Bank Bisa Mempercepat Penurunan Suku Bunga Kredit

Bank Bisa Mempercepat Penurunan Suku Bunga Kredit
Rabu, 6 Mei 2009 | 03:12 WIB

Jakarta, Kompas – Suku bunga acuan atau BI Rate turun lagi, kini di posisi 7,25 persen. Setelah ini, perbankan akan dinilai keterlaluan jika belum juga mempercepat penurunan bunga kredit. Apalagi, semua faktor kondisi saat ini sangat memungkinkan bank melakukan itu.

Demikian pernyataan Kepala Ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa, pengamat moneter Iman Sugema, pengamat perbankan Dradjad Wibowo, Direktur Biro Riset Infobank Eko B Supriyanto, dan Ketua Komtap Perdagangan Kadin Bambang Soesatyo, yang disampaikan secara terpisah di Jakarta, Selasa (5/5).

Akan tetapi, bankir yang dihubungi secara terpisah mengatakan, penurunan signifikan suku bunga kredit hanya menunggu waktu.

Sejak berlangsungnya penurunan suku bunga akhir tahun lalu, perbankan telah menurunkan bunga kredit. Namun, penurunannya amat lambat dan minimal ketimbang potensinya.

Kondisi ini membuat sektor riil yang menderita akibat krisis global semakin tercekik. Bunga kredit yang murah bisa menahan kejatuhan ekonomi lebih dalam. Sejumlah faktor kondisi memungkinkan bank mempercepat penurunan bunga kredit.

Suku bunga acuan atau BI Rate kini 7,25 persen setelah kemarin Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menurunkannya 25 basis poin (bp). Ini berarti suku bunga acuan berada di level terendah sejak krisis 1998. Sementara patokan bunga kredit kini masih di level 13,79 persen. Selisihnya lebih dari 600 bp dengan BI Rate.

BI mengatakan, likuiditas perbankan, termasuk pasar uang antarbank (PUAB), juga makin membaik, terindikasi dengan bunga PUAB yang hanya 7,5 persen. Ini berarti, bank seharusnya tak bisa lagi ditekan oleh deposan yang menginginkan bunga deposito tinggi.

Faktor lainnya, selama triwulan I-2009, di tengah seretnya penyaluran kredit, bank-bank besar justru berhasil meningkatkan margin bunga bersih (NIM)-nya. NIM Bank BCA, misalnya, naik dari 5,8 persen pada triwulan I-2008 menjadi 7,1 persen. Peningkatan NIM terjadi karena selisih antara bunga kredit dan bunga dana amat besar.

Pemegang saham pun kini tak lagi menuntut dividen yang besar, seperti yang dilakukan pemerintah terhadap bank-bank BUMN. Ini artinya, bank memiliki bantalan modal yang kuat untuk memungkinkan menurunkan bunga kredit.

Purbaya dan Iman mengatakan, sumber alotnya penurunan bunga kredit terletak pada perilaku perbankan domestik yang oligopolis. Ini terjadi karena persaingan di industri perbankan bersifat semu sehingga tidak ada yang memaksa mereka menurunkan bunga kredit.

”Jadi, penurunan bunga kredit harus dipaksa. Pemerintah bisa mengarahkan bank-bank BUMN mempercepat penurunan bunga kredit,” kata Iman.

Bambang mengatakan, komunitas pengusaha mengharapkan suku bunga kredit bisa turun signifikan hingga berada di bawah 10 persen.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Umum Nasional Sigit Pramono mengatakan, beberapa bank sudah lebih awal menurunkan bunga kredit. (FAJ)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s