BOS Belum Tepat; Sebagian Besar untuk Honor Guru dan Tenaga Honorer

Jakarta, Kompas – Dana bantuan operasional sekolah di jenjang pendidikan dasar berkontribusi positif pada peningkatan prestasi sekolah. Namun, tidak adanya petunjuk rinci soal penggunaan dana itu menyebabkan terjadinya kesalahan penggunaan.

Demikian hasil penelitian Bahar Sinring, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muslim Indonesia Makassar, Sulawesi Selatan, yang dipaparkan Rabu (28/10) di Jakarta. Penelitian dilakukan bersama Pusat Penelitian Departemen Pendidikan Nasional yang dibahas dalam seminar bertajuk ”Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah”.

Bahar menjelaskan, berdasarkan penelitian soal pemanfaatan dana bantuan operasional sekolah (BOS) di jenjang sekolah dasar (SD)/madrasah ibtidaiyah (MI) di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur, dana BOS bermanfaat untuk meningkatkan prestasi sekolah. Yang masuk dalam prestasi sekolah yang dikaji adalah tingkat pendaftaran, angka putus sekolah, tingkat kelulusan, dan prestasi akademis peserta didik.

Pola dan penggunaan dana BOS tiap provinsi tidak sama. Ini karena tidak ada aturan proporsi peruntukan dan penggunaan dana BOS. Akibatnya, dana BOS tidak tepat sasaran penggunaan. ”Itu diketahui sekolah saat pemeriksaan BPK,” kata Bahar.

Di setiap provinsi dana BOS paling besar digunakan untuk gaji guru dan tenaga administrasi honorer yang proporsinya 20-40 persen. ”Akibatnya, dana BOS yang dapat dinikmati siswa miskin berkurang,” kata Bahar.

Meskipun diperbolehkan, mestinya gaji guru dan pegawai honorer dialokasikan dari dana pemerintah daerah, bukan dari BOS. Adapun dana BOS mestinya diprioritaskan untuk biaya operasional sekolah, seperti membeli buku referensi, buku teks, kegiatan ekstrakurikuler, serta untuk bantuan siswa miskin.

Mulai 2005/2006

Dana BOS dikucurkan mulai tahun ajaran 2005/2006. Anggarannya senilai Rp 235.000 per siswa setiap tahun untuk SD/MI. Pada tahun 2007 BOS naik jadi Rp 267.000 per siswa setiap tahun serta ditambah BOS buku sebesar Rp 22.000 per siswa. Tahun ini BOS SD/MI naik menjadi Rp 400.000 untuk siswa di perkotaan serta Rp 397.000 untuk siswa di kabupaten.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional Mansyur Ramly menambahkan, pendanaan pendidikan melalui dana BOS perlu dilanjutkan serta kualitas guru dan sekolah harus ditingkatkan.

”Dari studi inilah, kami akan melangkah untuk peningkatan mutu sekolah,” kata Ramly.

Program BOS diharapkan tidak untuk berperan dalam mempertahankan angka partisipasi kasar, tetapi juga harus berkontribusi besar untuk peningkatan mutu pendidikan dasar. (ELN)
Kamis, 29 Oktober 2009 | 03:58 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s