Ranah Spiritual Kita di Tengah kebingungan Kota

Ranah Spiritual Kita Di Tengah Hiruk Pikuk Dunia Print E-mail
Tumpukan buku-buku Anand Krishna yang diterbitkan Gramedia atau buku-buku lainnya yang bernafaskan spiritual kini memenuhi toko-toko buku.
Gejala bisnis spiritual merambah kota-kota besar di Indonesia. Fenomena ini muncul justru di saat bangsa Indonesia sedang mengalami kegersangan suasana dan kebuntuan jalan mencapai Indonesia sejahtera.

Kita tentunya akan bertanya, ada apa dengan ruang spiritual kita? Apakah benar telah terjadi proses kontradiksi spiritual dalam diri kita: antara the kingdom of the I (kerajaan diri sebagai body) dengan the kingdom of the heart (kerajaan hati sebagai soul). Kondisi ini dapat digambarkan sebagai wujud keterbelahan diri (split personality/a divided self) yang menjadikan manusia mengalami keterasingan, krisis, patologi dan penyakit spiritual. Apakah ini akibat dari kepongahan manusia yang tidak hati-hati memelihara ruang spiritualnya, bahkan dengan bangga manusia mengalaminya dan seolah dengan sengaja memutuskan hubungan dengan Tuhan.Inilah yang kini dialami oleh manusia di era sekarang, pun di Indonesia. Manusia mengalami paradoks hidup.Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang baru, karena dua kerajaan itu memang diciptakan Tuhan selalu berkontradiksi dan mewarnai sejarah manusia. Roh dan nafsu berasal dari unsur-unsur yang berbeda. Atas dasar dua potensi inilah, justru manusia mendapatkan predikat makhluk termulia. Proses mengatasi kontradiksi merupakan letak perjuangan manusia untuk menggunakan akal fikiran dan hatinya. Proses-proses inilah yang dilakukan para sufi dengan berbagai metodenya menempa diri dan hatinya untuk mendekatkan dan menemukan Sumber Diri (Tuhan). Mereka melintasi argumen-argumen para ilmiawan yang berkutat hanya mencari tahu sebab-sebab dan gejala-gejalanya tanpa mengimplementasikannya.

Nah, betulkah ruang spiritual kita telah tercabik-cabik oleh kepentingan duniawi yang profan, terutama kekuasaan politik? Apakah Tuhan telah marah pada bangsa Indonesia hingga harus menghadapi krisis multidimensi ini? Adakah jalan untuk pemulihan spiritual? Pertanyaan-pertanyaan ini dalam bentuknya akan membawa manusia untuk melihat kembali sejarah hidupnya baik pribadi maupun sosialnya. Saya akan menoreh pada kasus seorang pasiennya Josep F. Rychlak (Psikolog-Spiritual dari Universitas Loyola Chicago) yang merasa dirinya telah ditinggalkan oleh Tuhan dan mempertanyakan apa yang telah ia perbuat sehingga harus mengalami pesakitan spiritual.

Argumen Teleologis
Seorang pasien itu bertanya “apa yang telah saya lakukan sehingga saya menerima penderitaan ini?” atau jika kita tarik ke masalah negara, “Apa yang dilakukan/terjadi di Indonesia sehingga mengalami krisis multidemensi?. Dalam hal ini Aristoteles pernah memberikan pisau analisis awal dengan empat sebab yang padanya tindakan dan pengalaman tergantung yaitu Sebab material, sebab efesien (pencetus), sebab formal (pola esensial), dan sebab akhir (alasan mengapa/demi kepentingan mana). Meskipun teleologi terdapat pada wilayah sebab akhir, namun. sebab formal juga terlibat dalam teleologi, di mana sebab formal itu muncul sebagai yang dipolakan. Anggapan pasien yang merasa telah ditinggalkan oleh Tuhan menjadi prediksinya yang mempengaruhi perilaku.

Prediksi itu membentuk pola-pola paradoks atau telah terfragmentasi dari pusat diri. Hal ini tentunya mengajak manusia untuk melakukan pencarian dan penemuan jati dirinya. Sebenarnya, jikalau kita telusuri khazanah klasik nusantara khususnya Jawa terdapat banyak sekali konsepsi Jawa tentang hal ini. Taruhlah misalnya kisah Bimasuci mencari air kehidupan dalam Serat Dewa Ruci. Diceritakan bahwa ternyata air kehidupan itu tidak asing lagi yaitu ada dalam batin Bima sendiri. Inilah dasar numinus keakuannya manusia, bahwa manusia pada dasarnya yang terdalam bersifat Ilahi.

Jiwa Manusia (suksma), ungkap Franz Magnis Suseno (1995), dipahami sebagai dasar batin manusia, merupakan ungkapan jiwa Ilahi yang menyeluruh (Hyang Suksma). Dalam kesadaran itu terbukalah realitas yang paling dalam bagi kesadaran ilahi. Untuk memahami keterbelahan pribadi (Split personality) yang menjadi sebab tercabik-cabiknya ruang spiritualitas, saya akan menggunakan konsepsi teleologis. Dalam konsepsi teleologis dikenal refleksitas diri dan transendensi pemikiran. Refleksitas diri dan transendensi ini terjadi melalui penentangan kognisi generik atau proses prediksi.

Manusia dapat mengangkat “apa” yang terjadi dan melihat sebagai sebuah kemungkinan apa “yang tidak” terjadi dan kemudian membuat yang terjadi secara disengaja. Inilah yang disebut Rychlak sebagai Logical Learning Theory (1991). Teori ini memandang penalaran oposisional (atau secara dialektis) dan kapasitas penilaian menjadi sangat fundamental bagi badan manusia, atau apa yang lebih dikenal sebagai kemauan bebas (freewill). Bahwa ruang spiritual tidak perlu dibatasi, akan tetapi sangat terkait dengan teleologi ketuhanan, seluruh tuntutan terhadap kekuatan yang dapat mempengaruhi dan lebih besar dari itu sendiri. (Rychlak; 1998).

Oleh karenanya, unsur spiritus harus dimasukkan sebagai salah satu prinsip komplementaris. Unsur-unsur prinsip komplementaris adalah fisikos ( daya tarik, perlindungan), Bios (genetika, sistem organik, mediasi), Socius (ketentuan normatif, kolektivitas politik), dan Logos (prediksi,kontruksi pribadi, kedirian yang proaktif). Pada tataran logos inilah sebab formal bersemayam. Sebab formal sebagai pola itulah yang memberikan masukan bagi yang lain dan kemudian membentuk suatu perilaku.

Sedangkan sebab formal merupakan bentukan atau formulasi paradigma dari ranah spiritual yang menjadi sebab akhirnya. Oleh karenanya, paradigma hidup harus dirumuskan secara jernih agar membentuk prediksi diri yang benar dan jernih.

Reprediksi Diri
Perasaan keterasingan dan penyesalan sang pasien itu menjadikan perilaku-perilakunya hampa dan bias. Kondisi ini oleh Imam Ghozali diibaratkan seseorang yang berada pada cermin yang telah retak. Cermin itu tidak lagi memberikan gambaran jernih tentang dirinya. Ruang spiritualitasnya telah terkontaminasi, sehingga tak mampu lagi melakukan hal-hal yang positif bagi hidupnya. Ini sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidupnya. Cermin yang dipakai bangsa Indonesia kini telah pecah berkeping-keping, sehingga sulit sekali melakukan pembacaan yang jujur dan jernih atas segala krisis yang muncul.

Lantas, apa yang harus dilakukan?
Lebih jauh U.S Anderson mengemukakan bahwa “Perubahan psikologis tidak mungkin tanpa kebangkitan spiritual, dan sebelum seseorang bisa mengubah jenis dan tipe pemikirannya, mula-mula diperlukan agar mengubah konsepsi tentang dirinya”. Di bukunya In Search of Your True Self, Walter Staples(1998) memberikan pemahaman yeng lebih tersistematis. Bahwa pemikiran adalah penyebab pertama. Pada awalnya, manusia adalah pemikiran. Manusia adalah kesadaran murni. Sementara manusia berfikir, ia percaya. Dan dengan kepercayaannya itu manusia bertindak, menjadi, menyumbang, menerima, dan ia jadi terpenuhi.

Premis ini mengantarkan manusia untuk mendongkrak kembali apakah manusia berpikir bahwa ia maju ke depan, menandai waktu atau hanya mundur dalam seluruh rencana segala hal? Apakah manusia memang merasa membuat kemajuan menuju perjuangan yang lebih luhur, bahwa kehidupan manusia memang bermakna dan memberikan pemenuhan? Atau apakah manusia seperti secarcik kertas yang terbaring ditiup angin, pada satu saat merasa bahagia, pada saat berikutnya sedih, tergantung pada apakah angin bertiup ke arah yang menguntungkan? Staples (1998) memberikan beberapa faktor yang merupakan unsur-unsur kunci untuk menetapkan kemampuan manusia agar tetap “pada tujuan” dan terus berfokus serta bergerak maju ke depan. Pertama, Happiness
(kebahagiaan), yaitu dengan bersikap positif dan antusias, apapun yang dikatakan dunia. Kedua, Resilency (keuletan), yaitu bisa mengatasi keadaan, bahkan mengatasi rintangan atau kesusahan apa saja, dan masih bergerak maju ke depan. Ketiga, Resourcefulness (Kecerdikan), yaitu bisa menemukan
wawasan dan energi untuk menangkap kesempatan supaya bisa mencapai hasil yang penting bagi manusia.

Untuk memulihkan tercabik-cabiknya ruang spiritual, manusia harus memiliki fokus batin, lokasi pengendalian batin, dari melihat ke dalam dan bukan hanya ke luar untuk menemukan makna dan maksud dalam mengetahui kehidupannya. Jadi melalui pemahaman tentang siapa diri manusia yang sesunggunya itulah manusia memiliki paling banyak kebahagiaan, keuletan dan kecerdikan. Berbagai ajaran agama memberi kita paling banyak wawasan ke dalam hakikat Diri kita yang Sejati. Dalam iman Kristen, misalnya diyakini bahwa Tuhan memilih Yesus Kristus sebagai alat-Nya untuk mengajarkan kepada kita tentang diri-Nya dan jennis kehidupan apa yang harus kita hayati. Dalam Islam, juga diajarkan bagaimana hidup dengan benar dan pada tataran yang paling tinggi “menemukan” Allah dalam kehidupannya. Ini dapat dilihat bagaimana para sufi mengalami kesadaran tertinggi dalam pencapaian spiritualnya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pemulihan spiritual sangat terkait dengan perubahan jiwa. Oleh karena itu, maka sebuah reprediksi diri melalui beberapa macam kapasistas transendensi untuk melakukan evaluasi terhadap keadaan seseorang dan menginginkan sebuah pengarahan, menjadi sangat urgen untuk dilakukan seluruh manusia. Hanya ketika orang dapat melakukan reprediksi “secara mental” melalui transendensi dari refleksitas dan datang untuk mewarnai kepercayaan-kepercayaan alternatif, orang tersebut dapat juga mewarnai pencakupan alternatif pada yang lain.

Pada posisi inilah, peran pemikiran-pemikiran positif sangat berperan untuk meningkatkan spiritualitas manusia. Dengan optimis, saya yakin jikalau semua manusia kembali ke fitrahnya, mengenali diri yang sejati dan mentransendensikannya ke Sumber Diri dengan teleologis yang tepat, manusia akan mampu mengatasi kontradiski batinnya. Dus, bangsa Indonesia yang telah mengalami krisis multidimensi ini juga seharusnya dipahami sebagai kondisi di mana ruang-ruang positive thingking telah ternodai dan bahkan mencabik-cabik kepribadian bangsa. Karenanya, jikalau permasalahan bangsa hanya menjadi perebutan kepemimpinan atau penyalahan atas pemimpin, sungguh naif sekali. Seharusnya seluruh elemen harus melakukan reprediksi diri dan tidak mengatasnamakan paling layak atau paling benar konsepsi-konsepsinya untuk membangun bangsa. Bahwa kumpulan konsepsi-konspei diri yang benar-benar berlandaskan Sumber Diri (sense of security) akan membantu bangsa Indonesia ini pulih dan menjadi negara yang celestin dan berwibawa.

Oleh: Z. Milal Bizawie, Mahasiswa S3 jurusan sejarah Universitas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s