Jejak Sejarah Prabu Siliwangi

Posted on

Prasasti Batutulis dibuat pada tahun 1533 Masehi oleh Raja Surawisesa (1521-1535 M). Kini kompleks Prasasti Batutulis itu tak hanya dikenal sebagai tempat wisata sejarah kuno.

Dari luar tampak seperti bangunan rumah penduduk. Berpagar besi dan tumbuh beberapa pohon hias di pelatarannya. Sekilas tak ada yang istimewa dari bangunan seluas 7×7 meter itu. Tapi, setelah melihat langsung ke dalam bangunan tersebut, ternyata terdapat prasasti kuno. Yakni Prasasti Batutulis. Itulah benda purbakala peninggalan kerajaan Sunda Pajajaran. Situs bersejarah ini berada di bilangan Jalan Batutulis, Kota Bogor, Jawa Barat.

Prasasti Batutulis dibuat pada tahun 1533 Masehi oleh Raja Surawisesa (1521-1535 M). Prabu Surawisesa tak lain putra dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang memerintah pada tahun 1482-1521 Masehi. Pembuatan prasasti itu bertujuan untuk mengenang karya dan kebesaran Prabu Siliwangi yang memiliki dua gelar. Bukti kebesaran itu terukir rapi lewat tulisan huruf Sunda kawi kelir putih di badan batu tersebut.

Batu prasasti itu berupa batu trasit kelir hitam. Bentuknya kerucut, dengan puncak terpancung dan berkaki lekuk-lekuk. Tingginya sekitar 151 sentimeter dan lebar bagian dasar 145 sentimeter. Ketebalannya antara 12-14 sentimeter. Selain Prasasti Batutulis, di kompleks situs purbakala yang memiliki lahan 17 x 15 meter itu terdapat batu kuno lainnya. Antara lain, batu tapak atau padatala (bekas telapak kaki Prabu Surawisesa).

Lalu, yang masih berdekatan dengan Prasasti Batutulis berupa meja batu, bekas tempat sesajian di setiap perayaan kerajaan. Ada pula sandaran tahta bagi raja yang dilantik. Kemudian batu Lilingga, lambang kesuburan, yang terletak di sebelah kiri Prasasti Batutulis. Sedangkan satu batu bernama Gigilang telah diambil tentara Banten saat menyerang Pajajaran. Batu itu sebagai tempat duduk upacara penobatan raja Pajajaran. Diambilnya batu Gigilang itu bermakna politis, bahwa tidak akan ada lagi penobatan raja di Pajajaran.

Kini kompleks Prasasti Batutulis itu tak hanya dikenal sebagai tempat wisata sejarah kuno. Tapi dijadikan pula sebagai lokasi ziarah spiritual oleh sebagian masyarakat. Mereka datang dari dalam dan luar kota Bogor. “Orang ke sini (Prasasti Batutulis) ada yang sekadar untuk wisata sejarah dan ada juga yang diniatkan untuk ziarah,” kata Maemunah, 78 tahun, juru kunci generasi kesembilan di kompleks purbakala itu.

Deni Muliya Barus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s