SELEKSI MENTERI; Dramatisasi Politik, Miskin Substansi

Selasa, 20 Oktober 2009 | 03:25 WIB

Jakarta, Kompas – Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono dan wakil presiden terpilih Boediono, Senin (19/10), menyelesaikan pemanggilan 36 calon menteri dan pejabat setingkat menteri yang akan bekerja dalam Kabinet Indonesia Bersatu II.

Namun, proses seleksi para calon menteri tersebut dinilai tidak memiliki makna. Lebih dari separuh calon menteri yang dipanggil merupakan pengurus sejumlah partai politik.

Karena itu, harapan agar Presiden lebih memilih para profesional untuk membantunya supaya dapat bekerja lebih optimal sulit diwujudkan.

”Substansi dari proses seleksi menteri yang dilakukan tidak ada. Itu hanya dramatisasi politik,” kata Direktur Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra di Jakarta, Senin.

Jika Presiden serius memilih menteri yang berkualitas, proses wawancara sebagai bagian dari seleksi seharusnya dilakukan minimal terhadap dua calon menteri untuk setiap pos kementerian, bukan satu calon seperti sekarang.

Azyumardi mengatakan, selain banyak menteri baru yang belum diketahui kualitas dan kinerjanya, banyak menteri lama dengan pos kementerian baru. Hal itu akan membuat gerak cepat pemerintahan baru sulit diharapkan.

Program kerja 100 hari sulit diharapkan akan memberikan gebrakan karena waktu yang tersedia lebih banyak digunakan para menteri untuk beradaptasi dengan pekerjaan barunya.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi menegaskan, kabinet baru hanya mencerminkan penjatahan partai politik. Namun, Sofjan hanya bisa berharap, sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, menteri yang berasal dari parpol dituntut bersikap profesional dalam membangun bangsa ini.

”Kita lihat dalam setahun ke depan, apakah pilihan Presiden Yudhoyono tepat dalam menumbuhkan (arah) perekonomian Indonesia? Saya kira orang-orang pilihan yang diambil dari parpol merupakan orang-orang terbaik bangsa ini,” katanya.

Kecewa

Pengamat ekonomi Yanuar Rizky kecewa karena lebih banyak kompromi politik. Penempatan Hatta Rajasa sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menguatkan bukti kompromi politik Presiden. ”Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pak Hatta, penunjukannya di pos Menko Perekonomian lebih kental sebagai pelobi ketimbang pertimbangan hal-hal besar berkait pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan urusan perekonomian nasional,” ujar Yanuar.

Kekecewaan pun muncul karena pos Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang penting pun ternyata masih diisi orang partai politik. Rencana Presiden menempatkan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menunjukkan seolah posisi itu jatah partai. Pejabat sebelumnya, Erman Suparno, adalah mantan Bendahara PKB dan anggota DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa periode 1999-2004.

Posisi Mennakertrans semestinya diisi orang yang paham ketenagakerjaan dan harus mampu menjadi penyelenggara tripartit utama antara pemerintah, pengusaha, dan pekerja. ”Kalau dari pendekatan politik, akhirnya hanya (memakai) cara normatif,” ujar Yanuar.

Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi juga kecewa menyangkut figur di balik Menteri Kehutanan. Presiden Yudhoyono semestinya memilih figur yang ahli kehutanan dengan reputasi internasional. Pos Menteri Kehutanan rencananya diisi Zulkifli Hassan, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional.

”Pemilihan figur yang tepat mencerminkan sejauh mana perhatian Presiden terhadap masalah kehutanan dan isu perubahan iklim. Menteri Kehutanan mendatang harus benar-benar memahami substansi, bukan sekadar mengisi bagi-bagi jabatan politis,” ujar Elfian.

Benteng pertumbuhan

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno mengatakan, Menteri Perindustrian pada masa depan menjadi benteng pertumbuhan industri. Karena itu, kabinet haruslah mampu mengikis rantai birokrasi yang sangat menyusahkan dunia usaha.

Ahli transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, dan Ketua Bidang Angkutan dan Prasarana Organisasi Pengusaha Angkutan Darat Rudy Thehamihardja menilai Freddy Numberi harus belajar cepat dan tepat bila ingin berguna sebagai Menteri Perhubungan.

Sekretaris Jenderal Koalisi Keadilan Rakyat untuk Perikanan Riza Damanik menilai, secara administratif dan manajerial, figur Fadel Muhammad memiliki cukup pengalaman sebagai pengusaha dan birokrat. Namun, pengalaman tersebut tentu belum cukup mengingat kompleksnya persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan di wilayah pesisir.

Oleh karena itu, ia harus membuktikan kemampuannya dalam kebijakan pengelolaan kelautan dan perikanan yang mengarah pada pengembangan ekonomi kerakyatan dan tidak condong pada korporasi berkapital besar.

Suara kecewa diungkapkan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi Pri Agung Rakhmanto menyangkut figur Darwin Saleh sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menurut dia, Darwin Saleh tidak memiliki rekam jejak di sektor ESDM. ”Idealnya, Menteri ESDM dari kalangan profesional yang punya rekam jejak di sektor ESDM,” ujarnya.

Menlu-Menhan baru

Calon menteri yang pertama diwawancarai presiden, Senin, adalah Marty Natalegawa. Diplomat karier yang saat ini menjabat Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa itu diproyeksikan menjadi Menteri Luar Negeri. ”Yang ditekankan Presiden adalah perlunya reformasi dan revitalisasi politik luar negeri dan diplomasi, peningkatan kinerja dan kemampuan jajaran diplomat, serta dedikasinya,” ujarnya.

Pada hari ketiga pemanggilan calon menteri ke kediaman pribadi Presiden di Cikeas ini, dua menteri yang masih menjabat saat ini turut dipanggil, yakni Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro serta Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi.

Posisi Purnomo diproyeksikan bergeser jadi Menteri Pertahanan. ”Kami tadi membahas sistem pertahanan nasional, perjalanan reformasi TNI hampir 10 tahun ini, terutama netralitas dan profesionalisme TNI, sistem kesejahteraan prajurit, bisnis TNI, serta UU yang belum selesai seperti UU Terorisme dan UU Peradilan Militer,” ujar Purnomo.

Freddy Numberi diperkirakan bergeser dari Menteri Kelautan dan Perikanan menjadi Menteri Perhubungan, sedangkan Fadel Muhammad, salah seorang ketua DPP Partai Golkar, diproyeksikan menggantikan Freddy Numberi.

Fungsionaris Partai Keadilan Sejahtera, Suswono, diproyeksikan akan menjabat Menteri Pertanian. Ia mengatakan, presiden terpilih memintanya memberi perhatian pada peningkatan daya saing produk agrobisnis.

Posisi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional diproyeksikan akan diberikan kepada Armida Alisjahbana, guru besar ilmu ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung.

(MZW/EVY/LKT/RYO/OSA/MAS/HAM/DAY)

Published in: on Oktober 20, 2009 at 03:15  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , ,

Yudhoyono: Penuhi Standar tapi Masih Bisa Berubah

Jakarta-Sejak Sabtu (17/10) hingga Minggu (18/10), sebanyak 30 calon menteri dan pejabat setingkat menteri telah menjalani audisi atau fit and proper test, di Puri Cikeas, Bogor. Namun, menurut Susilo Bambang Yudhoyono, meskipun semuanya memenuhi standar namun masih bisa berubah.
Dari 30 orang yang datang ke Cikeas, 16 orang secara bergiliran datang pada hari Sabtu, sedangkan 14 orang lainnya datang pada Minggu, kemarin. Sisanya, yakni antara lain terkait pos Menlu, Menhan, Mentan, Menhub, Menteri Kelautan dan Perikanan, Kepala Bappenas, dan Jaksa Agung, akan diaudisi pada Senin (19/10) hari ini.
Sementara 14 dari 16 nama yang sudah melakukan audisi pada hari Sabtu, pada Minggu sudah melakukan tes kesehatan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Mereka antara lain adalah Sutanto, Sudi Silalahi, Tifatul Sembiring, Sri Mulyani, Agung Laksono, M Nuh, Djoko Suyanto, dan Suryadharma Ali.
Sutanto, Sudi Silalahi, dan Tifatul Sembiring, misalnya, sudah selesai menjalani pemeriksaan kesehatan sekitar pukul 12.00 WIB. Sutanto mengaku menjalani pemeriksaan kesehatan fisik luar dalam, dan pemeriksaan kejiwaan. Diperiksa hampir lima jam, katanya.
Dua nama lain yang belum melakukan tes kesehatan adalah Andi Mallarangeng dan Hatta Radjasa, karena kesibukan mereka mendampingi Yudhoyono.
Namun sekalipun beberapa menteri telah memberi sinyal yang jelas akan posisi mereka, presiden terpilih Yudhoyono yang tiba-tiba keluar sekitar pukul 15.45 WIB menyapa wartawan sesudah istirahat makan siang justru menegaskan bahwa segala sesuatunya masih bisa berubah.
Ini kan uji seleksi, kita lihat masih ada besok, tanggal 20 dan 21. Jadi masih ada tiga hari, kata Yudhoyono yang mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna biru itu saat ditanya mengenai kepastian para calon menteri yang dipanggil akan masuk dalam KIB II (Baca juga halaman 12).
Tetapi, lanjut dia, hasil wawancara cukup menggembirakan sesuai keinginannya. Hasil wawancara boleh dikatakan meet the standard. Tetapi ini belum rampung dan akan jalan terus, katanya.
Dengan didampingi Wapres terpilih Boediono, Mensesneg Hatta Rajasa, dan Seskab Sudi Silalahi, Yudhoyono menyapa para wartawan yang sudah menunggu sejak Sabtu malam.
Ketika wartawan mencoba mengorek informasi soal keberadaan menteri perempuan dan posisi Menlu dan Menhan apakah masih tetap orang yang sama, Yudhoyono belum bersedia mengkonfirmasi. Pertanyaannya menjurus, sayangnya jawabannya belum ada. Kalau uji seleksi kita lihat nanti, katanya.

Perkiraan Anggota KIB II

1. Menko Polhukam: Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Mensesneg: Sudi Silalahi
5. Menneg PAN: Gamawan Fauzi
6. Menkeu: Sri Mulyani
7. Mendag: Mari Elka Pangestu
8. Mendiknas: Mohammad Nuh
9. Menag: Suryadharma Ali
10. Menkominfo: Tifatul Sembiring
11. Menteri Koperasi & UKM: Syarif Hasan
12. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto
13. Menneg Pora: Andi Mallarangeng
14. Menneg PDT: Helmy Faishal Zaini
15. Menbudpar: Jero Wacik
16. Menakertrans: Muhaimin Iskandar
17. Mendagri: EE Mangindaan
18. Menkes: Nila Juwita Anfasa Moeloek
19. Mensos: Salim Sagaf Al Jufri
20. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
21. Menpera: Suharso Manoarfa
22. Menhut: Zulkifli Hasan
23. Menkum HAM: Patrialis Akbar
24. Kepala BKPM: Gita Wiryawan
25. Menneg PP & Urusan Anak: Linda Agum Gumlar
26. Menristek: Suharna Suryapranata
27. Menneg LH: Gusti Muhammad Hatta
28. Menteri PU: Djoko Kirmanto
29. Menperin: MS Hidayat
30. Menteri ESDM: Darwin Saleh

Wajah-wajah baru
Berbeda dengan hari pertama, uji kelayakan dan kepatutan hari kedua di kediaman Yudhoyono, Minggu, banyak diwarnai dengan kejutan dengan munculnya wajah-wajah baru calon menteri.
Kehadiran sejumlah wajah-wajah baru yang sebelumnya tidak pernah beredar di kalangan media massa atau pun perbincangan di khalayak umum tentang calon menteri atau pejabat negara cukup membuat para wartawan yang menanti di halaman Puri Cikeas Indah, Bogor, bertanya-tanya setiap kali muncul wajah yang tak dikenalnya.
Kedatangan Ketua Bidang Ekonomi DPP Partai Demokrat Darwin Zahedy Saleh pada pukul 09.30 WIB sebagai orang pertama yang mengikuti uji kelayakan dan kepatutan pagi itu boleh jadi menjadi awal dari deretan wajah-wajah baru yang diproyeksikan bergabung dalam KIB II.
Setelah Darwin yang diprediksikan mengisi jabatan Menteri ESDM itu, berturut-turut muncul Pembantu Rektor I Universitas Lambung Mangkurat Prof Dr Ir Gusti Muhammad Hatta, aktivis perempuan Linda Agum Gumelar, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PKS Suharna Surapranata, Ketua DPP PAN Patrialis Akbar, ahli bedah mata Nila Djuwita Moeloek, Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar, Bendahara Umum DPP PPP Suharso Monoarfa, dan Politisi Partai Demokrat EE Mangindaan.
Proses wawancara dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Satu per satu calon menteri atau pejabat negara bertemu dengan pasangan presiden dan wakil presiden terpilih Yudhoyono-Boediono. Sementara sisanya menanti giliran di Pendopo Cikeas dengan didampingi oleh juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng.
Sebagaimana Sabtu (17/10), tidak semua calon menteri atau pejabat negara dapat ditebak jabatan yang akan mereka jalani dalam kabinet mendatang, karena kepada wartawan mereka hanya bicara hal yang sangat umum sehingga wartawan hanya bisa menduga-duga posisi orang itu nantinya.
Sejumlah wartawan kemudian mencoba memancing beberapa orang calon menteri atau pejabat negara dengan menanyakan topik-topik tertentu yang mungkin akan menjadi bidang kerja mereka.
Seperti yang disampaikan ahli bedah mata Nila Djuwita Moeloek, kepada wartawan, Nila hanya mengatakan dirinya berbicara mengenai pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) dengan Yudhoyono dan Boediono.
Saat ditanya lebih lanjut apakah angka kematian ibu dan anak termasuk dalam perbincangan secar tidak langsung ia berkata bahwa ada banyak hal dalam MDGs, salah satunya adalah pengurangan kemiskinan serat angka kematian ibu dan anak.
Sekalipun tidak mengaku bahwa ia diproyeksikan untuk menduduki posisi Menteri Kesehatan tapi dari 30 orang calon menteri dan pejabat negara yang telah melakukan uji kelayakan dan kepatutat, ia adalah satu-satunya yang memiliki latar belakang pendidikan bidang kesehatan.
Berbeda dengan Nila, beberapa calon menteri dan pejabat negara yang lain memberikan sinyal yang lebih nyata tentang posisi mereka.
Sebut saja Patrialis Akbar yang memaparkan visi dan misinya memperbaiki perlindungan HAM di Indonesia, Zulkifli Hasan yang mengaku membahas kebakaran lingkungan dalam proses wawancara, atau Mustafa Abubakar yang menjelaskan perlunya mendorong BUMN sebagai soko guru perekonomian.
Pada Minggu, 14 orang yang dipanggil yaitu Menteri PU Djoko Kirmanto. Kemudian Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Ekonomi Darwin Zahedy Saleh, Ketua Kadin Indonesia MS Hidayat, Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat Gusti Muhammad Hatta, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PKS Suharna Surapranata dan Ketua Kowani Linda Agum Gumelar.
Selain itu, politisi PAN Patrialis Akbar, dr Nila Djuwita Moeloek, Komisaris Pertamina Gita Wirjawan, Sekjen PAN Zulkifli Hasan dan Wakil Sekjen PKB Helmy Faisal Zaini, Dirut Bulog Mustofa Abubakar, politisi PPP Soharso Monoarfa, dan politisi Partai Demokrat EE Mangindaan.
Ke-14 orang itu pada Senin (19/10 ) akan menjalani pemeriksaan kesehatan di RSPAD Gatot Soebroto.
Sehari sebelumnya, Sabtu (17/10), 16 orang sudah dipanggil untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan yakni adalah Djoko Suyanto, Hatta Rajasa, Agung Laksono, Sudi Silalahi, Sri Mulyani Indrawati, Mari Elka Pangestu.
Selanjutnya, Syarif Hasan, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar, Sutanto, Gamawan Fauzi, Salim Segaf Al-jufrie, Jero Wacik, Andi Malarangeng, Tifatul Sembiring serta Mohammad Nuh.
Beberapa uji kesehatan yang akan dijalani meliputi kesehatan jiwa, mata, THT, syaraf, jantung, spesialis paru-paru, ginjal, kebidanan, gigi dan mulut, dan lainnya.
Hasil tes kesehatan itu akan segera dilaporkan kepada Presiden terpilih Yudhoyono pada Minggu (18/10) malam untuk menjadi bahan pertimbangan untuk menetapkan calon-calon menteri yang akan duduk dalam kabinet pemerintahan periode 2009-2014.
Tim penguji kesehatan calon menteri ditunjuk langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan Kepres RI Nomor 29/2009 tentang Pembentukan Tim Penilaian Kesehatan Calon Menteri.
Tim penguji kesehatan calon menteri berjumlah 45 orang terdiri atas 29 dokter pemeriksa dan 16 dokter pendukung. Dokter pendukung di antaranya berkedudukan sebagai ketua, wakil ketua, koordinator tim pemeriksa, koordinator tim pengamanan dan koordinator tim protokoler.
Dengan pemanggilan 14 orang calon menteri atau pejabat negara pada Minggu maka masih tersisa empat orang calon menteri yang belum dipanggil.
Presiden direncanakan akan mengumumkan secara resmi susunan KIB II pada Rabu (21/10) mendatang atau satu hari setelah pelantikan dirinya dan Boediono di Gedung MPR/DPR, Selasa (20/10). (iz/jon)

Published in: on Oktober 19, 2009 at 09:49  Komentar Dimatikan  
Tags:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.