OBYEK WISATA “Gurindam Dua Belas” dari Pulau Maskawin

Gurindam Dua Belas

Raja Ali Haji

Kompleks makam Kesultanan Riau Lingga di Pulau Maskawin atau Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Di kompleks ini dimakamkan pula Raja Ali Haji, penggubah Gurindam Dua Belas. Gurindam Dua Belas adalah sajak dua belas pasal (kuplet) yang mengandung petuah bijak atau nasihat.

Pulau Maskawin yang juga lazim disebut Pulau Penyengat merupakan pulau kecil di Kepulauan Riau. Tepatnya di sebelah barat Kota Tanjung Pinang yang ada di Pulau Bintan. Di pulau seluas 2 kilometer persegi itu setiap sudut jalan dihiasi Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.

Gurindam Dua Belas adalah sajak dua belas pasal (kuplet), karya Raja Ali Haji sastrawan dan Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau, yang mengandung petuah bijak atau nasihat. Raja Ali Haji pun ulama dan pujangga kelahiran 1808, yang meninggal pada usia 65 tahun, dan dimakamkan di Pulau Maskawin.

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 089/TK/2004, Raja Ali Haji ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bidang Bahasa Indonesia.

Untuk mencapai Pulau Maskawin, pengunjung harus melalui perjalanan laut dari Pelabuhan Sri Bintan Pura di Pulau Bintan dengan perahu motor yang disebut pompong. Lama perjalanan sekitar 15 menit dengan tarif Rp 20.000 per orang.

Pulau berpenduduk 1.000 jiwa itu disebut Maskawin karena merupakan maskawin Sultan Mahmudsyah, raja kedelapan Kesultanan Riau Lingga, saat ia mempersunting Engku Putri Raja Hamidah. Namun, tak ada catatan hari pernikahan mereka.

Selain dikenal sebagai Pulau Maskawin, masyarakat juga menyebutnya Pulau Penyengat. Ini karena dulu pernah beberapa nelayan yang hendak mengambil air tawar di pulau tersebut disengat lebah atau tawon.

Obyek wisata

Sesampai di Pulau Maskawin, belasan ojek sepeda motor beroda tiga biasanya sudah menunggu pelancong. Sewa bemor—demikian sebutan ojek itu—sekitar Rp 20.000 per jam.

Dengan luas yang 2 kilometer persegi itu, pelancong tak butuh banyak waktu untuk berkeliling. Begitu keluar dari pelabuhan, akan terlihat Masjid Sultan Riau atau Masjid Kuning, satu-satunya masjid di Pulau Maskawin yang didirikan tahun 1832. Konon, perekat batu bata pada bangunan masjid itu adalah putih telur ayam kampung.

Ada 17 menara besar dan kecil di kompleks masjid yang menunjukkan jumlah rakaat shalat lima waktu. Selain itu, di dalam masjid juga dipajang Al Quran, tulisan tangan Abdurrahman Stambul. Ia adalah penduduk asli Pulau Maskawin yang diminta pihak kerajaan untuk belajar agama ke Mesir. Tulisan tangan itu dibuat tahun 1867.

Menurut bilal (orang yang mengumandangkan azan saat waktu shalat tiba) masjid tersebut, Abdul Karim (80), Abdurrahman membuat tulisan itu di sela-sela mengajar ilmu agama kepada murid-muridnya. ”Sebenarnya ada tiga Al Quran yang ia tulis dengan tangan, tetapi dua di antaranya sudah lapuk dimakan usia,” ujarnya.

Jika melanjutkan perjalanan, sudut-sudut jalan dihiasi papan kayu berisi pasal-pasal Gurindam Dua Belas. Di persimpangan jalan di depan Masjid Kuning, misalnya, terpampang cuplikan pasal pertama Gurindam Dua Belas. Bunyinya seperti ini,

”Barang siapa tiada memegang agama/Segala-gala tiada boleh dibilang nama/Barang siapa mengenal yang empat/Maka yaitulah orang yang ma’rifat/Barang siapa mengenal Allah/Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah/Barang siapa mengenal diri/Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri/Barang siapa mengenal dunia/Tahulah ia barang yang terpedaya/Barang siapa mengenal akhirat/Tahulah ia dunia mudharat.”

Sekitar lima menit perjalanan bemor dari Masjid Kuning terdapat kompleks pemakaman pejabat Kesultanan Riau Lingga. Makam utama yang berada di kompleks ini adalah Engku Putri Raja Hamidah yang wafat pada 12 Juli 1844, Raja Ahmad (penasihat kerajaan), Raja Ali Haji (pujangga kerajaan), Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau Lingga IX dan permaisurinya, Raja Aisyah. Selain itu, ada juga puluhan makam keluarga kerajaan beserta pengikutnya.

Selain kompleks makam bersejarah, di Pulau Maskawin juga terdapat balai adat yang menjadi tempat pertemuan atau musyawarah pejabat kerajaan.

Pulau Maskawin bisa dibilang merupakan obyek wisata alternatif di Pulau Bintan. Meski demikian, tempatnya cukup mengasyikkan. (Aris Prasetyo)

Published in: on Agustus 13, 2010 at 03:38  Tinggalkan sebuah Komentar  

Idul Adha, Kurban dan Gizi Bangsa

Kamis, 26 November 2009 | 02:54 WIB

Oleh ALI KHOMSAN

Idul Adha adalah demonstrasi bentuk pengorbanan tiga pejuang sejati bagi umat manusia, yaitu Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar.

Ketaatan dan kesalehan Nabi Ibrahim dan Ismail terhadap ujian Allah sulit ditandingi peristiwa lain dalam sejarah peradaban manusia. Ujian ketauhidan dan pengorbanan terbesar dalam sejarah manusia tentu bukan hanya untuk dikagumi manusia.

Kurban membawa dampak bagi peningkatan asupan gizi masyarakat. Jutaan ternak disembelih agar masyarakat bisa merasakan nikmatnya makan daging. Persoalan gizi bangsa terkait kemiskinan. Orang miskin banyak yang kurang gizi. Berdasarkan riset Kesehatan Dasar (2007), prevalensi nasional gizi buruk anak bawah lima tahun adalah 5,4 persen dan gizi kurang 13,0 persen. Ini menunjukkan, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah untuk perbaikan gizi (prevalensi 20 persen) dan target MDGs (prevalensi 18,5 persen) telah terlampaui.

Meski demikian, kita jangan terkecoh data makro itu. Masih ada 19 provinsi yang memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang lebih tinggi daripada angka rata-rata nasional. Masih ada 10 kabupaten dengan prevalensi gizi buruk/kurang lebih dari 35 persen. Ini mengindikasikan, pekerjaan rumah jajaran kesehatan cukup berat untuk mengatasi gizi bangsa.

Dapat dikendalikan

Laju masalah gizi dapat dikendalikan jika angka kemiskinan dikurangi dan keadilan kian merata. Angka kemiskinan di Indonesia relatif telah berkurang meski krisis ekonomi satu dekade lalu benar-benar telah merontokkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kemiskinan akan kian sulit dieradikasi jika mental korup di kalangan birokrat tidak segera diluruskan.

Kini strategi food-based untuk mengatasi soal gizi kian mendapat perhatian. Disadari, pangan hewani asal ternak umumnya mahal karena itu jarang diakses masyarakat miskin yang rawan gizi. Hari raya Kurban merupakan saat berpesta bagi mereka karena ketersediaan pangan asal ternak melimpah.

Namun, ini hanya berlangsung sesaat. Setelah itu, mereka akan kembali kesulitan mengakses pangan asal ternak. Tanpa strategi pengentasan kemiskinan yang jitu, maka seumur-umur masyarakat miskin akan tetap rendah konsumsi pangan hewaninya.

Di banyak negara, pemecahan masalah gizi sering tidak menjadi prioritas pembangunan. Hal ini disebabkan dua hal.

Pertama, masalah gizi dipandang dengan kacamata subsektor dalam perspektif yang terlalu sempit. Gizi hanya bagian kecil sektor kesehatan yang luas. Masalah gizi sebenarnya bukan sekadar isu kesehatan. Karena itu, nutrisionis dituntut mampu bekerja sama dengan sektor lain. Mereka harus paham dengan masalah pembangunan ekonomi, mampu bekerja sama dengan sektor swasta, bisa mengenali kesempatan untuk memasukkan gizi sebagai kurikulum pendidikan, dan mengetahui aneka program pengentasan kemiskinan.

Kedua, mengapa gizi tidak mendapat prioritas? Karena kegagalan untuk menjadikan gizi sebagai isu politik. Secara de facto perlu ada komitmen dari birokrat dan politisi sehingga pembiayaan program-program pembangunan di bidang gizi mempunyai nilai yang signifikan dan dijamin keberlanjutannya.

Nilai kebersamaan

Kita harus membangun konstituen di tingkat rakyat bawah yang mampu memengaruhi para politisi untuk meluncurkan program gizi yang sifatnya community-based. Dengan demikian, di tingkat masyarakat ada kesiapan untuk melaksanakan program gizi yang efektif, sebaliknya di tingkat politisi dan birokrat ada kemauan untuk mendanai program gizi yang berskala luas.

Kelestarian suatu program akan menjamin pemecahan masalah. Kelestarian dapat dipertahankan jika semua stakeholders mempunyai rasa memiliki terhadap suatu program. Untuk program gizi, yang dimaksud dengan stakeholders adalah masyarakat, pemimpin informal, pemerintah, kalangan legislatif, LSM, dan sektor swasta.

Idul Adha menjadi peristiwa penting agar kita menghayati nilai-nilai kebersamaan, memerhatikan kemiskinan di sekitar kita, dan terbangkitkan rasa sosialnya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Konsumsi daging kurban selama sehari mungkin tak berdampak signifikan untuk perbaikan gizi. Namun, yang lebih penting, agar kita jangan pernah kekenyangan sementara ada tetangga kelaparan. Tanggung jawab sosial bagi yang lebih mampu adalah menolong mereka yang miskin agar dapat memenuhi kebutuhan hidup paling dasar, pangan berkualitas dan cukup jumlahnya.

Ali Khomsan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB

Published in: on November 26, 2009 at 10:05  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , ,

Katakan Cinta Dengan Islam

Bulan Februari adalah bulan cinta. Ya, pada bulan inilah, setiap orang berusaha untuk menyatakan dan mengaktualisasikan cintanya. Walaupun sebagian orang ada yang menyatakan bahwa cinta dan kasih sayang bukan hanya untuk satu bulan tertentu, toh kemeriahan orang untuk menyatakan cinta pada bulan merah jambu ini tidak pernah berkurang, malah selalu semakin variatif dan semakin jauh dari aturan. Usaha seseorang untuk menyatakan cinta pada pasangan, atau untuk menyatakan satu kata, “be my valentine” terasa makin konyol dan menggelikan karena dilakukan dengan cara-cara yang semakin tidak masuk akal. Nah, kali ini kita juga akan membicarakan permasalahan ini, tapi bukan berarti kita latah pada kondisi yang seperti ini, tapi agar kita lebih waspada lagi, karena jangan-jangan kita adalah orang yang dengan dalih cinta ternyata hanya mengumbar nafsu, karena kita tidak tahu hakikat cinta dan mencintai.

Hakikat Cinta

Cinta itu sudah built in ada pada setiap orang yang lahir dimuka bumi, sehingga tidak heran setiap ibu akan sepenuh hati mencintai anaknya. Jadi, cinta itu memang karunia dari Sang Maha Pencipta. Menginjak Usia agak dewasa, manusia mulai suka terhadap lawan jenisnya. Hal ini juga wajar terjadi, karena memang penampakan cinta yang telah diberikan Allah tadi, salah satunya adalah menyukai lawan jenis kita, pada batas yang wajar tentu saja. Sehingga cinta adalah sesuatu yang alami, dan bukan sesuatu yang terlarang, apalagi sampai harus dimusnahkan dari muka bumi. Tetapi harus disyukuri, karena dengan cinta segalanya akan terasa lebih indah.

Yang jadi masalah adalah, seberapa jauh seseorang paham akan hakikat cinta yang sebenarnya? Banyak orang yang mempersempit makna cinta yang amat luas pada hubungan dua manusia berlainan jenis. Rasanya lebih banyak orang pula yang berpendapat bahwa cinta adalah masalah perasaan antara dua orang yang saling menyukai, dengan berbagai embel-embel pembuktian berkedok cinta. Makna cinta yang seperti ini sudah terlalu jauh dari makna cinta yang sebenarnya, karena hakikat cinta adalah suci, dan bukan tempat untuk berbuat seenaknya, apalagi membawa nama cinta untuk menghalalkan aktivitas yang menodai cinta itu sendiri. Al Baidhawi menyatakan bahwa cinta adalah keinginan sesorang untuk taat. Setiap orang yang mencintai sesuatu, pastinya ingin supaya yang dicintainya itu dapat ia jaga dengan sepenuh hati. Jangankan lecet, berdebu saja kalau bisa jangan sampai, karena itu kita berusaha untuk melindungi dan memberikan yang terbaik, serta tidak akan berbuat sesuatu yang akan menyebabkan sesuatu yang kita cintai itu rusak atau berkurang keindahannya. Begitu juga dalam hal saling mencintai antar sesama manusia, kalau kita benar-benar mencintai seseorang kita pasti akan selalu menjaga kehormatan dan perasaaannya. Kita tidak akan berusaha untuk menyakiti, namun akan selalu menjaga hubungan kita, agar cinta kita berbalas dan berbuah manis. Hal ini hanya akan didapat dengan menjadikan cinta berjalan sesuai dengan aturan Sang Pecipta cinta itu sendiri, yaitu Allah swt. Sehingga cinta tidak menjadi pembenaran terhadap aktivitas yang sebenarnya malah dilarang oleh Sang Pencipta cinta, yaitu pelampiasan hawa nafsu.

Salah satu yang menunjukkan cinta telah mengalami disorientasi adalah anggapan bahwa kalau kita cinta dan suka pada seseorang, maka ia harus menjadi pacar kita. Disinilah letak permasalahannya. Kalau kita tilik aktivitas pacaran paling mutakhir, maka gambaran pacaran saat ini sudah sangat kelewat batas, bukan hanya sebatas berkirim surat (atau kalau sekarang via sms atau e-mail). Setiap aktivitas pacaran pasti dibumbui dengan aktivitas yang tidak jauh dari pengumbaran nafsu. Pegang tangan, ciuman, meraba, bahkan sampai melakukan aktivitas seksual dengan pacar yang nota bene belum sah di mata aturan manapun. Hal itu seakan dianggap wajar sebagai bukti bahwa mereka saling mencintai. Pacaran sudah cenderung diartikan sebagai pergaulan bebas antara dua orang manusia, dimana dalam pacaran sudah tidak ada lagi batas-batas yang mesti diperhatikan. Yang penting, sudah sama-sama cinta. Di sisi lain, masyarakat cenderung untuk permisif dan mengijinkan bila remaja mereka dengan pacar-pacar mereka. Bahkan para remaja ini akan dianggap memiliki “kelainan” jika sampai dengan umur “siap pacaran” belum punya gandengan. Sehingga wajar apabila pemandangan di sekitar kita akan dipenuhi dengan pasangan-pasangan yang mengobral kemesraan didepan umum, tanpa harus malu dan memilih dimana mereka layak untuk bermesraan, padahal mereka “hanya” pacaran. Mengguritanya aktivitas ini dikalangan remaja juga didukung degan adanya berbagai mitos seputar pacaran, yang secara tidak langsung turut andil dalam proses “legalisasi” pacaran.

Mitos Keliru Seputar Pacaran

Seiring dengan semakin berkembangnya aktivitas pacaran, muncul berbagai mitos yang menyertai aktivitas ini. kebanyakan mitos-mitos yang beredar adalah mitos yang salah, namun kebanyakan para aktivis pacaran tidak menyadarinya. Beberapa mitos tersebut diantaranya:

1. Dengan pacaran kita akan tambah rajin, berprestasi dan bersemangat.

Karena pacar ditempatkan sebagai motivator. Yang terjadi seringkali adalah sebaliknya. Waktu, pikiran, konsentrasi bahkan materi, justru akan banyak terkuras kepada pacar. Boro-boro produktif, yang terjadi adalah semakin terbenam dalam angan, khayalan serta kesenangan semu. Kalaupun toh pacaran bisa membuat orang lebih produktif, maka percayalah bahwa itu adalah motivasi yang salah. Kenapa? Karena itu hanya merupakan motivasi yang temporer. Kalau sedang bad mood atau bermasalah dengan pacar, maka buyar jugalah produktivitasnya. Motivasi yang seharusnya dimiliki seorang muslim adalah motivasi yang muncul dari keimanan. Inilah yang telah dibuktikan oleh para sahabat Nabi saw. Dengan motivasi keimanan, mereka menjadi pribadi rajin, bersemangat dan berprestasi.

2. Pacaran Membuat Kita Menjadi Lebih Baik

Sebagian dari kita menganggap pacaran adalah salah satu proses kehidupan yang harus dijalani dalam rangka pendewasaan diri. Dengan berpacaran, kita akan lebih peka terhadap orang lain serta membuat kita manjadi lebih baik karena kita sudah diperhatikan oleh orang lain sehingga secara tidak langsung kita akan memperhatikan penampilan kita. Mitos inipun tidak sepenuhnya dapat dipertanggung jawabkan. Dalam menjalani proses pacaran, kita didewasakan secara prematur, karena kita tidak pernah menghadapi dunia yang sebenarnya. Pacaran lebih berorientasi pada kesenangan bukan sebuah upaya untuk mengenali kehidupan riil yang akan kita hadapi dimasa yang akan datang. Padahal, kedewasaan ditunjukkan dari kemampuan seseorang untuk membedakan yang benar dan yang salah.

3. Pacaran akan melanggengkan pernikahan

Bila ada yang mengatakan bahwa dengan berpacaran terlebih dahulu, dan ada upaya saling mengenal pribadi masing-masing, maka saat mereka memasuki jenjang pernikahan, keluarga yang mereka bentuk akan lebih langgeng daripada pasangan yang tidak pacaran telebih dahulu, maka mereka perlu melihat lebih banyak fakta yang ada disekitarnya. Menurut fakta, tidak semua pasangan yang mengawali langkah pernikahan mereka dengan pacaran, akan hidup langgeng. Bahkan banyak pasangan yang telah bertahun-tahun pacaran, namun saat menikah, pernikahannya hanya seumur jagung. Usia keluarganya tidak lebih lama dari usia pacarannya, dan sebaliknya banyak orang yang menikah tanpa proses pacaran dapat mengecap kebahagiaan dalam kehidupan berkeluarganya. Kenapa? Karena dalam proses pacaran, kita hanya akan menonjolkan sifat baik kita tanpa ingin sifat buruk kita diketahui oleh pasangan, penuh dengan kepura-puraan. Keterbukaan akan sulit diperoleh dari dua orang yang berpacaran, sehingga pada saat mereka menikah, dan mengetahui sifat sebenarnya dari pasangan, timbul kekecewaan yang tidak jarang berujung pada perceraian. Berbeda dengan proses menuju pernikahan, yang diharuskan menunjukkan kelebihan serta kekurangan masing-masing pihak agar tidak terjadi penyesalan dari salah satu atau kedua belah pihak di kemudian hari.

Pandangan Kita

Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi permasalahan pacaran dan pergaulan remaja da pemuda saat ini? sebelum kesana, marilah kita tentukan akan dari mana kita memandang dua permasalahan tadi. Sebagai manusia yang telah dikaruniai akal yang begitu hebat, pastilah kita menginginkan sesuatu yang terbaik. Termasuk dalam hal sudut pandang untuk menilai sesuatu, kita tentu ingin menggunakan sudut pandang terbaik. Bila kita mencari yang terbaik, maka pilihan kita tentulah tidak akan jatuh kepada pandangan seseorang, seberapapun pakarnya dia. Karena pandangannya akan tetap memiliki unsur subyektivitas, yang akan menguntungkan dirinya. Yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi kita adalah sesuatu yang paling tahu tentang diri kita, yaitu pencipta kita. Ya, yang paling tahu tentang yang terbaik bagi kita adalah Allah Tuhan semesta alam. Untuk mengetahui mengenai hal-hal terbaik tersebut, Allah telah menurunkan aturan untuk mengikat manusia dalam sifat maha kasih dan maha sayang-Nya. Aturan-aturan tersebut telah termaktub dalam kitab suci Al Qur’an yang senantiasa menjadi pedoman hidup manusia, serta dari contoh-contoh yang telah diberikan oleh Rasulullah. Jadi, kacamata terbaik untuk memandang masalah ini adalah menggunakan kacamata Islam.

Bila kita telah sepakat untuk menggunakan sudut pandang Islam, kita tinggal melihat bagaimana Islam memandang permasalahan pergaulan dan permasalahan pacaran. Dalam permasalahan pacaran, setidaknya ada 3 aktivitas utama yang selalu menyertai proses pacaran. Yang pertama adalah adanya proses memandang. Sebuah syair mengatakan, dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Inilah proses paling awal dari proses-proses yang akan terjadi selanjutnya, yaitu saling menyukai dari pandangan. Yang kedua adalah proses untuk menjalin ikatan atas nama cinta, sedangkan yang ketiga adalah proses pembuktian cinta. Mari kita kaji satu persatu permasalahan diatas. Dimulai dari proses saling memandang. Dalam Islam, proses memandang lawan jenis diatur secara tegas, yaitu kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan kita. Hal ini berarti kita tidak diperbolehkan untuk memandang lawan jenis kita dengan pandangan yang “bersemangat” dan penuh “kekaguman” (baca: syahwat). Rasul hanya memperbolehkan kita mengikuti pandangan yang pertama, sedangkan pandangan selanjutnya adalah haram. Tidak mungkin prinsip ini dipatuhi oleh orang yang sedang mencari pacar, karena dalam proses ini mata harus senantiasa waspada untuk menangkap setiap image bening yang melintas di depan mata. Artinya, pandangan kita ini menjadi sesuatu yang haram, yang secara otomatis mengharamkan pula aktivitas pertama dalam pacaran, yaitu saling memandang karena pasti disertai dengan syahwat.

Allah swt berfirman: “Katakanlah kepada laki-laki yang mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Sikap demikian adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita Mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (TQS. An Nur [24]: 30-31).

Proses dan aktivitas yang kedua yaitu penjalinan ikatan antara dua orang yang pacaran. Dalam hal ini Islam telah mengatur bahwa antara seorang pria dan wanita tidak boleh ada ikatan antara keduanya, kecuali ikatan khitbah (lamaran) dan ikatan pernikahan. Pacaran tidak pernah masuk dalam pembahasan, dan tidak termasuk salah satu dari kedua ikatan yang diperbolehkan tersebut. Ini manandakan bahwa pacaran adalah ikatan tidak resmi -bahkan cenderung tanpa ikatan- sehingga ikatan ini adalah ikatan yang salah dan mengada-ada. Sedangkan melihat proses yang ketiga yaitu pembuktian cinta, maka seperti yang telah disampaikan di awal, aktivitas pacaran mutakhir tidak hanya cukup dibuktikan dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata. Dua orang yang pacaran tidak merasa puas dan cukup hanya dengan saling mengatakan kata-kata cinta. Proses pembuktian cinta ini telah menjelma menjadi sebuah proses lahiriyah yang mengandalkan aktivitas fisik. Dari mulai aktivitas ringan seperti ngobrol berduaan, bergandengan tangan, aktivitas sedang seperti berciuman dan berpelukan, sampai hubungan seksual. Bagaimana Islam memandang aktivitas ini?

Ibn Abbas menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulluh saw. berkutbah sebagai berikut: “Janganlah sekali-kali seorang pria berkholwat (bersepi-sepi/berdua-duaan) dengan seorang wanita kecuali jika wanita itu disertai seorang mahramnya. Tidak boleh pula seorang wanita melakukan perjalanan kecuali disertai mahramnya.” Tiba-tiba salah seorang sahabat berdiri dan berkata: ”Wahai Rasulullah saw, sesungguhnya istriku hendak pergi menunaikan ibadah haji, sedangkan aku merencanakan pergi ke peperangan ini dan peperangan itu.“ Rasulullah saw menjawab: “Pergilah engkau menunaikan ibadah haji beserta istrimu.”

Dengan demikian semua aktivitas tersebut diharamkan oleh Islam. Jadi jelas, dari beberapa hal yang telah dikemukakan, aktivitas pacaran adalah haram berdasarkan hukum Islam, tidak ada karaguan lagi tentang permasalahan ini. Lantas bagaimana? Karena Islam tidak menafikan adanya perasaan cinta pada diri manusia, maka Islam juga mengajarkan bagaimana mengaktualisasikannya. Apabila cinta itu ditujukan ke lawan jenis, maka Islam telah menunjukkan jalan yang penuh kemuliaan, yaitu pernikahan. Apabila belum siap, maka persiapkanlah dan jangan coba-coba mendekati wilayah yang bisa memicu tegangan tinggi.

Akar Masalah

Bila permasalahan pacaran telah begitu gamblang dijelaskan hukum-hukumnya dalam Islam, mengapa masih banyak pihak yang melakukan aktivitas ini? Nah, inilah masalah utamanya. Saat ini, agama (Islam) menjadi sesuatu yang seakan-akan jauh dari kaum muslim sendiri. Jauhnya mereka dari agama disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurangnya proses penanaman pemahaman Islam di tengah masyarakat serta serbuan kebudayaan asing yang begitu gencar.

Faktor yang pertama, yaitu kurangnya proses penanaman pemahaman Islam di tengah masyarakat dapat kita rasakan langsung misalnya dengan sedikitnya porsi pelajaran agama di bangku sekolah. Hanya dalam 2 jam pelajaran. Materi yang diajarkanpun bersifat parsial dan tidak menyeluruh. Seringkali hanya berkutat pada permasalahan thaharah (bersuci), shalat, puasa, haji, waris dan nikah, tanpa pernah menyentuh pada tataran bagaimana Islam mengatur bidang-bidang kehidupan yang lain seperti permasalahan ekonomi, politik, pendidikan ataupun pergaulan. Sangat wajar bila ini terjadi, karena sampai saat ini pemerintah kita masih gandrung dengan yang namanya sekulerisme-kapitalisme. Pemerintah berusaha mendikotomikan dunia pendidikan, sehingga wajar output yang dihasilkanpun tidak pernah dapat memenuhi syarat, yaitu lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis iman dan takwa. Inilah inti sekulerisasi dunia pendidikan, ilmu pengetahuan harus dipisahkan dari agama. Di sisi lain, tatanan masyarakat yang terimplementasikan dalam bentuk aturan dan nilai yang berkembang di masyarakat juga sangat “mendukung” pemisahan agama dari kehidupan.

Kondisi ini diperparah dengan gencarnya serbuan kebudayaan asing masuk ke otak-otak remaja dan pemuda kita. Setiap saat di setiap media selalu menyuguhkan sajian yang sarat akan nilai asing yang bersumber pada kapitalisme. Tontonan-tontonan tak berkualitas silih berganti mengisi layar kaca, yang saat ini telah menjelma menjadi guru dan teladan baru. Remaja dan pemuda kita disuguhi dengan bermacam trend berpakaian, budaya hedonistik dan serba mudah, serta kebahagiaan semu yang berbasis materi. Ide tentang kebebasan menjadi ide yang diagungkan. Mereka seakan tak bisa menghindar lagi, dan hanya bisa pasrah menerima keadaan, sembari “menikmati” kebebasan. Akhirnya mereka menjadi generasi-generasi yang terbaratkan, yang menjadikan barat baik Eropa maupun Amerika sebagai kiblat untuk segala hal, mulai dari pakaian, makanan, kebudayaan, sampai dengan gaya hidup.

Padahal Allah swt telah mengingatkan kita dalam firman-Nya: “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, “Sesungguhnya oetunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).” Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.” (TQS. Al Baqarah : 120).

Dengan demikian, perlu upaya yang komprehensif dan terus-menerus untuk menangkal dan melawan serbuan budaya asing tersebut. Adanya pribadi-pribadi bertaqwa, kontrol masyarakat yang kuat, serta negara yang secara kaffah menerapkan Islam, menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.

Agar Tidak Terjebak

Rekan-rekan sekalian begitulah gambaran singkat mengenai hakikat cinta dan pemasalahan seputar cinta serta pergaulan remaja-pemuda masa kini. Semoga risalah ringkas ini dapat menjelaskan secara utuh serta memberikan panduan bertindak kita agar kita tidak terjebak dalam aktivitas cinta palsu yang malah menodai cinta suci kita. Agar tak terjebak, marilah kita senantiasa menambah ilmu-ilmu keislaman kita melalui buku-buku, kajian-kajian atau melalui diskusi-diskusi interaktif seputar keislaman. Untuk memperbaiki keadaaan secara keseluruhan diperlukan upaya sistematis dan perubahan sistemik pula, karena hanya dengan perubahan mendasar, maka seluruh paradigma yang salah dapat diubah. Dengan Islam kita bangkit, karena Islam punya solusi. Wallahu a’lam bish shawab.

Published in: on Oktober 31, 2009 at 09:25  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.