Sumbangan Umum Ilmu Medis Islam

Pada kolom pekan lalu telah diuraikan sekilas latar belakang religius-filosofis yang memotivasi banyak sarjana Muslim dalam menekuni ilmu medis dengan pelbagai cabang-cabangnya. Berkat prestasi ilmiah sarjana-sarjana medis Muslim yang mengagumkan dan diakui oleh dunia, ilmu medis mengalami perkembangan yang signifikan dan revolusioner. Pengaruhnya masih terasa hingga abad ke-19 M baik di Barat maupun di Timur. Sejarawan Bammate dalam bukunya Muslim Contribution to Civilization berkata, “Para dokter Muslim memainkan peran yang menentukan dalam sains medis di dunia Barat.” (dikutip oleh Ajram, The Miracle of Islamic Science, 1992).

Latar Belakang Historis

Sebagaimana telah menjadi karakter umum sarjana Muslim di bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya, ahli-ahli medis Muslim adalah penerima-waris yang baik dan sekaligus pemberi-waris yang produktif. Mereka dengan penuh antusias dan apresiasi mempelajari khasanah ilmu pengetahuan dari berbagai tradisi dan peradaban pra-Islam. Lalu, secara kreatif mereka pun mengembangkan ilmu pengetahuan dengan berbagai cabang yang baru dalam sebuah cara pandang, paradigma atau pandangan dunia yang sesuai dengan nilai-nilai Tauhid dan Islam.

Menurut Seyyed Hossein Nasr (Science and Civilization in Islam, 1968), dalam ilmu medis, para sarjana Muslim banyak mempelajari ilmu medis Yunani tradisi Hippokrates-Galen dan praktek medis bangsa Persia dan India. Mereka mengintegrasikan pendekatan observasi Hippokrates, teoritis-filosofis Galen, serta teori dan pengalaman para dokter Persia dan India dengan etos, semangat dan paradigma baru. Disebutkan oleh Nasr bahwa ilmu medis Islam dalam banyak hal berhubungan erat dengan alkemi (studi kimia-hermeneutis), mencari sebab konfkrit dari fenomen-fenomen individual.

Dalam kaitan historis itulah mengapa disebutkan bahwa ilmu kedokteran Islam terkait dengan ajaran-ajaran terdahulu. Menurut Nasr, kaitan tersebut dapat dilihat di perguruan Jundisyapur, yang harus dianggap sebagai kaitan organik paling vital antara tradisi kedokteran Islam dan tradisi yang terdahulu. Jundisyapur adalah kota tua yang terletak di Persia, dekat kota Ahwaz (sekarang termasuk Iran). Kota ini dibangun pada akhir abad ke-3 M oleh raja Syapur, raja kedua dinasti Sassania. Ibukota kerajaan ini menjadi pusat utama ilmu pengetahuan, termasuk ilmu medis Hippokrates-Galen. Banyak sarjana Yunani dan Mesir tinggal di kota Persia ini karena mereka diusir dan dimusuhi oleh Kerajaan Romawi yang menganut sekte Nasrani Yakobit yang menolak tradisi sains dan filsafat (ketika itu sains merupakan bagian dari filsafat).

Sumbangan Umum Ilmu Medis Islam

Kontribusi pertama sarjana medis Islam klasik adalah memelihara dan mengintegrasikan ilmu medis dari berbagai tradisi yang berserakan dan bertebaran tanpa keterkaitan satu sama lainnya, bahkan, banyak teori dan praktek medis yang terancam hilang. Mereka menerjemahkan karya-karya medis dari berbagai tradisi itu ke dalam bahasa Arab sebagai upaya pertama untuk menyelematkan khasanah ilmu medis. Salah seorang penerjemah yang produktif adalah Hunain ibn Ishaq. Ia yang juga adalah dokter menerjemahkan 99 karya Galen berbahasa Yunani ke bahasa Arab. Penerjemah lain adalah Tsabit ibn Qurrah yang juga matematikawan; ia dan para sarjana lainnya menerjemahkan karya-karya berbahasa Pahlavi (Persia), Sanksekerta (India) dan Grika (Yunani) ke dalam bahasa Arab.

Menurut Nasr, dengan penerjemahan teks asli Yunani, Persia, dan India ke bahasa Arab dan mapannya kosakata teknis yang baik, telah dipersiapkan dasar bagi tumbuhnya beberapa tokoh raksasa yang karya mereka mendominasi kedokteran Islam. Pengarang pertama kedokteran Islam adalah Ali ibn Rabban al-Thabari, yang menulis Surga Kebijakan (Firdaus al-Hikmah) pada tahun 850 M. Ia adalah guru Zakariya al-Razi, seorang ahli kimia dan dokter yang termasyhur. Karya guru al-Razi itu terdiri dari 360 bab yang mengikhtisarkan berbagai cabang kedokteran yang mempunyai nilai khusus dalam bidang pathologi, farmakologi dan diet. Menurut Nasr, karya itu juga menggambarkan sifat sintesis aliran kedokteran baru yang muai menjelma waktu itu.

Menurut Ajram (The Miracle of Islamic Science, 1992), ilmu medis mengalami kemajuan pesat pada peradaban Islam klasik yang ditandai dengan, diantaranya, tumbuhnya cabang-cabang ilmu medis baru yang lebih spesifik seperti gastroentologi, kardiologi, parasitologi, dermatologi, opthalmologi (kedokteran mata), pediatris, ginekologi, medis preventif, kesehatan publik, urologi, ilmu bedah, anesthesia (ilmu obat bius), ilmu kebidanan, farmakologi, toksikologi, dietetics (ilmu gizi) dan etika medis.

Para dokter Muslim adalah yang pertama kalinya membedakan farmasi sebagai sebuah sains tersendiri yang terlepas dari ilmu kedokteran. Mereka adalah penemu pertama ilmu farmasi di mana obat-obatan disalurkan melalui preskripsi (ketentuan, resep) dan lisensi. Farmasi memperoleh status sebagai ilmu baru ini pada abad ke-9 M. Di Baghdad terdapat enam puluh apotik yang menyalurkan obat-obatan melalui resep. Kegiatan-kegiatan farmasi ini diatur oleh inspektur pemerintah, yang dikenal sebagai muhtasib, yang mengawasi pedagang-pedagang agar tidak menjual obat-obatan yang tidak berlisensi atau kadaluwarsa. Jika terjadi penyimpangan, para pedagang itu dihukum dan didenda. Para ahli farmasi diperlukan untuk memberikan lisensi tersebut dan untuk itu mereka harus melalui ujian-ujian pra-graduate dan post-graduate. Oleh karena itu, kata Ajram tidaklah mengejutkan bila Georgi Zeidon menyatakan bahwa farmakologi modern secara keseluruhan berutang kepada sarjana-sarjana Muslim, yang pertama kali mendirikan ilmu farmasi.

Kontibusi orisinal dan penting dari ilmu medis Islam adalah dikembangkannya rumah sakit sebagai pusat pendidikan ilmu medis selain tempat perawatan dan penyembuhan. Dokter terkenal, al-Razi, mendirikan rumah sakit di kota kelahirannya, Rayy dekat Teheran, dan kemudian ia juga menjadi direktur kepala rumah sakit pusat di Baghdad. Menurut Ajram, berdirinya rumah sakit Muslim pada era keemasan Islam merupakan salah satu kemajuan yang amat penting dalam dunia medis. Para sejarawan telah mengungkapkan secara gamblang bahwa berfungsinya rumah sakit sebagai pusat pendidikan merupakan suatu produk peradaban Islam. Diriwayatkan bahwa rumah sakit permulaan Islam didirikan di Damaskus pada tahun 707 M mengikuti model rumah sakit dari periode pra-Islam, seperti rumah sakit di Jundishapur. Menurut Thomas Goldstien dalam Dawn of Modern Science (1980), terdapat sejumlah tiga puluh (30) rumah sakit yang berdiri sampai abad ke-13 M.

Sumbangan lainnya yang cukup signifikan adalah pembangunan soft-ware, yaitu sistem dan kurikulum ilmu medis, yang ternyata terpakai di Barat sampai abad ke-19 M dan sampai sekaran di Timur. Menurut Nasr, dua tokoh utama medis Islam, yaitu al-Razi dan Ibn Sina merumuskan prinsip-prinsip dasar ilmu medis secara sistematis dan komprehensif sehingga dapat dipelajari dan diambil manfaatnya oleh siapapun. Sesungguhnya, berkat kedua dokter Islam inilah ilmu medis mengalami kemajuan dan perkembangan pesat hingga sekarang ini. Nasr menulis, “ pada al-Razi dan Ibn Sina, ilmu medis Islam mencapai puncaknya, terlebur dalam karya-karya ilmiah kedua tokoh ini dalam bentuk definitif yang dapat diterima oleh generasi kemudian mahasiswa dan praktika.”

Seorang mahasiswa medis, ketika itu, bisanya mulai studi formalnya dengan Aphorisme oleh Hippokrates, Persoalan oleh Hunain ibn Ishaq dan Bimbingan oleh al-Razi; lalu ia meneruskan dengan Perbendaharaan oleh Tsabit ibn Qurrah dan Buku al-Mansur oleh al-razi; akhirnya ia mulai studi Enam Belas Naskah oleh Galen dan Pengendalian Diri (al-Hawi) oleh al-Razi dan Aturan Pengobatan (Qanun fith-Thibb, Canon of Medicine) oleh Ibn Sina. Jadi, Qanun merupakan sumber final dan puncak dalam profesi medis, di mana studi dan pemahamannya menjadi sasaran utama kurikulum medis secara keseluruhan. Karya terkenal Ibn Sina itu merupakan karya ilmiah yang paling banyak dicetak dan diterbitkan ulang selama masa Renaisans di Eropa, bahkan sampai abad ke-18 M.

Kontribusi ilmu medis Islam lainnya adalah penemuan-penemuan penting tentang sumber-sumber sebab penyakit dan penanganan penyembuhannya. Para sarjana medis Islam aktif melakukan prognosa, diagnosa dan analisis tentang gejala-gejala suatu penyakit berikut cara/metode penyembuhannya. Al-Razi, misalnya, yang terkenal di dunia Barat melalui karya-karyanya seperti Compendium, Kecukupan, Pengendalian Diri menganalisis sebab-sebab munculnya penyakit campak dan cacar serta terapi penyembuhannya.

Banyak juga istilah medis Islam yang masih terpakai hingga sekarang (setelah penulisannya di-Baratkan). Misalnya, Nasr menyebutkan, istilah retina dan katarak; kedua istilah ini terdapat dalam ophtamologi (ilmu medis tentang mata). Ajram juga melaporkan bahwa istilah-istilah seperti alembik (botol labu kimia-medis, al-anbiq), aludel (al-uthal), alkali, arsenik, dan aldehid berasal dari bahasa Arab yang ditemukan oleh ahli-ahli medis Islam klasik.
Oleh Husein Hariyanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s