SYEKH AHMAD MUTAMAKKIN; Perajut Budaya, Agama, dan Kekuasaan

Ulama asal Cebolek ini menawarkan pendekatan baru dalam membangun akidah umat. Sebagian orang, ada yang memandang rendah seorang ustadz atau kiai yang berasal dari kampung. Umumnya, para ustadz atau kiai kampong ini dianggap kolot, ndeso, sarungan, dan kampungan. Kesan itu biasanya diungkapkan oleh orang-orang yang tidak mengenal kepribadian sang tokoh tersebut.

Namun siapa sangka, tokoh yang biasa pakai sarung, dianggap tak punya keilmuan lebih dibandingkan orang-orang yang berasal dari perkotaan, justru tampil elegan, moderat, dan punya cara elegan dalam melakukan pendekatan dengan penguasa.

Itulah Syekh Ahmad Mutamakkin, seorang ustaz, ulama, dan kiai yang berasal dari Kampung Cebolek, sekitar 10 kilometer dari Tuban. Namun, kemudian menetap di Desa Cebolek, Kajen, Pati, hingga wafatnya. Sebagian Muslim di Jawa Tengah, menyebut tokoh ini dengan nama Mbah Mbolek atau Mbah Mutamakkin. Demikian penuturan Hasyim Asyari, peneliti senior pada Central Riset dan Manajemen Informasi (CeRMIN), Kudus.

Hasyim menjelaskan, berdasarkan keterangan masyarakat sekitar Kajen, Mbah Mutamakkin ini masih keturunan bangsawan Jawa, dari garis bapak adalah keturunan dari Raden Patah (Sultan Demak) yang berasal dari Sultan Trenggono. Sedangkan dari garis ibu, Syekh Mutamakkin adalah keturunan dari Sayyid Aly Bejagung, Tuban, Jawa Timur. Sayyid ini mempunyai putra bernama Raden Tanu. Dan, Raden Tanu ini mempunyai seorang putri yang menjadi ibunda Mbah Mutamakkin. “Dipercayai bahwa nama ningrat Mbah Mutamakkin adalah Sumohadiwijaya, yang merupakan putra Pangeran Benawa II (Raden Sumohadinegoro) bin Pangeran Benawa I (Raden Hadiningrat) bin Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Ki Ageng Pengging bin Ratu Pembayun binti Prabu Brawijaya V,” jelas Hasyim.

Serat Cebolek dan Teks Kajen
Mayoritas umat Islam di Indonesia mungkin kurang mengenal nama Syekh Ahmad Mutamakkin. Namun demikian, di Jawa Tengah khususnya, nama tokoh ini begitu lekat dengan kehidupan masyarakat. Tokoh ini dikenal sebagai seorang “pemberontak” melawan arus kekuasaan. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang kontroversial, ketika itu. Zainul Milal Bizawie dalam bukunya, Perlawanan Kultural Agama Rakyat : Pemikiran dan Paham Keagamaan Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi, menyebutkan, tokoh ini sebagai seorang “neo-sufi” pada abad ke-17-18 Masehi (1645-1740 M).

Menurut Zainul, Syekh Ahmad Mutamakkin adalah tokoh sufi atau penganut tasawuf yang prosekusi dari yang berkuasa. Sebuah kehidupan kaum sufi yang memiliki pandangan berbeda dengan pandangan umat. Seperti halnya Husain Ibn al-Hallaj yang wafat pada 922. Syekh Ahmad Mutamakkin ini juga dikaitkan dengan cerita lain yang terkenal pada awal perkembangan Islam di Jawa, yaitu Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging, Sunan Panggung, dan Amongraga.

Dalam Serat Cebolek disebutkan, Syekh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama kampung, berseteru dengan ulama birokrat (Keraton Solo) yang diwakili oleh Katib Anom Kudus. Dalam serat ini dikisahkan, Syekh Ahmad Mutamakkin mengajarkan ilmu hakikat (tasawuf) kepada khalayak ramai. Namun, ajaran ini dianggap sesat oleh sejumlah ulama lain, termasuk Katib Anom.

Katib Anom lalu melaporkan hal ini pada pihak Kerajaan Kartasura di Solo. Pengadilan pun dilakukan atas diri Kiai Mutamakkin. Menurut Gus Dur, pandangan ulama-ulama itu begitu tampak membebek dengan kekuasaan. Sementara itu, Syekh Ahmad Mutamakkin berani melakukan perlawanan kultural dengan kekuasaan yang dianggap salah.

Dalam pandangan Gus Dur, Syekh Mutamakkin memiliki pendapat yang berbeda dengan ulama dan pihak Keraton dalam mengajarkan Islam pada umat. Sebab, Islam itu bukan hanya fikih, tetapi juga ada ilmu lain, seperti tasawuf. “Beliau tampaknya ingin memperkenalkan kultur baru atau budaya baru dalam mendidik rakyat,” jelas Gus Dur pada sebuah diskusi mengenai Kehidupan Syekh Ahmad Mutamakkin, beberapa waktu silam.

Sultan Hamengkubuwono X dalam artikelnya berjudul Misteri Mantra dalam Naskah-naskah Keraton, menyatakan, kisah dalam Serat Cebolek tampaknya memihak para ulama yang mewakili ajaran Islam ortodoks, ketimbang usaha yang dilakukan Syekh Ahmad Mutamakkin.

Peran Syekh Ahmad Mutamakkin yang “melawan kekuasaan” sebagaimana disebutkan dalam Serat Cebolek, justru bertolak belakang dengan Teks Kajen. Dalam teks ini, Syekh Ahmad Mutamakkin digambarkan sebagai seorang pahlawan yang berani menentang kejahilan. Bahkan, dalam teks ini, Syekh Mutamakkin dipandang sebagai pihak yang benar. Menurut Sultan HB X, Syekh Mutamakkin mewakili pola atau “tipikal” ajaran dalam sejarah Islam: pertentangan antara “ilmu lahir” dan “ilmu batin”, ilmu hakikat dan ilmu syariat, Islam ortodoks dan Islam heterodoks, “serat resmi” dan “serat rakyat”.

Dalam Serat “Sastra Gendhing” (Kesucian Jiwa) karya Sultan Agung, naskah yang lebih tua dari Serat Cebolek, memuat beberapa bait tembang Sinom. Pramila gendhing yen bubrah, gugur sembahe mring Widdhi, Batal wisesaning shalat, tanpa gawe ulah gendhing, Dene ngran tembang gendhing, tuk ireng swara linuhung, Amuji asmane Dhat, swara saking osik wadhi, Osik muiya entaring ciptasurasa.

Sultan Agung menegaskan bahwa kesalahan orang dalam mempelajari agama Islam, kebanyakan terletak pada kecenderungan untuk mudah dimabukkan oleh arus syariat. Diperingatkannya, pedoman yang harus diingat-ingat ialah: “Syariat tanpa hakikat adalah kosong. Sebaliknya, hakikat tanpa syariat menjadi batallah shalat seseorang.” Hal ini senada dengan pandangan Abu Hamid Muhammad al-Ghazali. “Hakikat dan syariat itu penting. Belajar syariat tanpa hakikat adalah kosong, tak berguna. Dan, hakikat tanpa syariat, maka batal.” Orang yang mengutamakan syariat dan meninggalkan hakikat, bagaikan mengejar kulit, namun melupakan isi.

Guru Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ahmad Syalabi, dalam Mempelajari Raga tanpa Mempelajari Jiwa, mengecam cara-cara ulama Mesir abad ke-20 yang secara dangkal melihat semua segi kehidupan beragama dari segi materiilnya saja. Seperti itulah pola pengajaran yang dilakukan Syekh Ahmad Mutamakkin.

Menurut Hasyim Asyari, ajaran Islam tak hanya dilakukan dengan pendekatan fikih, tafsir, dan lainnya. Islam juga bisa didekati dan dikenali melalui pendekatan hakikat dan tasawuf. Mungkin, karena hal inilah sebagian ulama fikih, seperti Katib Anom, Kudus, merasa khawatir dengan ajaran yang dikembangkan Syekh Ahmad Mutamakkin. Sehingga, dikhawatirkan pemahaman keagamaan seperti ini akan membahayakan akidah umat yang baru belajar tentang keislaman.

Namun demikian, bagi Syekh Ahmad Mutamakkin, pengenalan jati diri dan hakikat ketuhanan, sangat penting dalam membentuk pemahaman umat. Sebab, agama Islam bukan hanya transaksional semata, yakni sekadar pahala dan dosa, atau surga dan neraka. Sebab, surga dan neraka adalah urusan Allah. Karena itu, mengenal Allah akan membentuk diri seorang Muslim makin mencintai Sang Penciptanya. Sebab, orang yang sangat cinta pada Allah, akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Kebahagiaannya jauh melebihi segalanya.

Pemahaman seperti ini pula yang dilakukan oleh Rabiatul Adawiyah, dalam menjalankan ibadah. Simak ungkapan Adawiyah. ?Ya Allah, kalau ibadahku semata-mata karena mengharapkan surga-Mu, maka jauhkanlah surga itu dari pandanganku. Kalau ibadahku karena takut akan neraka-Mu, dekatkan neraka itu padaku, biar jiwaku ada di dalamnya. Bagiku, Engkau cukup.?Wa Allahu A?lam.

sya/berbagai sumber

Sosok Syekh Ahmad Mutamakkin
Tak banyak literatur yang membahas tentang kehidupan pribadi Syekh Ahmad Mutamakkin. Salah satu buku yang membahas tentang sosoknya adalah karya Zainul Milal al-Bizawie, yang berjudul Perlawanan Kultural Agama Rakyat (Pemikiran dan Paham Ke agama an Syekh Ahmad al-Mutamakkin dalam Pergumulan Islam dan Tradisi, 1645-1740). Bagaimana kepribadian sosok ulama kontroversi asal Desa Cebolek ini? Berikut beberapa pandangan sejumlah tokoh nasional mengenai peranan Syekh Ahmad Mutamakkin.

KH Abdurrahman Wahid

Bagi saya, Mbah Mutamakkin adalah seorang guru spiritual yang sangat luar biasa. Mbah

Mutamakkin membawa pendekatan kultural baru dalam kehidupan umat, ketika itu. Caranya,melawan kekuasaan tidak dengan frontal, tapi melalui pendekatan kultural. Beliau mengajarkan, segala sesuatu tidak bisa dipandang hanya dengan kaca mata lahir, tetapi juga harus dilihat secara batin. Mbah Mutamakkin mengembangkan kultur atau model oposisi terhadap pe merintah, dengan pendekatan tidak anti dan tidak pro melainkan berbeda.

Bambang Pranowo

Pendekatan Mbah Mutamakkin dalam mengajarkan Islam, sangat menarik dicermati. Sebab, pendekatan yang dilakukan disesuaikan dengan tradisi masyarakat setempat. Ini memberikan arti bahwa ajaran Islam itu sangat universal. Dalam lakon Dewan Ruci, sangat jelas, bagaimana seharusnya seseorang mencari jati diri. Ia harus berusaha melawan hawa nafsunya karena itu akan membawanya pada hal hal yang menjerumuskannya dalam kenistaan.

Azyumardi Azra

Dari Serat Cebolek, tampak bagaimana pemikiran Syekh Ahmad Mutamakkin menampilkan sebuah gejala baru, keagamaan yang di era sekarang ini saya sebut dengan nama Trend Neo-Sufisme, yang itu berkembang melalui jaringan para ulama dan juga jaringan para guru murid, baik yang berada di dalam hierarki kekuasaan ataupun tidak.

Cara Syeikh Ahmad Mutamakkin, sama dengan yang dilakukan Kiai Ahmad Rifa’i dari Kalisalak Pekalongan, yang juga merefleksikan sebuah dinamika Intelektual. Syekh Ahmad Mutamakkin merefleksikan sikap Perlawanan Kultural Agama Rakyat. Maka, karya tentang Kiai Ahmad Rifa’i, yang ditulis Abdul Djamil mewakili perlawanan Islam birokratik. Syekh Ahmad Mutamakkin telah menunjukkan wacana intelektualitasnya. Keberadaan Syekh Mutamakkin, dan ulama nusantara lainnya, menunjukkan bahwa ulama Indonesia itu memiliki keilmuan yang sangat hebat ketika itu. Ini terlihat dari Kiai Ahmad Rifa’i (Kalisalak), Kiai Saleh Darat (Semarang), dan lainnya.

sya/dari berbagai sumber

Lakon Dewa Ruci

Dalam lakon Dewaruci, tokoh utamanya adalah Bima, putra kedua dari Pandawa Lima. Dikisahkan, dalam lakon tersebut, Bima mencari hakikat hidup yang disebut dengan Tirtasari. Ketika berada di sebuah gunung (Reksomuka), Bima harus berhadapan dengan dua raksasa penunggu gunung, yaitu Rukmaka dan Rekmukala.

Dinamakan gunung Reksomuka, karena orang akan terhalang untuk mendapatkan hakikat dalam kehidupan apabila tergoda akan kehidupan lahir. Muko berarti penampilan lahir, sedangkan ngrekso berarti memelihara. Orang yang hanya memelihara tampilan lahiriahnya kemudian tergoda untuk nyeleweng, disebut dengan ngreksomuka.

Namun, kedua raksasa ini dapat dikalahkan oleh Bima, dengan kesaktian yang dimilikinya melalui kuku Pancanaka. Setelah berhasil dikalahkan, Bima kemudian melanjutkan perjalanan. Dan, ia bertemu lagi dengan lima raksasa. Namun, kelimanya berhasil dikalahkan berkat kuku Pancanaka.

Setelah itu, Bima menyeberangi lautan dan ia berjumpa dengan seekor ular naga yang bernama Werkudara. Dalam pertarungan melawan ular naga ini, Bima berhasil mengalahkannya, lagi-lagi dengan kuku pancanaka. Setelah itu, Bima bertemu dengan Dewa Ruci. Namun ia kaget, karena Dewa Ruci adalah gambaran bima sendiri yang sangat kecil.

Kisah ini menggambarkan cara orang Jawa dahulu untuk mengajak umat agar mau melaksanakan shalat. Karena dengan shalat (rukun Islam kedua), akan mampu mengalahkan segalanya, dengan hati yang tulus dan ikhlas. Menurut Bambang Pranowo, kisah Dewa Ruci itu menunjukkan perjalanan seorang hamba dalam mencari hakikat jati diri. Bima berusaha menundukkan hawa nafsunya dengan cara melawan segala godaan dunia, termasuk perhiasan dunia agar tidak terjerumus dan menyeng sarakannya. Dan, ketika ketemu jati dirinya, sesungguhnya dirinya sangat kecil di mata Allah. Allah-lah yang Maha Besar.

sya/berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s