Sajak-sajak

Sajak-sajak
Minggu, 10 Mei 2009 | 03:00 WIB

M Aan Mansyur

Sebuah Sajak Sederhana yang Barangkali Lebih Baik Jika Aku Sebut Saja Sebagai Surat Kemudian Merelakannya Pergi Agar Suatu Petang Kau Menemukannya di Depan Pintu Sedang Menunggu Kau Pulang Kerja, Saat Kau Sangat Membutuhkan Sesuatu untuk Dibaca Sesaat Sebelum Cepat Istirahat untuk Segera Segar Bangun Pagi Lagi dan Kembali ke Kantor yang Dipenuhi Orang-Orang yang Tak Mau Memahami Kau, Orang-Orang yang Cuma Mampu Membuat Kau Semakin Tersiksa Merindukan Aku

—kepada nurhady sirimorok

sebelum jam membangunkan azan yang tidur di kubah masjid kau dengan sangat hati-hati membuka lalu menutup pintu kamar dan meninggalkan aku yang kau duga lelap dipeluk lengan-lengan mimpi atau tidur yang hampa

kau pikir itulah saat paling tepat buat berangkat, saat pagi belum bisa melihat siapa yang

lewat apalagi melihat apa itu yang tiba-tiba jatuh dari mata kau, sesuatu yang hangat yang

segera menjadi embun di ujung-ujung daun rumput di halaman

jika harus aku menuliskan semua jejak-jejak kegelisahan kau yang tak rela meninggalkan

aku, tentu saja sajak ini akan sangat panjang, barangkali lebih panjang dari perjalanan yang

kau tempuh sebelum tiba di sana, di tempat sekarang kau dikepung kegelisahan lain yang tak mampu kau tampung, kegelisahan yang melahirkan kegelisahan baru yang lebih banyak dan

lebih kuat

maka aku tuliskan saja dua perihal sederhana yang barangkali paling segera akan aku dan kau lupakan:

—piyama yang kau kenakan malam itu yang kau biarkan teronggok lesu di kaki tempat tidur. ketahuilah, piyama yang belum aku bawa ke tempat cuci dan masih berada di tempat itu,

selalu bicara tentang kau yang amat berat menanggalkan tubuh kau dari pelukannya yang berpeluh malam itu

—lampu tidur yang tetap bangun tetapi bermata rabun, yang cahayanya kau biarkan separuh hidup separuh redup. ketahuilah, mata lampu yang hingga kini masih bertahan hidup itu,

melulu bicara kepada aku tentang alangkah baik kau tak mau meninggalkan bayangan tubuh

lebih jelas di dingin tubuh dinding kamar

sementara perihal-perihal lain, aku yakin akan ada dan tak ingin mati, tambah tumbuh, di

kepala aku atau di dada kau atau sebaliknya bahkan setelah kau pulang lalu pergi lagi berkali- kali buat membunuh mereka

(sebenarnya aku tak suka menggunakan kata ‘kegelisahan’ dalam sajak ini sebab kau

terdengar sangat tersiksa oleh kata itu sementara aku tak menghendaki kau tersiksa sedikit

pun. namun entah kenapa aku hanya mampu menemukan kata itu buat menggambarkan

pikiran aku tentang perasaan kau saat hendak melepaskan diri dari kamar dan saat kau

dipenjara kamar lain di sana dan merindukan kamar ini di mana kau dan aku biasa berbincang sebelum tidur saling memunggungi)

Makassar, 2009

Mustafa Ismail

Kunang- kunang

maafkan aku bila pada satu sore aku

menemukanmu dalam gelas kopi dan meminumnya

stasiun tugu dan kali code memang telah jauh

tapi aku takut kau makin dekat,

masuk dalam darah dan menjadi kunang-kunang

di tengah padang

aku tidak ingin menjadi bocah-bocah malam

yang mengejar-ngejarmu dan mengajakmu

masuk dalam tidurku

sebab mimpiku makin aneh

bahkan aku tidak berani lagi bermimpi

malam makin menyakitkan

menyeret kita ke rumah jagal.

Semarang-Jakarta, 1 April 2009

Mustafa Ismail

Sepasang Kereta

—indrian koto-mutia sukma

mengapa code begitu penting diingat?

gardu itu memercik api.

“menyambutmu,” katamu dini hari itu

lampu memang tiba-tiba mati

kita tetap menghabiskan minuman dan

makan malam yang tertunda

rasanya aku telah mengenalmu begitu

lama: di manakah?

aku jarang ke stasiun

atau mungkin kau telah membentangkan rel

di depan rumah

setiap pagi menyamar menjadi sepasang tetangga

tapi aku tidak pernah melihatmu

selelah dini hari itu

tertidur saling berbagi mimpi: atau kau

sedang merancang sebuah pentas untuk esoknya?

wow, aku pun terlempar ke dalam sajakmu

sepasang peri kecil mengalungkan bunga

dan tersenyum tak henti-henti

“aku terharu mengenalmu,” katamu

mengapa kita menjadi begitu sentimentil?

baiklah, aku ingin menghadap jendela

di dalam gerbongmu yang sunyi

tanpa kau tanya ke mana tujuanku.

mengapa code begitu penting diingat?

kau telah tahu: dialah yang pertama kali

menyambutku, setelah dirimu,

bersama percik api di sebuah gardu.

Semarang-Jakarta, 1 April 2009

Mustafa Ismail

Mata Biru

selamat sore

aku harus pergi

apakah di sana hujan?

kupikir kau telah punya payung

aku hanya ingin mencatat:

matamu begitu biru

menyimpan pulau-pulau

dengan laut tak lagi asin

sore menjadi begitu ngilu

mulutku gagu

tapi harus kukatakan kini

aku menitip puisi di matamu

yang bakal jadi bibit hujan

dan sumber cahaya

selamat sore

aku harus pergi

tapi kereta telah lewat.

Yogyakarta, 30 Maret 2009

M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982. Kini ia bergiat di Komunitas Sastra Jalan Pulang dan Komunitas Literasi Biblioholic di Makassar. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Hujan Rintih-rintih (2005) dan Aku Hendak Pindah Rumah (2008).

Mustafa Ismail lahir di Aceh, 25 Agustus 1971. Kumpulan puisinya adalah Tarian Cermin (2007). Ia bekerja sebagai wartawan di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s