Apa Pun yang Terjadi, Pelayanan Masyarakat Jangan Terganggu

Konflik Kepala Daerah

Sejak awal masa jabatannya, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih kerap berbeda pendapat mengenai beberapa hal. Seusai pemilihan presiden, jarak antara keduanya makin tampak. Rustriningsih semakin jarang muncul di forum publik maupun pemerintahan.

Peran seorang wakil kepala daerah pun mulai dipertanyakan. Rustriningsih semakin tidak memiliki peran di Pemerintah Provinsi Jateng, sedangkan Bibit semakin mendapat simpati karena perannya.

Dalam beberapa masalah, perbedaan keduanya sangat terlihat jelas. Masalah pendirian pabrik semen di Sukolilo, Pati, misalnya, Bibit sangat mendukung agar pabrik semen itu segera dibangun, sedangkan Rustriningsih lebih mendengarkan suara rakyat yang akan terkena dampak jika pabrik semen dibangun di Sukolilo.

Berbagai permasalahan yang terjadi di awal masa pemerintahan muncul, dan Rustriningsih masih memiliki peran. Saat bencana banjir dan tanah longsor melanda Jateng akhir tahun lalu, misalnya, Rustriningsih dengan sigap mengumpulkan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) untuk mengatasi hal itu.

Masalah dimulai ketika kampanye pemilihan presiden tiba. Rustriningsih memilih untuk ikut berkampanye bagi pasangan Megawati-Prabowo yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra, sedangkan Bibit memilih tidak berkampanye karena merasa tidak lagi memiliki keterikatan dengan partai politik. Waktu itu Bibit sempat dicap sebagai kacang yang lupa kulitnya.

Sejak itu, peran Wakil Gubernur Rustriningsih semakin tidak terlihat. Hampir setiap permasalahan ditangani langsung oleh Gubernur, misalnya pembangunan jalan tol, pembangunan megaproyek di Kota Semarang, hingga masalah di Kawasan Industri Terboyo di Kota Semarang.

Rustriningsih mengatakan, dia memahami kalau tidak banyak dilibatkan dalam keputusan penting di Pemprov Jateng. Artinya, gubernur boleh saja one man show, asalkan gubernur menguasai dengan baik masalah di 30-38 sektor pembangunan di Jateng.

“Tanpa penguasaan lapangan, dikhawatirkan program-program tidak berjalan sesuai dengan rencana semula. Saya hanya kuatir soal itu,” kata Rustriningsih.

Meskipun Rustriningsih mengeluhkan kurangnya koordinasi antara dirinya dengan Gubernur, Bibit mengatakan bahwa tidak ada masalah antara dirinya dengan Wakil Gubernur. Hal ini tercermin dalam kinerja Pemprov Jateng yang tetap berjalan baik. “Kinerja kami justru dinilai paling baik oleh pemerintah pusat. Itu kan berarti tidak ada masalah,” kata Bibit.

Ditanya pendapatnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Ihwan Sudrajat, mengatakan tidak tahu-menahu perihal konflik yang terjadi antara Gubernur dan Wakil Gubernur.

“Itu kan hanya di media saja yang bikin ramai. Yang penting semua jalan seperti biasa,” ujarnya.

Pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Diponegoro Semarang Susilo Utomo mengatakan, secara kinerja apa yang terjadi tersebut memang tidak bermasalah karena semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) mengacu kepada keputusan Gubernur. Namun, secara substansial, pemahaman kepala daerah dan wakilnya sebagai satu paket masih kurang. Wakil masih dipahami sebagai anak buah atau bawahan kepala daerah.

Muhnur dari Lembaga Bantuan Hukum Semarang berharap, meski terjadi konflik antara gubernur dan wakil gubernur, pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. (Amanda Putri/Winarto Herusansono)
Kompas, Senin, 26 Oktober 2009 | 10:17 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s