From Ubud with Love

From Ubud with Love
Minggu, 10 Mei 2009 | 03:32 WIB

Ilham Khoiri

Konflik, kekerasan, teror, dan rutinitas hidup membuat banyak orang galau, terasing, dan gersang. Sebagian kalangan lantas berusaha menekuni laku spiritual—yang dianggap bisa membantu menemukan jati diri serta menjalani hidup lebih harmonis. Sekadar gaya hidup sesaat?

Sinar matahari pagi menghangatkan Purnati Center for The Arts, taman asri di perbatasan Ubud dan Sukowati, Bali, pekan lalu. Pada pelataran di dekat kolam renang, sejumlah orang khusyuk berlatih yoga. Masing-masing berusaha mengikuti aba-aba guru perempuan asal Meksiko, Ines Somellera.

Satu kali, mereka meregangkan dua kaki ke belakang lurus-lurus. Berikutnya, satu kaki ditarik ke depan, ditekuk di bawah dada, lantas berdiri sambil melepas napas. Setelah mengulang beberapa gerakan dan bermeditasi beberapa saat, mereka dipersilakan menuliskan unek-unek di atas selembar kertas putih.

Saat itulah banyak peserta terharu. Ada yang menangis sesenggukan (mungkin ingat pengalaman pahit), tersenyum riang, atau kaget dengan ledakan perasaan sendiri.

”Wah, rasanya luar biasa! Akhirnya saya menemukan diri sendiri setelah lama tenggelam ditekan tugas kuliah, kerja, atau proyek cari uang,” kata Gregor Hauke (25), pemuda ramah asal Austria.

Latihan itu adalah kelas Yoga Writing alias latihan yoga untuk penulisan. Menurut Ines, lebih dari menuntun peserta menumpahkan perasaan lewat tulisan, yoga juga bisa membantu orang menemukan kekuatan dan keunikan diri sendiri. ”Yoga bisa membangkitkan kekuatan diri yang tersimpan,” papar perempuan yang menetap di Jakarta itu.

Kelas ini hanya salah satu dari puluhan kelas dalam ajang Bali Spirit Festival, 28 April-3 Mei lalu. Sekitar 600 orang dari berbagai negara berkumpul merayakan spiritualitas lewat pelatihan yoga, tari, dan pentas musik. Purnati, taman hijau berbukit tempat festival tahunan yang kedua itu berlangsung, jadi ajang perhelatan spiritual yang meriah.

Pada pagi sampai sore peserta memisahkan diri dalam kelas-kelas yoga dan tari yang digelar terpisah di taman seluas sekitar 4 hektar itu. Ada yang diam bersemadi yoga prana di bawah pohon beringin rindang, sibuk meliuk-liukkan tubuh dalam yoga selancar (super flow surf yoga) di halaman rumput terbuka, terbahak-bahak dalam latihan yoga tawa (laughter yoga), atau merenggangkan tubuh dalam hatha yoga klasik India. Istilah unik-unik itu memang menggambarkan gerak latihan yang aneh-aneh tadi.

Peserta yang senang tari bisa memilih kelas tari Jawa klasik, tari kathak India, hip hop Amerika, atau tari tradisional Bali. Pada sore hingga malam, mereka disuguhi beragam pentas musik di panggung yang cukup luas. Ada jazz, perkusi Afrika, pop, Bali tradisional, atau campuran.

Saat jeda mereka bisa makan siang sambil berbincang dengan para guru yang didatangkan khusus dari berbagai negara. Sebut saja, antara lain, doktor yoga berkepala plontos asal Australia, Swami Sangkardev Saraswati; yogini seksi dari Inggris, Katy Appleton; guru yoga klasik India yang berewokan, Ravindranath Vempathi; atau penekun meditasi dari Bali, Merta Ada.

Untuk latihan tari, ada penari Jawa klasik dari Jakarta, Maria Darmaningsih; penari tradisional Bali, Ni Ketut Arini; penari kathak India, Pooja Bhatnagar: serta pelatih hip hop dari Amerika Serikat (AS), Akim Funk Buddha. Pada pentas musik tampil, di antaranya, musisi Rocky Dawuni (Ghana), penyanyi pop Daphne Tse (AS), Ganga Giri (Australia), Geoffrey Gordon (AS), serta Simak Dialog dan Saharaja (Indonesia).

”Love”

Apa yang mereka cari dalam hiruk-pikuk kegiatan spiritual yang mirip pasar itu?

”Kami ingin tubuh sehat, pikiran tenang, dan damai,” kata Jean Louis Saglio (64), desainer mebel asal Perancis, yang tinggal di Jakarta.

Dinda Jauhana (28), peserta yang juga panitia asal Jakarta, merasakan betul festival itu menyadarkan akan pentingnya rasa cinta. Saat mengikuti meditasi dan diminta menuliskan gejolak hati, dia menumpahkan semua perasaannya tentang cinta sampai tak bisa berhenti menulis dan akhirnya menangis tersedu-sedu.

”Ternyata, saya bisa mengeluarkan rasa cinta yang terkubur itu. Saya bahagia sekali,” papar gadis berkaca mata itu sambil tersipu.

Memang, selain menginginkan tubuh bugar, peserta dengan beragam latar belakang itu sama-sama menyadari, kegiatan spiritual penting untuk menumbuhkan rasa cinta dalam diri sendiri dan kepada sesama. Soalnya, perasaan ini semakin tertekan rutinitas kehidupan sehari-hari yang mekanistis dan dangkal.

”Latihan spiritual membantu menghidupkan fitrah diri sebagai manusia. Dengan menyadari fitrah itu, kita kemudian bisa mengembangkan persaudaraan antarsesama, tanpa dibatasi agama, ras, atau negara,” kata instruktur yoga selancar dari Kanada, Eoin Finn.

”New age”?

Pengalaman dan laku spiritual semacam festival di Ubud itu mungkin saja mewakili fenomena yang melanda warga dunia dewasa ini. Banyak kalangan memahami, doktrin agama formal yang cenderung membelenggu, eksklusif, dan merasa benar sendiri terbukti rentan memicu konflik. Saat bersamaan berbagai krisis, seperti kekerasan, teror, perang, materialisme, atau pasar yang merangsang konsumtivisme, mendera manusia sehingga merasa teralienasi, tereduksi, dan dangkal jiwanya.

Dalam situasi seperti itu, banyak orang akhirnya menoleh pada jalan spiritual baru lintas agama yang lebih terbuka, universal, cinta damai, dan bertujuan menciptakan kehidupan lebih harmonis. Dalam arus besar yang disebut New Age ini, muncul kesadaran untuk menggali kesejatian (fitrah) manusia sebagai jawaban atas berbagai krisis sekarang.

Hanya saja, apakah Bali Spirit Festival atau ajang serupa semacam itu di tempat lain memang membuka jalan menuju gerakan baru yang mencerahkan?

Untuk sementara, barangkali festival di Ubud itu baru menonjolkan perayaan yoga, tari, dan musik dalam suasana pelesiran orang-orang berduit dan punya waktu senggang. Melihat gaya sebagian peserta, festival itu tampaknya juga masih jadi media ekspresi kaum urban yang ingin melepaskan diri sejenak dari impitan kehidupan kota yang mekanisitis.

”Kalaulah spiritualitas hanya jadi tren gaya hidup juga tak masalah. Yang penting, orang mulai mau mencoba berpikir lebih dalam, menggali diri sendiri, dan menyadari pentingnya arti cinta pada diri sendiri dan sesama,” kata guru yoga eksentrik asal AS, Mark Whitwell.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s