Desa Kosmopolit di Pedalaman

Desa Kosmopolit di Pedalaman
Minggu, 10 Mei 2009 | 03:30 WIB

Ilham Khoiri

Ubud, daerah pedalaman di Bali itu, memang memesona. Pedesaan ini masyhur sebagai tujuan wisata nan eksotis begitu sejumlah seniman Eropa berdatangan tahun 1930-an. Saat dunia keranjingan laku spiritual, kawasan itu disambangi banyak orang karena dianggap mudah menggetarkan batin.

Cerita Ubud, sebagaimana dituturkan para tetua, bermula dari kedatangan Rsi Markandya, pendeta Hindu dari India, sekitar abad ke-8 Masehi. Setelah bersemadi, dia memperoleh wangsit untuk membangun pertapaan di tempat bertemunya dua aliran sungai, yaitu Tukad Wos Barat dan Tukad Wos Timur. Di tempat yang disebut Campuhan—berarti percampuran dua sungai—itu, dia mengembangkan ajaran keagamaan sambil membuka hutan untuk lahan pertanian.

Dari sinilah tumbuh cikal bakal pertanian beririgasi (subak). Para seniman lukisan dan ukir (sungging) dan arsitek (usagi) bekerja sebagai petani sembari berkarya seni. Titik pertemuan dua sungai di Campuhan itu sendiri kemudian dikeramatkan dan airnya dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

”Kisah ini memunculkan legenda, kata Ubud berasal dari istilah ubad yang berarti obat. Sampai sekarang, masyarakat meyakini hal ini,” kata Tjokorda Raka Kerthyasa (54), Kepala Adat Ubud yang sekaligus Ketua Umum Bali Heritage Trust (BHT).

Ubud berkembang sebagai daerah pertanian makmur. Selepas masa kejayaan Kerajaan Peliatan, kawasan itu jadi daerah otonom dengan sebutan Kepunggawan Ubud pada zaman kolonial. Ketika Indonesia merdeka, daerah ini jadi kecamatan, dan sekarang wilayahnya meliputi tujuh desa, termasuk Desa Ubud sendiri.

Pedesaan ini dikaruniai pemandangan alam indah, pertanian beririgasi yang eksotis, tenang, dan dikelilingi kawasan hijau. Ritual dan budaya masyarakat yang kental dengan keyakinan Hindu-Dharma seperti membalut tempat dengan aura spiritual. Ada sembahyang harian, berbagai upacara di pura, saat tanam dan panen padi, saat melahirkan, pernikahan, upacara Kuningan, Galungan, Nyepi, sampai upacara ngaben (kremasi).

”Semua upacara mengungkapkan rasa syukur manusia pada anugerah Tuhan. Ini ruh yang menapasi segala bentuk kegiatan sehari-hari,” kata Nyoman Suradnya (59), tokoh budaya di Ubud.

Memang, berbagai bentuk ekspresi seni, seperti tari, lukisan, dan patung, juga tak lepas dari spirit keagamaan. Tari kecak, tari barong, atau legong, misalnya, pada dasarnya merupakan persembahan pada para dewa. Begitu pula lukisan dan patung yang banyak menggambarkan ritual.

Memikat

Eksotisme Ubud yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Denpasar memikat banyak orang. Tahun 1930-an sejumlah seniman Eropa datang dan segera kepincut dengan alam pedesaan yang melimpahkan sumber inspirasi. Sebut saja Walter Spies asal Jerman, lantas Rudolf Bonet asal Belanda, menyusul kemudian Gerard Hofker (Belanda), Antonio Blanco (Filipina-Amerika), dan Arie Smith (Belanda).

Turisme di Bali pada masa-masa berikutnya menempatkan Ubud sebagai kawasan eksotis. Jika tempat-tempat lain, katakanlah Kuta, Sanur, atau Nusa Dua, identik sebagai pantai untuk pelesiran, Ubud lekat sebagai tempat peristirahatan yang damai, adem, dan bernuansa spiritual. Wajar jika kemudian banyak turis memilih menetap, bahkan menikah dengan warga setempat.

Belakangan, ketika dunia menoleh kembali laku spiritual, citra Ubud makin mencorong. Guru-guru yoga dari mancanegara berdatangan seiring dibukanya berbagai kelas yoga. Agen wisata, hotel, vila, dan resor yang biasa menyuguhkan tur alam dan budaya kini menambahkan tawaran yoga.

Begitu maraknya fenomena jualan berbagai jenis yoga dengan variasi harganya sampai-sampai Ubud sekarang juga dijuluki supermarket spiritual. Artinya, spiritualitas yang sejatinya dilakoni dengan penghayatan mendalam kini disederhanakan menjadi produk instan yang mudah diperjualbelikan.

”Itu bisa mendangkalkan tradisi spiritual masyarakat. Tetapi, sisi baiknya, minimal kelas-kelas itu mempermudah orang mencicipi yoga. Soal nanti tertarik mendalami atau berhenti sebegitu saja, itu pilihan masing-masing,” kata Uma Inder (41), guru yoga dari India yang menetap di Ubud sejak tahun 1988.

Komodifikasi

Supermaket spiritual hanya satu dari sekian gejala komodifikasi Ubud. Jauh sebelum itu, berbagai hal di desa tersebut memang sudah dieksploitasi habis-habisan, terutama untuk kepentingan wisata.

Ritual sembahyang dan upacara dibikin lebih menarik dan dimasukkan ke dalam paket turisme. Tari-tarian persembahan pada dewa dibikin versi pendeknya agar mudah dipentaskan untuk para tamu. Demikian pula suasana pedesaan dan pertanian dikemas sedemikian rupa agar mendukung kehadiran vila, hotel, atau resor di mana-mana.

Ubud, desa seluas sekitar 7,32 kilometer persegi itu, kini mirip kota yang riuh. Para pelancong betah karena dilayani banyak fasilitas bertaraf internasional, seperti money changer, toko swalayan, biro perjalanan, butik, salon dan spa, ATM bank, warung internet, serta restoran dengan bermacam makanan yang aneh-aneh. Perputaran uang di sana diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah per hari biasa dan miliaran rupiah saat ada upacara besar.

Semua itu tentu punya risiko, terutama kawasan hijau dan aroma pedesaan yang kian tergusur. Jalan Monkey Forest di dekat pasar Ubud, misalnya, sekarang disesaki deretan bangunan ruko, money changer, galeri, atau restoran.

”Padahal, jalan itu dulu lengang, hanya dikelilingi sawah,” kenang Anthonius Kho, pelukis yang tinggal di Ubud.

Begitulah, daerah pertanian yang diberkahi para dewa itu kini menjelma menjadi desa kosmopolit yang melayani hasrat dan gaya hidup kaum urban. ”Kalau eksploitasi ini tak dikendalikan, Ubud akan hilang,” kata Nyoman Suradnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s