Mer-C Khawatir Sampel Darah untuk Senjata Biologi

JAKARTA – Mer-C menyayangkan tindakan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih yang pernah mengambil sampel darah sejumlah warga Sukabumi, saat dirinya memimpin Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Puslitbangkes) Biomedik dan Faramasi pada 2005.

Menurut Presidium Mer-C Jose Rizal Jurnalis, tindakan Endang ini sangat berbahaya dan jika dibiarkan maka akan memberi dampak buruk bagi bangsa.

“Sampel darah ini dibilang terkait penelitian virus, untuk nantinya dibuat vaksin. Tapi ini ditakutkan juga bisa dijadikan senjata biologi,” ujar Jose saat dihubungi okezone, Rabu (28/10/2009).

Dia menambahkan, kedekatan Endang dengan Naval Medical Reseach Unit (Namru) amat mengkhawatirkan. Meskipun kini Namru diganti dengan Indonesia Usaid Center for Biomedical and Public Health Center (IUC), dan diubah juga peruntukannya dari TNI AL menjadi sipil.

“Yang kita persoalkan bukan sipil atau tidaknya tapi kalau penelitian tidak transparan, tidak bisa kita terima. Karena persoalan vaksin ini bukan seperti sekadar mengekspor tempe, tapi vaksin ini amat berguna di dunia militer,” tandas dia.

Seperti diketahui, sekelompok warga Sukabumi yang mengatasnamakan Peternak Rakyat Sukabumi mengadukan Endang ke DPR.

Mereka mengadukan kasus pengambilan sampel darah mereka yang diambil oleh tim yang mengaku dari Puslitbangkes Biomedik dan Farmasi yang saat itu dipimpin Endang.

Sampel darah diambil dari 300 orang yang tergabung dalam Kelompok Peternak Rakyat Ayam Kampung Sukabumi (Kepraks) di tiga kecamatan yang berada di Kabupaten Sukabumi yakni Cicurug, Cikembar, dan Kebon Pedes. Masing-masing diambil darahnya sebanyak 20 cc, jumlah yang tergolong sangat banyak untuk sampel darah manusia.

Berulangkali para anggota Kepraks meminta jawaban atas hasil pemeriksaan sampel darah kepada lembaga yang dipimpin Endang. Namun, hal tersebut tidak membuahkan hasil. Keresahan para peternakan semakin menjadi, setelah adanya informasi dari salah seorang pejabat Puslitbang Bio Medis dan Farmasi yang menyebutkan sampel darah telah dibawa hingga ke Atlanta, Amerika Serikat.

Published in: on Oktober 28, 2009 at 05:37  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , , , ,

PERUBAHAN IKLIM; Pulau Tenggelam, Kedaulatan Teritorial Utuh

Kamis, 22 Oktober 2009 | 03:39 WIB

Jakarta, Kompas – Tenggelamnya pulau-pulau kecil terluar akibat kenaikan muka laut tidak akan menghilangkan kedaulatan teritorial negara. Titik pangkal terluar, yang menjadi patokan penarikan garis kedaulatan wilayah, tetap diakui global.

Posisi titik pangkal terluar di pulau terluar berada di bawah permukaan laut rata-rata. Sesuai dengan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982, titik itu batas tinggi kering saat air surut terendah, yang siklusnya berulang setiap 18,6 tahun.

”Kalau ada pulau tenggelam, negara akan kehilangan wilayah darat. Namun, tidak wilayah lautnya,” kata pakar hukum laut internasional Hasjim Djalal dalam diskusi kelautan yang diadakan kelompok pencinta alam Wanadri dan Rumah Nusantara di kantor Redaksi Kompas, Jakarta, Rabu (21/10). Sejumlah tokoh hadir, di antaranya, adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Sarwono Kusumaatmadja, Panglima Komando Lintas Laut Militer Laksamana Muda Marsetio, dan Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah Bakosurtanal Sobar Sutisna.

Pernyataan Hasjim menjawab kekhawatiran dan salah pengertian, termasuk kalangan birokrat, mengenai potensi menciutnya wilayah Indonesia menyusul perkiraan tenggelamnya 2.000 hingga 3.000 pulau akibat kenaikan muka laut dampak pemanasan global. ”Secara hukum, wilayah Indonesia tak akan berubah. Kecuali, negara menjual pulau miliknya,” kata dia.

Menurut Sobar, Indonesia memiliki 193 titik pangkal tempat menarik garis batas terluar kepulauan Indonesia, yang memiliki 92 pulau terluar. Seluruh data titik pangkal dan pulau terluar tersebut sudah didaftarkan kepada Sekretariat PBB.

”Hingga kini tidak ada keberatan dari negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia,” kata dia. Pendaftaran ke PBB sangat penting, mengantisipasi sengketa perbatasan yang mungkin muncul.

Efektifkan pengawasan

Menurut Hasjim, daripada khawatir kedaulatan negara berkurang, pemerintah lebih baik mengefektifkan pengawasan di laut dan pulau terluar. ”Kunjungi berkala, masukan dalam administrasi daerah, dan lakukan aktivitas pengamanan,” kata dia.

Pengawasan efektif, selain layak dilakukan, juga berefek global. ”Lakukan sesuatu, sebelum perkara muncul,” kata dia.

Dikatakan Laksamana Muda Marsetio, TNI AL terus meningkatkan patroli rutin di kawasan perbatasan. Salah satu kasus terpanas adalah sengketa Blok Ambalat, yang melibatkan angkatan bersenjata kedua pihak.

TNI AL juga melayani keberatan negara lain yang disampaikan lewat nota diplomatik.

Diskusi juga menyampaikan hasil dan rencana Ekspedisi Pulau Terdepan oleh Wanadri dan Rumah Nusantara. Dari 92 pulau terluar, mereka sudah mengunjungi 64 pulau dan menghasilkan dua buku.

”Kami akan lanjutkan sisa 28 pulau pada akhir bulan ini,” kata Ketua Bidang Eksternal Tim Ekspedisi Ipong Witono. (GSA)

Published in: on Oktober 22, 2009 at 10:29  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Anissa Trihapsari: Pertama dan Terakhir

Ada yang beda dari penampilan Sultan Djorgi. Di ajang KFC Junior Rally Championship, Ahad pekan lalu, artis yang juga pembalap ini tak mengajak Ade Ramadhan, yang biasa mendampinginya sebagai navigator. Ia ditemani navigator anyar, Annisa Trihapsari, yang juga istrinya.

Ada yang beda dari penampilan Sultan Djorgi. Di ajang KFC Junior Rally Championship, Ahad pekan lalu, artis yang juga pembalap ini tak mengajak Ade Ramadhan, yang biasa mendampinginya sebagai navigator. Ia ditemani navigator anyar, Annisa Trihapsari, yang juga istrinya.

”Ini pertama kali, tapi lumayan, nggak ada masalah,” kata Sultan. Keduanya memang tampil kompak. Tak ada ketegangan di wajah Annisa maupun Sultan saat melaju di atas mobil Honda New Jazz warna silver metalic-nya. Penuh percaya diri, keduanya melibas 20 special stage sepanjang hampir 100 kilometer lintasan berdebu di Dawuan, Cikampek, Jawa Barat.

Entah karena sudah sehati atau lantaran kepiawaian Sultan, pasangan suami-istri ini mampu bersaing dengan pembalap lain. Mereka berhasil menduduki posisi kelima dari 17 peserta reli grup 2WD di seri kedua. ”Padahal, kami cuma ingin have fun aja, kok,” ujar Sultan. ”Dan, yang penting, selamat sampai finis,” kata Anissa kepada Hendri Firzani dari Gatra.

Sayang, penampilan mereka menjadi yang terakhir di ajang reli. Untuk seri berikutnya, Sultan bakal kembali memakai Ade Ramadhan sebagai navigator. ”Biar lebih serius,” tutur Annisa. Memangnya sebelumnya nggak serius?

Ilham ”Obama” Anas: Tawaran Film dari Amerika
Ilham Anas pernah merasa rendah diri karena keadaan fisik dan warna kulitnya. Tapi, setelah Barack Hussein Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, Ilham mensyukuri pemberian Tuhan itu. Tampilan fisik Ilham yang mirip Obama membuat pria yang kini bekerja sebagai fotografer di majalah remaja itu kebanjiran rezeki.

”Kalau kita berbaik sangka pada apa yang kita miliki, rezeki akan datang,” kata Ilham kepada Sandika Prihatnala dari Gatra. Rezeki datang dalam bentuk tawaran memerankan tokoh Obama dalam program televisi, iklan, sampai program off air. Selesai bikin iklan produk obat di Filipina, Ilham ditawari jadi bintang tamu di salah satu program televisi di Singapura.

Lalu ada lagi tawaran dari Cina. ”Kemungkinan untuk iklan,” kata mahasiswa Jurusan Fotografi, Institut Kesenian Jakarta, itu. Belakangan, Ilham juga ditawari salah satu perusahaan film Amerika Serikat untuk membintangi sebuah film. Hanya saja, sampai sekarang belum ada tindak lanjut dari tawaran itu.

Jadi, Ilham belum tahu peran apa yang ditawarkan dan apa genre film itu nanti. ”Kalau sudah jelas tawarannya, baru nanti mereka kasihtahu,” katanya. Okelah, Mister Obama, eh, Mas Ilham.

Iko Uwais: Tunggu Giliran Ikon Pendekar

Tidak lama lagi, dunia perfilman Tanah Air akan kedatangan aktor laga baru. Sebagaimana Barry Prima, Willy Dozan, dan Advent Bangun, pemuda bernama Iko Uwais ini punya latar belakang sebagai atlet sebelum terjun membintangi film berjudul Merantau.

Iko, 26 tahun, berpeluang untuk mendapatkan perhatian, mengingat film Merantau besutan sutradara asal Inggris, Gereth Huw Evans, mempertontonkan kemasan adegan bela diri yang relatif ”berbeda” dibandingkan dengan film-film nasional berjenis laga lainnya. Lebih modern, cukup detail, dan tanpa kamus cahaya-cahaya terlontar dari tangan.

”Saya berlatih silat harimau selama enam bulan untuk koreografi film itu,” kata Iko kepada Bambang Sulistiyo dari Gatra. Dalam sebuah acara promosi film yang rencananya diputar di bioskop pada 6 Agustus mendatang itu, di Gedung F kompleks FISIP-UI, Depok, akhir pekan lalu, Iko memperagakan kaidah gerak silat harimau cukup mengesankan.

Iko mengaku tidak kesulitan mempelajari khazanah gerak silat harimau yang berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Padahal, ia lahir dan besar di Jakarta dan kini tercatat sebagai atlet pencak silat DKI Jakarta. ”Sejak 1998 sampai sekarang, saya aktif di Perguruan Tiga Berantai,” ujar pengagum Jackie Chan dan Barry Prima ini.

Dengan tampang oke dan kemampuan bela diri memenuhi syarat-syarat ”kependekaran” di layar lebar, Iko tinggal menunggu giliran untuk menjadi ikon aktor laga di perfilman Indonesia. ”Ah, saya baru mulai, Mas,” katanya, antara merendah dan malu-malu.

Gilang Ramadhan: Musik untuk Para Tunarungu
Musik harus dapat dirasakan semua orang. Begitu menurut drummer Gilang Ramadhan kepada Birny Birdieni dari Gatra. ”Saya akan mencoba semaksimal mungkin untuk membantu semua manusia bisa merasakan dan bermain musik,” kata suami aktris dan presenter Shahnaz Haque ini.

Karena itu, satu tahun belakangan, pria kelahiran 30 Mei 1963 ini mencoba mewujudkan keinginannya, membantu penderita tunarungu agar dapat menikmati dan memainkan musik. Prinsipnya, meski tidak dapat mendengar, seorang penderita tunarungu bisa merasakan entakan. “Untuk itu, saya sedang mengembangkan alat agar mereka bisa merasakan rhythm,” ucapnya.

Gilang belum mau menjelaskan detail pola kerja alat tersebut. Yang pasti, kerja alat itu seperti subwoofer. “Ketika duduk di belakang mobil yang di sana tersimpan sebuah speaker besar, kita dapat merasakan getaran dan ketukan lewat dentaman suara musik yang keluar dari situ,” ia menjelaskan.

Pengembangan alat itu masih dalam tahap observasi. Observasi ini dilakukan di Solo karena permintaan sebuah yayasan tunarungu yang ingin mengajarkan musik kepada para penghuninya. Lewat proyek itu, Gilang berusaha meluruskan obsesinya untuk memanfaatkan musik sebagai terapi penyembuhan penyakit.

“Saya senang bisa membantu orang dengan musik,” kata Gilang. Bermain musik, dalam hal ini drum, menurut dia, memiliki banyak keuntungan karena pola kerjanya bisa membuat semua indra bekerja. Bahkan bermain drum menjadi terapi bagi orang yang kena stroke, autis, dan penderita down syndrom.

Published in: on Juni 15, 2009 at 03:23  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.