapat ganti rugi. Sedangkan nasabah kecil, tidak mendapat ganti rugi. Jika itu yang terjadi, permasalahan tidak terletak pada kebijakan bailout-nya, tapi pada merkanisme distribusi dana talangannya. Untuk itulah, audit BPK, perlu dibuka dulu. Sebab dari situlah bisa terlihat ke mana aliran dana bailout tersebut. Soal bagaimana nasabah kecil yang belum dapat dana talangan, barangkali hanya menunggu waktu. Pemerintah, niscaya akan menyelesaikannya.
Sayang, nuansa politik dalam kasus Century jauh lebih kental ketimbang nuansa ekonominya. Pengguliran hak angket sebelum selesainya audit BPK, hanya menimbulkan kecurigaan-kecurigaan yang tak tentu arahnya. Dampaknya jelas kontra produktif terhadap program 100 hari kinerja kabinet SBY.

Oleh Drs H Sutan Bhatoegana, MM, Wakil Ketua Fraksi Partai DPR RI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s