HUACHIAO dan HUAREN

Pada 1 Oktober 2009 yang lalu, dalam rangka memperingati 60 tahun proklamasi berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, di lapangan Tiananmen telah diselenggarakan parade yang luar biasa megahnya. Pemerintah RRT di bawah pimpinan PKT, presiden Hu Jindao dan perdana menteri Wen Jiabao seolah ingin mendemonstrasikan kemajuan ekonomi dan angkatan bersenjatanya, terutama setelah adanya reformasi ekonomi yang dicanangkan Deng Xiaoping pada 1978. Politik pintu terbuka negara “tirai hambu” dan pembangunan ekonomi pasar, bertolak belakang dengan Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP) yang dikobarkan Mao Zedong dan para pendukungnya Marsekal Lin Biao dan the Gang of Four, Jiang Qing, Yao Wenyuan, Wang Hongwen dan Zhang Chungqiao pada 1966.

Setelah Mao meninggal dunia pada 9 September 1976, Deng Xiaoping dengan dukungan Marsekal Ye Jianying berhasil menyingkirkan lawan-lawan politiknya yang dipimpin Hua Guofeng sebagai pengganti Mao dan para pengikut setianya.

Ternyata hanya dalam waktu 30 tahun pemerintah RRT telah berhasil melakukan pembangunannya, baik politik,ekonomi dan militer dengan sangat luar biasa dan Tiongkok telah berubah dari negara yang terbelakang menjadi pesaing utama negara super power, Arnerika Serikat yang pada awal dekade 90-an berhasil memenangkan perang dingin yang berlangsung sejak berakhirnya PD II.

Setelah pada 2008 RRT berhasil menyelenggarakan pesta Olirnpiade yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah pesta olah raga tersebut, kini dunia dibuat kagum dengan diselenggarakannya parade 1 Oktober tersebut. Tiongkok berhasil melakukan pembangunan ekonommya secara massif, terbukti dengan cadangan nasionalnya yang berjumlah 2,3 triliun US dollar dan pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang diperkirakan mencapai 8 %, demikian juga diperkirakan tahun 2009 Tiongkok akan menjadi negara eksportir terbesar di dunia, mengalahkan Jerman. Pertumbuhan ekonomi sebesar 8 %, di tengah-tengah berlangsungnya krisis ekonomi global yang merontokkan hampir seluruh negara-negara industri maju di dunia merupakan suatu prestasi yang luar biasa.

Ada dua hal yang menarik dalam parade tersebut. Yang pertama parade militer yang menampilkan seluruh alutsistanya, mulai dari yang konvensional sampai yang sangat modern dengan berbagai rudal mulai dari rudal anti pesawat udara sampai rudal antar benua.Yang mengagumkan. seluruh alutsista tersebut buatan dalam negeri sendiri.

Yang kedua, dalam parade tersebut juga ditampilkan anjungan yang mewakili para Huachiao yang bertebaran di seluruh dunia. Nah, masalah inilah yang banyak menarik perhatian masyarakat Tionghoa di Indonesia. Karena di dalam masyarakat masih terjadi kekaburan pengerttan antara istilah Huachiao dan Huaren. Banyak yang mengira bahwa yang dimaksud dengan Huachiao adalah selurah orang Tionghoa yang berdiam di berbagai negara di luar daratan Tiongkok, termasuk yang sudah menjadi warga negara di negara-negara tempat rnereka tinggal.
Yang benar Huachiao adalah warga negara Tiongkok yang berdiam di negara-negara di luar daratan Tiongkok, sedangkan Huaren adalah orang-orang yang nenek moyangnya berasal dari daratan Tiongkok tetapi telah menjadi warga negara di negara-negara tempat mereka tinggal. Khusus untuk orang-orang Tionghoa di Indonesia disebut Huayj.
Pesta Olimpiade dan parade 1 Oktober yang megah tersebut seyogyanya tidak perlu ditanggapi masyarakat Tionghoa di Indonesia (Huayi) dengan eforia yang berlebihan. Sebagai negara leluhur dan negara dunia ketiga, wajar kalau kita turut menyambut dan bergembira akan kemajuan yang dicapai oleh Tiongkok. Setidaknya kita mengharapkan kemajuan Tiongkok akan memberikan keseimbangan kekuatan di dunia, sehingga akan membuat dunia menjadi lebih damai dan harmonis. Di samping itu barangkali kita dapat belajar dari mereka agar negara kita dapat mengejar ketinggalannya.
Tetapi kita haras menyadari bahwa kita teiah menjadi warga negara Republik Indonesia yang kita cintai.Hubungan kita dengan daratan Tiongkok hanya hubungan kekerabatan dan budaya saja, tidak lebih. Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa kita adalah Huayi bukan

Huachiao yang diwakili dalam anjungan pada parade 1 Oktober di Tiananmen. Sesuai dengan seruan Perdana Menteri Zhou Enlai dan semboyan luo di shen gen, sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita harus terjun ke dalam mainstream bangsa Indonesia untuk bersama-sama membangun negara kita, meningkatan pendapatan, pendidikan dan kesehatan rakyat agar negara kita dapat mengejar ketinggalannya dan menjadi negara yang terpandang di dunia.

Oleh Benny G.Setiono
(Penulis adalah pengarang buku Tionghoa Dalam Pusaran Politik).

Harian Pelita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s