Pesta Diserang, 44 Orang Tewas

Pesta Diserang, 44 Orang Tewas
Permusuhan Sebabkan Pembantaian di Turki
Rabu, 6 Mei 2009 | 04:30 WIB

Bilge, Selasa – Sejumlah laki-laki bertopeng bersenjatakan senapan otomatis dan granat menyerang pesta perkawinan di Desa Bilge, Turki tenggara, dan menewaskan 44 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—dalam sebuah perseteruan memperebutkan mempelai perempuan.

Serangan tersebut menewaskan nyaris seluruh anggota keluarga, termasuk mempelai wanita dan pria, orangtua mereka, lengkap dengan enam anak mereka yang berusia 3-12 tahun. Desa tempat kejadian sebagian besar penduduknya—hanya beberapa ratus jiwa—adalah orang- orang Kurdi.

”Delapan orang telah ditangkap dan ditahan serta senjata mereka disita. Kemungkinan ini adalah sebuah permusuhan sedarah antara dua keluarga,” kata Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Besir Atalay dalam sebuah jumpa pers, Selasa (5/5). Pernyataan ini menepis anggapan adanya kaitan kejadian berdarah itu dengan serangan teroris.

Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan mengatakan, hasil permusuhan antara dua keluarga itu telah menyebabkan tewasnya enam anak- anak, 17 perempuan, dan 21 lelaki dewasa. Dia mengatakan, beberapa tersangka mempunyai nama keluarga yang sama dengan para korban.

”Orang-orang itu dibunuh pada sebuah acara bahagia, dalam sebuah perayaan, saat sedang berdoa,” kata Erdogan dalam pidato mingguannya di depan anggota-anggota partai berkuasa di parlemen. ”Kenyataan bahwa mereka membidikkan senjata dan membantai anak-anak, orang-orang yang tak berdaya, adalah mengerikan.”

Laporan-laporan mengatakan, orang-orang bersenjata itu menembak saat pria dan wanita berdoa di ruangan terpisah sesuai tradisi daerah Turki itu.

Korban yang tewas antara lain pasangan mempelai, Sevgi Celebi dan tunangannya, Habib Ari; serta ibu dan adik mempelai pria, termasuk juga imam setempat yang memimpin upacara. Enam orang lainnya, termasuk ayah Celebi, cedera dalam serangan 15 menit itu.

Kantor berita Anatolia mengutip saksi-saksi memberitakan, ada sekitar enam penyerang menyerbu masuk dua rumah di mana tamu-tamu berkumpul untuk berdoa setelah upacara perkawinan. Sevgi Celebi, putri kepala desa, sedang dinikahkan ketika serangan terjadi.

”Mereka masuk ke dalam rumah dan mulai menghamburkan peluru, mengenai pria dan wanita. Wajah penyerang tertutup topeng,” kata seorang saksi, perempuan berusia 20 tahun yang tidak mau menyebut namanya.

”Serangan ini terjadi karena mempelai perempuan, tetapi kami tidak tahu siapa yang melakukannya,” kata Besir Erten (44), seorang pengemudi yang kehilangan dua kerabatnya.

Hari Selasa pagi, liang-liang lahat di kuburan desa itu disiapkan untuk para korban tewas. Warga membawa batu nisan dan perempuan-perempuan menangis di samping sebuah pohon.

Pasukan keamanan yang didukung oleh kendaraan lapis baja mendirikan pos-pos pemeriksaan di jalan-jalan menuju desa. Pihak berwenang juga memutus hubungan telepon dengan Bilge.

Mendagri Atalay mengatakan, kedelapan tersangka itu ditahan.

”Mereka ditangkap beserta senjata-senjata mereka,” katanya. Indikasi pertama adalah bahwa ini merupakan hasil perseteruan di kalangan kerabat, dalam sebuah keluarga di desa itu.

Media Turki pada mulanya menyebut acara itu sebagai ”dugun”, sebuah istilah untuk perayaan perkawinan. Namun, pihak berwenang dan media kemudian menggunakan istilah ”nisan”, yang merujuk pada sebuah upacara pertunangan.

Anatolia mengatakan, para penyerang itu menginginkan Celebi menikahi salah seorang dari kelompok teman atau kerabat mereka sendiri, tetapi keluarga Celebi tidak mengizinkannya.

Menurut warga desa, ada percekcokan antara keluarga penyerang dan keluarga bakal mempelai pria. Keluarga Celebi pun menolak tekanan untuk membatalkan perkawinan.

Serangan itu mencerminkan masih adanya gaya feodal yang berlaku di beberapa daerah miskin Turki, di mana para pemimpin suku dan anggota marga kadang-kadang memakai cara kekerasan untuk menjaga kehormatan marga.

Anggota parlemen oposisi, Canan Aritman, mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah ke arah dihapusnya sistem suku walaupun dia tidak merinci apa yang harus dilakukan.

”Bahkan, di masyarakat yang paling primitif pun, hal seperti ini sudah tidak ada lagi,” kata Aritman, anggota sebuah panel parlemen yang meneliti ”pembunuhan demi kehormatan” dalam keluarga-keluarga tradisional. (AP/Reuters/AFP/DI)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s